Musisi legendaris Indonesia, Fariz RM, kini telah menghirup udara segar kebebasan setelah menjalani masa hukuman selama 10 bulan di balik jeruji besi. Kepulangannya disambut dengan kabar mengejutkan: Fariz RM mengaku telah memutuskan untuk berhijrah. Keputusan ini tampaknya merupakan buah perenungan mendalam selama menjalani keseharian di penjara, di mana ia menemukan banyak pelajaran berharga dan teringat akan anjuran untuk melakukan perubahan diri.
Makna Hijrah bagi Fariz RM
Bagi Fariz RM, hijrah bukan sekadar istilah keagamaan, melainkan sebuah langkah fundamental untuk memperbaiki diri secara menyeluruh. Ia mengartikan hijrah sebagai bentuk kepatuhan terhadap pesan Tuhan yang tertuang dalam ajaran para rasul. “Sebagai orang muslim saya melihatnya gini aja, pesan Tuhan itu kepada rasul-rasulnya adalah kalau sudah tidak bisa diapa-apain lagi berhadapan dengan masalah, hijrah,” ungkap Fariz RM saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (28/2/2026).
Keputusan hijrah ini merambah ke berbagai aspek kehidupannya. Fariz RM tidak hanya berhijrah dalam urusan spiritual, tetapi juga merombak total profesi, cara bergaul, bahkan interaksinya dengan dunia luar. Ia menegaskan, “Ini saya hijrah. Hijrah dari profesi, hijrah dari sosial media, hijrah dari pergaulan. Saya sekarang pengin mikirin diri saya sendiri dulu deh. Udah enak gitu lho.” Pernyataan ini mengindikasikan keinginan kuat untuk fokus pada kedamaian batin dan refleksi diri.
Berakar dari Keluarga Religius
Fariz RM mengakui bahwa kedekatannya dengan Tuhan bukanlah hal baru. Ia terlahir dari keluarga yang sangat religius, yang senantiasa menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini. Namun, kali ini, ia merasa ada panggilan yang lebih kuat untuk memperdalam komitmen spiritualnya. “Walaupun sebelum-sebelumnya sebetulnya udah dekat juga ya, saya sangat termasuk keluarga yang cukup religius. Tapi kali ini emang saya udah, udahlah di situ aja deh,” tuturnya, menyiratkan sebuah titik balik yang lebih mendalam.
Dukungan Sang Kuasa Hukum
Proses hijrah yang dijalani Fariz RM ini juga menjadi saksi bisu bagi sang kuasa hukumnya, Deolipa Yumara. Menurut Deolipa, perubahan positif pada diri Fariz RM sudah terlihat sejak ia menjalani masa pembinaan di dalam lapas. “Oh iya sejak di diklat, 6 bulan 7 bulan diklat itu ya berubah. Memang sudah bertobat,” ujar Deolipa. Ia menambahkan bahwa pertobatan Fariz RM sebenarnya sudah lama terjadi, namun baru kali ini terekspos ke publik dengan baik.
Salah satu bentuk pertobatan yang paling kentara adalah keputusan Fariz RM untuk tidak lagi memegang gawai atau telepon genggam. Deolipa menjelaskan, “Kan ini Bang Fariz ceritakan sendiri memang beliau sudah bertobat. Kenapa enggak pegang handphone? Itulah salah satu bentuk pertobatannya. Enggak mau terdistorsi lagi dengan yang mainstream lah.” Langkah ini diambil untuk menjauhkan diri dari pengaruh negatif dan distorsi informasi yang seringkali tersaji di dunia maya.
Menemukan Ketenangan Tanpa Gawai
Kasus narkoba yang menjerat Fariz RM membuatnya harus menjalani hukuman penjara selama 10 bulan. Setelah dinyatakan bebas, keputusannya untuk berhijrah, termasuk melepaskan diri dari penggunaan telepon genggam, ternyata membawa dampak positif yang signifikan. Alih-alih merasa terasing atau ketinggalan zaman, Fariz RM justru menemukan ketenangan batin yang luar biasa. Melepaskan diri dari ketergantungan pada teknologi dan dunia maya memberikannya ruang untuk lebih terhubung dengan diri sendiri dan nilai-nilai spiritual yang ia pegang teguh. Perubahan ini menjadi bukti bahwa hijrah, dalam arti yang sesungguhnya, dapat membawa kedamaian dan kebahagiaan sejati.





