Adaptasi Program Makan Bergizi Gratis Selama Ramadan di Banjarbaru: Evaluasi dan Inovasi Menu
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, telah memasuki pekan kedua pelaksanaannya di bulan Ramadan 1447 Hijriah. Pelaksanaan program yang biasanya berfokus pada penyediaan makanan basah berupa nasi dan lauk pauk ini mengalami sejumlah penyesuaian signifikan selama bulan puasa, menandai tahun pertama MBG diadakan di bulan penuh berkah ini.
Salah satu perubahan paling mencolok terlihat pada jenis menu yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jika pada hari-hari biasa siswa menerima makanan yang siap santap di sekolah, pada Ramadan ini, para pelajar SMAN 2 Banjarbaru, misalnya, menerima paket MBG berupa makanan kering yang dikemas dalam plastik untuk dibawa pulang. Inovasi ini diharapkan dapat membantu siswa dan keluarga mereka memanfaatkan asupan gizi tambahan di rumah.
Selain perubahan menu, waktu penyaluran makanan dari SPPG ke sekolah-sekolah juga dipercepat. Berbeda dengan hari biasa di mana distribusi dilakukan menjelang jam makan siang, selama Ramadan, penyaluran dilaksanakan lebih awal. Perubahan ini dirancang untuk menyesuaikan ritme aktivitas siswa dan guru yang mungkin memiliki agenda ibadah atau istirahat yang berbeda selama bulan puasa.
Evaluasi Menyeluruh untuk Perbaikan Berkelanjutan
Citra Nurfitriani, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kota Banjarbaru, mengungkapkan bahwa pelaksanaan MBG Ramadan tahun ini menjadi ajang penting untuk melakukan berbagai catatan dan evaluasi. Mengingat ini adalah tahun pertama program dijalankan selama Ramadan, banyak penyesuaian yang harus dilakukan, baik dari segi menu maupun waktu pembagian.
“Sejauh ini memang banyak evaluasi karena merupakan tahun pertama MBG di Banjarbaru, ya. Semoga ke depannya kami memang melakukan evaluasi besar-besaran, semoga ke depannya kami bisa memperbaiki apa yang kurang-kurang dari yang sebelum-sebelumnya,” ujar Citra.
Evaluasi yang dilakukan mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilihan menu yang paling sesuai dan bergizi untuk kondisi Ramadan, hingga efektivitas mekanisme pendistribusian dari SPPG ke sekolah-sekolah. Tim pengelola MBG secara aktif mengkaji menu mana yang paling baik dan bagaimana proses distribusi dapat berjalan lebih lancar sesuai dengan arahan pimpinan.
Penanganan Khusus dan Klarifikasi Komponen Menu
Dalam hal teknis pembagian, Citra menjelaskan bahwa terdapat beberapa SPPG di Banjarbaru yang menerapkan sistem “dirapel” untuk penyaluran MBG Ramadan ke sekolah. Sistem ini biasanya diterapkan dalam kondisi khusus, seperti ketika ada sekolah yang mengalami libur. Namun, keputusan untuk menerima makanan yang dirapel tetap bergantung pada kesediaan orang tua siswa untuk mengambilnya di sekolah.
Terkait dengan pertanyaan mengenai beberapa sekolah yang tidak menerima susu dalam paket MBG, baik selama Ramadan maupun di hari biasa, Citra memberikan klarifikasi penting. Ia menegaskan bahwa susu bukanlah komponen yang wajib disediakan oleh SPPG dalam menu MBG.
“Jadi kalau dari pihak pengelola MBG-nya sendiri ya, tidak mewajibkan adanya susu. Karena sekarang mungkin orang dulunya tahunya 4 Sehat 5 Sempurna, sekarang kami memakai ‘Isi Piringku’. Jadi di ‘Isi Piringku’ itu memang susu tidak menjadi suatu komponen yang wajib, jadi bisa digantikan dengan protein-protein lain seperti telur, ayam,” pungkasnya.
Pendekatan “Isi Piringku” yang diadopsi dalam program MBG menekankan keseimbangan nutrisi dari berbagai kelompok makanan, di mana susu dapat digantikan oleh sumber protein hewani lain seperti telur atau ayam, yang juga kaya akan nutrisi penting.
Dengan adanya evaluasi dan penyesuaian yang terus-menerus, diharapkan program MBG di Banjarbaru dapat terus memberikan manfaat optimal bagi para siswa, terutama dalam menjaga asupan gizi mereka selama bulan Ramadan dan seterusnya. Inovasi dalam penyajian dan distribusi menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program di masa mendatang.





