Merajut Keberagaman Global: FISIP Undip Sambut Puluhan Mahasiswa Internasional
Auditorium Fimena, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang menjelma menjadi panggung global yang semarak. Kehadiran puluhan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia dalam acara International Students Gathering 2026: The Orange Harbor: Anchoring Global Cultures At Diponegoro pada Jumat, 27 Februari 2026, menciptakan suasana yang dinamis dan penuh warna. Acara ini menjadi bukti nyata komitmen FISIP Undip dalam merangkul keragaman budaya dan memperluas jejaring pendidikan di kancah internasional.
Sebanyak 23 mahasiswa mancanegara, yang saat ini menempuh pendidikan di Undip melalui program International Undergraduate Program (IUP), turut memeriahkan acara tersebut. Mereka datang dengan latar belakang budaya, kebangsaan, dan jenjang pendidikan yang beragam, mulai dari program Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktoral (S3). Para mahasiswa ini berasal dari negara-negara seperti Pakistan, Tiongkok, Madagaskar, Korea Selatan, Sierra Leone, Gambia, Zanzibar, Yaman, Rusia, Vietnam, dan Jerman.
Khusus untuk jenjang S1, program administrasi bisnis menjadi pilihan favorit bagi sebagian besar mahasiswa internasional ini. Selain itu, beberapa di antara mereka juga mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester melalui program DEEP (Diponegoro Exchange Experience Program).
Salah satu mahasiswa S1 asal Vietnam, Le Hoang Vy, mengungkapkan rasa kekagumannya terhadap pengalaman belajar di Undip. Berasal dari Ho Chi Minh University Of Banking, Vy mengaku termotivasi untuk mencari tantangan baru di luar negaranya.
“Alasan utamanya tentu saya mau menantang diri saya di negara lain. Indonesia saya kira negara yang menarik, sebagai salah satu negara terbesar di Asia Tenggara dengan ragam budayanya. Saya ingin belajar banyak hal di sini,” tuturnya saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.
Vy, yang akan mengikuti program DEEP dari Januari hingga Juni mendatang, merasa cukup mudah beradaptasi di Indonesia. Ia mengaku menikmati suasana di Semarang karena kesamaan budaya dan kuliner.
“Saya enjoy di Semarang karena budaya dan makanannya tidak jauh beda. Misalnya, nasi goreng, ayam sayur juga mirip seperti di Vietnam,” katanya dengan senyum.
FISIP Undip: Gerbang Pendidikan Kelas Dunia
Dekan FISIP Undip, Dr. Teguh Yuwono, menegaskan bahwa fakultasnya tidak hanya berfokus pada penyediaan akses pendidikan bagi masyarakat lokal, tetapi juga berkomitmen untuk menjadi lingkungan yang terbuka dan menyambut mahasiswa dari seluruh dunia.
“Kami berupaya menjadi bagian dari pengembangan potensi internasional yang dirancang untuk memperluas kontribusi FISIP, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga global,” ujar Dr. Teguh.
Beliau menambahkan bahwa salah satu indikator sebuah fakultas berkelas dunia adalah jumlah mahasiswa asing yang belajar, kualitas metode pembelajaran, serta sistem pengajaran yang berstandar internasional.
“Tujuan akhirnya adalah menjadikan visi dan misi fakultas sebagai referensi dunia,” tegasnya.
Saat ini, FISIP Undip aktif menerima mahasiswa asing untuk program pertukaran pelajar dari berbagai negara, termasuk Rusia, Vietnam, Jerman, Pakistan, Gambia, Tiongkok, Belanda, dan Italia. Selain menjadi tujuan studi bagi mahasiswa internasional (incoming students), FISIP juga secara proaktif mengirimkan mahasiswanya ke berbagai negara untuk program pertukaran, seperti Italia, Korea Selatan, Hungaria, dan Tiongkok.
Menyongsong Masa Depan Global: Dukungan dan Tantangan
Kehadiran mahasiswa asing di FISIP Undip merupakan sebuah capaian yang patut dibanggakan. Di tengah tren perguruan tinggi di Indonesia yang lebih sering mengirimkan mahasiswa ke luar negeri, FISIP justru berhasil menjadi destinasi studi pilihan bagi mahasiswa mancanegara.
“Tentu ini menunjukkan bahwa FISIP Undip telah bermain di ranah global dan tidak lagi hanya berfokus pada pendidikan tingkat lokal maupun regional,” kata Dr. Teguh dengan bangga.
Untuk memastikan proses adaptasi mahasiswa asing berjalan lancar, fakultas menyediakan pendamping khusus bagi setiap mahasiswa internasional. Pendampingan ini bertujuan untuk mendorong pertukaran budaya, pengalaman, serta pemahaman akademik yang lebih mendalam. Meskipun substansi keilmuan seperti manajemen, politik, dan bisnis relatif serupa di berbagai negara, aspek kultural menjadi pembeda krusial, terutama dalam praktik bisnis yang berbeda antara Eropa, Asia, maupun Indonesia.
Sejak didirikan, FISIP Undip telah mencatat lebih dari 50 mahasiswa internasional yang mengikuti perkuliahan secara tatap muka (offline). Angka ini belum termasuk partisipasi mahasiswa dalam program daring (online).
Meskipun demikian, Dr. Teguh mengakui bahwa proses internasionalisasi ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kendala bahasa, mengingat tidak semua mahasiswa berasal dari negara dengan bahasa ibu berbahasa Inggris.
Untuk mengatasi hal ini, FISIP Undip memiliki program International Undergraduate Program (IUP) atau kelas internasional yang memang dirancang khusus untuk mempersiapkan mahasiswa dan dosen dalam proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris.
“Untungnya FISIP ini kan banyak lulusan luar negeri ya. Jadi dosen-dosen kita itu barangkali sekitar 30 persen itu alumni dari luar negeri sehingga tidak kesulitan kita melakukan adaptasi,” jelas Dr. Teguh.
Ke depan, pimpinan fakultas ini berkomitmen untuk terus mendorong lebih banyak dosen untuk melanjutkan studi atau mengikuti program pengembangan di luar negeri. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat penguasaan bahasa dan memperluas wawasan budaya internasional para dosen, yang pada gilirannya akan semakin memperkaya pengalaman belajar mahasiswa internasional di FISIP Undip.





