Gubernur Dedi Mulyadi Beri THR Lebaran Fantastis untuk Siswi Penjual Kacang Viral

Kisah Inspiratif Siswi SMK yang Berjualan Kacang Usai Sekolah Tuai Pujian

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, terkadang kita menemukan secercah kisah yang mampu menginspirasi dan menyentuh hati. Salah satunya adalah kisah seorang siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Cimahi, Jawa Barat, yang memilih untuk berjualan kacang setelah jam sekolah usai. Kegigihan dan semangat pantang menyerahnya dalam mencari nafkah untuk membiayai pendidikannya tak hanya menuai decak kagum dari masyarakat, tetapi juga menarik perhatian seorang tokoh penting di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tergerak untuk menemui langsung siswi yang menjadi viral tersebut. Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah bentuk apresiasi dan dukungan atas kerja keras yang ditunjukkan oleh siswi tersebut. Dalam pertemuan yang hangat tersebut, Dedi Mulyadi tidak hanya berbincang, tetapi juga memberikan bantuan nyata berupa Tunjangan Hari Raya (THR) dan melunasi seluruh biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) siswi itu.

Perjuangan Tanpa Keluh Kesah

Siswi SMK yang namanya belum disebutkan ini, menjadi sorotan publik setelah beredar kabar bahwa ia tak segan mengenakan seragam sekolahnya sambil menjajakan dagangan kacang di sekitar area sekolahnya. Dengan harga yang sangat terjangkau, Rp2.000 per bungkus, ia berusaha mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Pengakuan mengejutkan datang dari siswi ini, bahwa hasil dari berjualan kacang tersebutlah yang membantunya dalam membayar SPP sekolahnya.


Melihat kegigihan luar biasa dari siswi muda ini, Gubernur Dedi Mulyadi merasa tersentuh. Ia melihat potensi, keberanian, dan etos kerja yang tinggi dalam diri siswi tersebut. Dedi Mulyadi berkeyakinan bahwa generasi muda seperti inilah yang akan membawa perubahan positif bagi masa depan.

Dialog Penuh Makna dengan Sang Gubernur

Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi tampak akrab berbincang dengan siswi tersebut. Meski terlihat sedikit grogi di hadapan seorang gubernur, siswi itu dengan lancar menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

“Mamanya kerja apa? Dikasih bekel nggak?” tanya Dedi Mulyadi memulai percakapan.

Siswi itu menjelaskan bahwa ibunya membantu ayahnya di rumah, dan ia tidak membawa bekal dari rumah karena memang ia yang berjualan. Ia merinci bahwa setiap bungkus kacang dijual seharga Rp2.000.

“Satu bungkus Rp2.000, ini bawa 150 bungkus,” jawab siswi itu.

Dedi Mulyadi kemudian mencoba menghitung potensi penghasilan harian siswi tersebut. “Berarti Rp300 ribu, ini bikin sendiri?” tanyanya lebih lanjut.

Dengan lugas, siswi itu memaparkan bahwa dalam seminggu, rata-rata ia bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp300.000. Jika dikalkulasikan, maka dalam sebulan ia bisa mendapatkan uang hingga Rp1.200.000. Uang hasil jerih payahnya ini kemudian ia gunakan untuk membayar SPP yang besarnya Rp200.000 per bulan.

Apresiasi yang Berbeda

Mendengar penuturan siswi tersebut, Dedi Mulyadi menunjukkan kekagumannya. Ia memuji potensi, keberanian, dan kerja keras yang luar biasa. Namun, ada satu hal yang menarik dari sikap Dedi Mulyadi. Ia justru menyatakan tidak ingin memberikan subsidi apapun secara langsung kepada siswi itu.

“Berarti seminggu dapat Rp300 ribu, berarti sebulan Rp1,2 juta, itu uangnya dipakai untuk apa?” tanya Dedi Mulyadi.

“Buat bayar SPP, Rp200 ribu,” jawab siswi itu.

“Keren, menurut saya kamu jangan disubsidi kalau kamu dibebasin nanti jadi tidak bekerja keras lagi, aku sayang dengan potensi kamu,” ucap Dedi Mulyadi.

Pernyataan ini menunjukkan sebuah filosofi yang berbeda. Dedi Mulyadi tidak ingin merusak semangat juang siswi tersebut dengan pemberian bantuan yang berlebihan. Ia meyakini bahwa dengan kebebasan dan kesempatan, siswi ini akan terus termotivasi untuk bekerja keras dan mengembangkan potensinya.

Dukungan Nyata di Balik Apresiasi

Meskipun tidak memberikan subsidi langsung, Dedi Mulyadi menunjukkan dukungannya dengan cara yang sangat berarti. Ia langsung memborong dagangan kacang siswi tersebut dalam jumlah besar, memberikan THR sebesar Rp1 juta, dan yang terpenting, melunasi seluruh tunggakan SPP siswi itu.


Mendapatkan perhatian dan bantuan sebesar itu, siswi tersebut tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Senyum lebar terpancar dari wajahnya, diiringi ucapan “Alhamdulillah” yang tulus.

“Aku beli 10 kg, jadi nanti ditambah THRnya Rp1 juta. Keren itu gini loh gaes!! Bukan mengeluh setiap hari soal kendala hidup. Top kamu nak!” ujar Dedi Mulyadi dengan bangga.

Gubernur Jawa Barat itu menambahkan, “Saya senang anak-anak Jawa Barat itu kaya gini.”

Reaksi Positif Netizen

Kisah pertemuan antara Gubernur Dedi Mulyadi dan siswi penjual kacang ini pun menyebar luas di media sosial. Unggahan mengenai kejadian ini disambut dengan antusiasme dan pujian dari para netizen. Banyak yang salut dengan sikap Dedi Mulyadi yang tidak hanya peduli terhadap warganya, tetapi juga memiliki cara pandang yang bijak dalam memberikan dukungan. Sikap beliau dianggap sebagai teladan yang baik, menunjukkan bahwa kepedulian tidak selalu harus dalam bentuk pemberian materi semata, tetapi juga apresiasi terhadap semangat dan potensi individu.

Pos terkait