Emas Meroket: Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga

Emas Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Investor Beralih ke Aset Aman


Harga emas, yang secara historis dikenal sebagai aset safe haven atau pelindung nilai, menunjukkan tren penguatan signifikan pada Senin (2/3). Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran mengenai perpanjangan konflik di Timur Tengah, menyusul serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Kenaikan harga emas spot tercatat sebesar 0,4 persen, mencapai USD 5.297,31 per ons pada pukul 18.31 waktu setempat. Meskipun sempat mengalami sedikit penurunan akibat aksi ambil untung oleh sebagian investor setelah lonjakan lebih dari 2 persen di awal sesi, sentimen positif terhadap emas tetap dominan.

Sebelumnya, logam mulia ini telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 5.594,82 pada 29 Januari. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga turut menguat, ditutup naik 1,2 persen menjadi USD 5.311,60. Di sisi lain, Indeks Dolar AS mengalami penguatan sebesar 1 persen. Penguatan dolar ini secara inheren membuat emas, yang diperdagangkan dalam mata uang dolar, menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya.

“Pasar saat ini sedang dalam fase penilaian, mencoba mengukur apakah serangan ini akan berlanjut dalam beberapa pekan mendatang. Ketidakpastian inilah yang kemungkinan besar akan menjadi penopang utama harga emas,” ujar David Meger, Direktur Perdagangan di High Ridge Futures.

Eskalasi Konflik dan Dampaknya pada Pasar Energi


Perang udara yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran menunjukkan tanda-tanda eskalasi tanpa indikasi akan segera berakhir. Israel dilaporkan melakukan serangan balasan ke Lebanon sebagai respons atas serangan yang dilancarkan oleh Hizbullah. Sementara itu, Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai negara di kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump sendiri telah mengisyaratkan kemungkinan “gelombang besar” serangan lanjutan, meskipun tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Situasi geopolitik yang memanas ini memberikan dampak langsung pada pasar energi. Harga minyak dan gas melonjak tajam setelah serangan tersebut memaksa penghentian operasi di sejumlah fasilitas energi vital di Timur Tengah. Selain itu, pelayaran di jalur strategis Selat Hormuz juga dilaporkan terganggu. Para analis di SP Angel mencatat bahwa peningkatan fragmentasi geopolitik ini mendorong bank sentral dari negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) untuk mengurangi eksposur mereka terhadap aset yang berdenominasi dolar dan secara bertahap beralih ke emas.

Para ahli memperkirakan tren pergeseran ke emas ini akan terus berlanjut. Di sisi lain, lembaga keuangan seperti BNP Paribas memproyeksikan bahwa permintaan investasi terhadap emas fisik akan menjadi pendorong utama pasar emas tahun ini. Emas, yang telah lama diakui sebagai aset lindung nilai yang efektif di tengah meningkatnya ketidakpastian, telah mencatat sejumlah rekor harga baru dan membukukan kenaikan hampir 23 persen sepanjang tahun ini.

Reli emas ini merupakan kelanjutan dari lonjakan luar biasa sebesar 64 persen yang terjadi pada tahun 2025. Lonjakan tersebut didorong oleh beberapa faktor kunci, termasuk pembelian besar-besaran oleh bank sentral berbagai negara, arus masuk dana yang kuat ke exchange-traded funds (ETF) emas, serta pergeseran kebijakan moneter global menuju arah yang lebih longgar, terutama dari bank sentral Amerika Serikat.

Gangguan Logistik dan Perhatian pada Data Ekonomi

Lebih lanjut, menurut informasi dari tiga sumber industri logam, arus perdagangan emas fisik yang masuk dan keluar dari pusat perdagangan emas di Dubai diperkirakan akan mengalami gangguan signifikan dalam beberapa hari ke depan. Pembatalan penerbangan oleh maskapai akibat serangan yang terjadi menjadi penyebab utama terhambatnya logistik ini.

Dari sisi data ekonomi makro, para pelaku pasar akan memberikan perhatian khusus pada serangkaian laporan penting yang dijadwalkan rilis pekan ini. Laporan ketenagakerjaan ADP, data klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls akan menjadi indikator kunci yang dapat mempengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Sementara itu, di pasar logam lainnya, harga perak spot mengalami pelemahan sebesar 5,7 persen, diperdagangkan di level USD 88,46 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari. Harga platinum spot juga melemah 2,7 persen menjadi USD 2.300,50 per ons. Paladium mencatat penurunan 0,9 persen, diperdagangkan di USD 1.770,66 per ons.

Pos terkait