Domba Tanjung: Brebes Unggulkan Generasi Penerus Sakub

Domba Tanjung: Harapan Baru Brebes dalam Pelestarian Ternak Lokal Unggulan

Kabupaten Brebes terus menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan sumber daya genetik ternak lokal melalui upaya klasifikasi dan penetapan hewan ternak unggulan. Setelah berhasil menetapkan Sapi Jabres dan Domba Sakub sebagai ikon daerah, kini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Brebes tengah berjuang untuk menobatkan Domba Tanjung sebagai ternak unggulan selanjutnya. Upaya ini tidak main-main, terbukti dengan dilakukannya pemaparan mendalam mengenai asal-usul Domba Tanjung dalam sidang di Komisi Bibit Indonesia yang diselenggarakan di Kementerian Pertanian.

Domba Tanjung bukan sekadar hewan ternak biasa, melainkan merupakan aset sumber daya genetik lokal yang sangat berharga bagi Kabupaten Brebes, khususnya yang berasal dari wilayah pesisir pantai utara. Kepala DPKH Brebes, drh. Ismu Subroto, menjelaskan bahwa penetapan rumpun hewan lokal merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan populasi dan kesejahteraan peternak. Sebelumnya, pada tahun 2022, Rumpun Domba Sakub telah berhasil ditetapkan di Kabupaten Brebes. Seluruh domba lokal tersebut telah melalui proses karakterisasi sifat fenotip dan produksi secara umum, serta diakui sebagai plasma nutfah ternak domba lokal Indonesia.

“Saat ini, Domba Tanjung memerlukan perhatian, tindak lanjut, dan usaha yang sama seperti Domba Sakub. Kita memiliki kewajiban untuk menjaga, melestarikan, dan sekaligus mengembangkan Domba Tanjung demi meningkatkan kesejahteraan para peternak dan masyarakat di wilayah Pantura Kabupaten Brebes,” ujar Ismu Subroto.

Proses pengajuan Domba Tanjung sebagai rumpun ternak resmi dengan nama “Domba Tanjung” didasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114/Permentan/SR.120/10/2014 tentang Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Hewan. Pemerintah Kabupaten Brebes berinisiatif mengajukan Domba Tanjung untuk mendapatkan pengakuan formal ini.

Jejak Sejarah Domba Tanjung: Dari Subsidi Hingga Unggulan Lokal

Perjalanan Domba Tanjung hingga menjadi kandidat ternak unggulan memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Semuanya bermula pada tahun 1964, ketika program subsidi ternak dari Gubernur Jawa Tengah mendatangkan domba ekor gemuk. Sebanyak kurang lebih 20 ekor domba ekor gemuk didistribusikan ke setiap desa di Kabupaten Brebes, kecuali di Kecamatan Paguyangan dan Kecamatan Sirampog.

Seiring berjalannya waktu, domba ekor gemuk semakin diminati oleh masyarakat Brebes di sekitar wilayah pesisir utara. Daya tarik utamanya terletak pada tekstur dagingnya yang lebih berlemak, sesuai dengan selera kuliner masyarakat setempat. Para tengkulak pun mulai menyarankan peternak untuk memelihara jenis domba ini.

Titik balik penting terjadi pada tahun 1994. Menyadari potensi besar yang dimiliki, seorang saudagar Tionghoa bernama Yan Shin dari Dukuh Petuguran, Desa Banjaratma, Kecamatan Bulakamba, mengimpor 150 ekor domba ekor gemuk langsung dari Australia. Impor ini menjadi katalisator dalam pengembangan Domba Tanjung.

Melalui proses perkawinan yang terjadi secara turun-temurun, karakteristik unik Domba Tanjung mulai terbentuk secara signifikan pada awal tahun 2000-an. Sejak saat itu, upaya perbaikan dalam manajemen pemeliharaan dan perkawinan terus dilakukan. Puncaknya, pada periode 2010 hingga sekarang, manajemen pemeliharaan dan perkawinan semakin ditingkatkan. Pada tahun 2020 hingga kini, domba-domba dengan kualitas unggul telah berhasil dibentuk dan akhirnya diberi nama Domba Tanjung.

Karakteristik Unik Domba Tanjung: Adaptif dan Bernilai Ekonomi Tinggi

Pengembangan Domba Tanjung secara spesifik berlokasi di wilayah pesisir pantai utara Brebes. Daerah ini memiliki karakteristik lingkungan yang unik, yaitu:

  • Ketinggian: 1 hingga 5 meter di atas permukaan laut (mdpl).
  • Curah Hujan: Berkisar antara 1.245 hingga 1.723 mm per tahun.
  • Jumlah Hari Hujan: Sekitar 85 hingga 105 hari dalam setahun.

Kondisi geografis ini menunjukkan bahwa Domba Tanjung memiliki adaptasi yang sangat baik terhadap lingkungan pesisir. Saat ini, populasi Domba Tanjung di Kabupaten Brebes telah mencapai angka 6.660 ekor, menunjukkan potensi pengembangan yang signifikan.

Secara morfologis, Domba Tanjung memiliki karakteristik yang mudah dikenali:

  • Warna: Dominan putih polos.
  • Tipe Rambut: Berjenis wol.
  • Profil Muka dan Punggung: Baik pada jantan maupun betina, didominasi profil cembung.
  • Tanduk:
    • Seluruh domba betina tidak memiliki tanduk.
    • Sebanyak 79,75 persen domba jantan juga tidak bertanduk.
  • Telinga: Arah telinga mendatar ke samping, seragam pada semua individu, baik jantan maupun betina.
  • Ekor: Bentuk ekor didominasi oleh satu tipe, yaitu luas tanpa lobus.
  • Rambut Leher dan Tubuh: Memiliki rambut yang lebat pada bagian leher, badan, perut, dan ekor.
  • Wattle: Terdapat wattle, baik pada domba jantan maupun betina.

Selain memiliki nilai ekonomi sebagai penghasil daging yang berkualitas, Domba Tanjung juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Kabupaten Brebes. Hewan ini seringkali dijadikan sebagai hewan kesayangan, menunjukkan kedekatan emosional antara masyarakat dan ternak lokal mereka.

Upaya pelestarian bangsa ternak seperti Domba Tanjung tidak hanya berhenti pada aspek teknis peternakan, tetapi juga merambah ke ranah budaya. Salah satu bentuk pelestarian yang aktif dilakukan adalah melalui penyelenggaraan kontes domba. Budaya kontes ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk mempromosikan keunggulan Domba Tanjung, meningkatkan minat peternak, dan menjaga keberlangsungan populasi ternak kebanggaan Brebes ini.

Pos terkait