Gresik Juara: 5 Warisan Budaya Kuliner Raih Sertifikat WBTBI, Pesan Gubernur Jatim

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia: Gresik Raih Pengakuan, Jatim Dorong Budaya Jadi Sektor Strategis

Malang – Keberagaman budaya Indonesia kembali diperkaya dengan pengakuan terhadap sejumlah warisan budaya tak benda (WBTBI) dari Kabupaten Gresik. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara resmi menyerahkan sertifikat penetapan WBTBI kepada Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disaprbud) Jawa Timur di Taman Krida Budaya, Kota Malang.

Acara yang berlangsung pada Minggu, 22 Februari 2026, ini tidak hanya menjadi momen penyerahan sertifikat, tetapi juga apresiasi bagi para pelaku budaya, serta pengumuman kenaikan tunjangan bagi juru pelihara cagar budaya. Pengakuan ini menegaskan kekayaan tradisi dan kuliner khas yang dimiliki oleh Kabupaten Gresik, yang kini secara resmi diakui di tingkat nasional.

Lima warisan budaya tak benda dari Gresik yang mendapatkan penetapan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia meliputi:

  • Kupat Keteg: Sebuah tradisi kuliner khas yang sarat makna.
  • Malem Selawe: Perayaan meriah yang biasanya diadakan menjelang akhir bulan Syafar dalam kalender Hijriah.
  • Rebo Wekasan: Tradisi unik yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar.
  • Pasar Bandeng: Pasar tradisional yang menjadi ikonik di Gresik, terutama saat menjelang Ramadan.
  • Pencak Macan: Sebuah seni bela diri tradisional yang memadukan gerakan silat dengan filosofi harimau.

Dukungan Komunitas dan Pendidikan: Kunci Pelestarian Identitas

Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, menyambut baik penetapan ini dan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas dukungan yang diberikan dalam proses pengajuan kelima warisan budaya tersebut. Ia menekankan bahwa pengakuan ini membawa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gresik, namun juga merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikul bersama.

“Penetapan ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya budaya, maupun kuliner khas yang ada di Kabupaten Gresik,” ujar Wabup Alif dalam rilis yang dikeluarkan oleh Diskominfo Gresik pada hari yang sama.

Lebih lanjut, Wabup Alif menegaskan bahwa keberlangsungan tradisi ini tidak dapat terlepas dari dukungan seluruh elemen masyarakat. Di era modern yang serba cepat ini, peran aktif masyarakat sangat krusial untuk memastikan warisan budaya ini tidak hanya dilestarikan, tetapi juga terus berkembang dan relevan bagi generasi mendatang.

“Dukungan dari semua elemen masyarakat sangat penting, untuk memastikan warisan ini tetap hidup dan berkembang di tengah kemajuan zaman,” tegasnya.

Salah satu aspek penting yang disorot oleh Wabup Alif adalah peranan dunia pendidikan dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini. Ia berharap institusi pendidikan dapat berperan aktif dalam memperkenalkan sejarah, makna filosofis, serta nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap tradisi dan kuliner khas Gresik kepada para generasi muda. Dengan demikian, identitas budaya Gresik, Jawa Timur, dan bahkan Indonesia secara keseluruhan, dapat terus dijaga dan diperkaya.

“Dengan ditetapkannya tradisi dan kuliner Gresik ini, diharapkan semakin dikenal luas dan tetap lestari sebagai bagian penting dari identitas Gresik, Jawa Timur dan Indonesia,” harapnya.

Budaya sebagai Pilar Pembangunan Strategis

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam pidatonya menggarisbawahi bahwa status Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) merupakan sebuah amanah moral yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh agar tidak tergerus oleh arus zaman. Beliau menggambarkan warisan budaya tak benda sebagai “roh dari peradaban kita” yang memiliki kemampuan luar biasa dalam membentuk karakter, memperkuat identitas, dan bahkan menjadi penuntun arah pembangunan.

Oleh karena itu, Gubernur Khofifah mendorong agar sektor kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, melainkan harus ditempatkan sebagai bagian yang strategis dalam kerangka pembangunan daerah. Potensi budaya, menurutnya, jauh melampaui aspek pelestarian semata. Ia melihatnya sebagai motor penggerak utama untuk mendorong sektor pariwisata, memperkuat ekonomi kreatif, hingga memperluas jangkauan diplomasi budaya, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Warisan budaya tak benda adalah roh dari peradaban kita. Ia membentuk karakter, memperkuat identitas dan menjadi penuntun arah pembangunan,” ujar Khofifah.

Untuk mewujudkan potensi tersebut, sinergi antara pemerintah, para seniman dan pelaku budaya, serta generasi muda menjadi elemen yang sangat vital. Kolaborasi ini diharapkan dapat memastikan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berhenti pada tataran simbolis, tetapi terus berkembang melalui inovasi-inovasi kreatif yang tetap berakar kuat pada nilai-nilai tradisi leluhur.

“Pentingnya sinergi antara Pemerintah, pelaku seni, dan generasi muda, agar pelestarian budaya tidak berhenti pada simbol, melainkan terus berkembang melalui inovasi kreatif yang tetap berakar pada nilai tradisi,” imbuhnya.

Apresiasi Lebih untuk Juru Pelihara Cagar Budaya

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah juga memberikan kabar gembira terkait peningkatan kesejahteraan para penjaga warisan budaya. Beliau mengumumkan adanya kenaikan signifikan pada tunjangan kehormatan bagi para juru pelihara cagar budaya di seluruh Jawa Timur.

Selain itu, apresiasi yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada para seniman dan pelaku budaya tahun ini juga mengalami peningkatan dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Para seniman dan pelaku budaya yang sebelumnya menerima honorarium sebesar Rp 500.000, kini akan mendapatkan Rp 1.000.000.

Peningkatan yang lebih drastis terjadi pada tunjangan operasional bagi juru pelihara cagar budaya. Angka ini melonjak tajam dari Rp 550.000 menjadi Rp 1,5 Juta per bulan. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan motivasi tambahan bagi para juru pelihara untuk menjalankan tugasnya dengan lebih baik dalam merawat dan menjaga kelestarian cagar budaya yang ada di Jawa Timur.

Pos terkait