Revitalisasi Museum MH Thamrin: Investasi Rp15 Miliar untuk Warisan Sejarah Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah signifikan untuk melestarikan warisan sejarah ibu kota dengan merencanakan revitalisasi Museum Mohammad Husni Thamrin. Museum yang berlokasi di Jalan Kenari, Senen, Jakarta Pusat ini akan mendapatkan suntikan dana sebesar Rp15 miliar untuk meningkatkan kualitas bangunan dan memperkaya fungsi edukasinya. Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan mendalam terhadap peran besar Mohammad Husni Thamrin dalam membentuk sejarah Jakarta serta perjuangannya yang gigih membela masyarakat Betawi.
Gubernur DKI Jakarta, yang memimpin langsung keputusan revitalisasi ini, berharap agar Museum MH Thamrin dapat menjelma menjadi destinasi edukasi sejarah alternatif yang menarik bagi masyarakat luas, khususnya para pelajar. Revitalisasi ini bukan sekadar perbaikan fisik bangunan, melainkan sebuah upaya strategis untuk menghadirkan kembali semangat dan kontribusi tokoh legendaris Jakarta ini kepada generasi mendatang.
Tokoh Krusial dalam Sejarah Jakarta
Mohammad Husni Thamrin, yang akrab disapa MH Thamrin, merupakan sosok yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah Jakarta. Ia dikenal luas sebagai “Abang Betawi” atau yang kini sering disebut “Abang Jakarta”, sebuah gelar kehormatan yang mencerminkan kedekatannya dengan masyarakat asli Jakarta. Perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Betawi dan mendorong kemajuan kota kelahirannya menjadikannya pahlawan yang patut dikenang dan dihargai.
Pramono Anung, dalam salah satu pidatonya, mengungkapkan rasa prihatinnya ketika melihat kondisi Museum MH Thamrin yang belum optimal. Ia merasa belum ada penghormatan yang layak diberikan kepada tokoh yang telah memberikan kontribusi besar dalam membesarkan Jakarta, yang dulu dikenal sebagai Batavia, serta mengangkat harkat masyarakat Betawi. Melalui revitalisasi ini, Pemprov DKI Jakarta bertekad untuk memberikan penghormatan yang pantas bagi MH Thamrin.
Pentingnya museum ini sebagai pusat pembelajaran sejarah ditekankan oleh Pramono Anung. Ia berkeinginan agar Museum MH Thamrin tidak hanya menjadi sekadar tempat kunjungan wisata, tetapi juga menjadi destinasi utama bagi para pelajar yang ingin mendalami sejarah Jakarta. Hal ini diharapkan dapat melengkapi pilihan destinasi edukasi sejarah yang ada, seperti Monumen Nasional, Taman Impian Jaya Ancol, dan Taman Mini Indonesia Indah. Dengan demikian, Museum MH Thamrin diharapkan dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memahami perjuangan dan warisan MH Thamrin, serta dinamika sejarah kota Jakarta secara keseluruhan.
Profil Singkat Mohammad Husni Thamrin
Mohammad Husni Thamrin lahir di Sawah Besar, Jakarta, pada tanggal 16 Februari 1894. Ayahnya bernama Wedana Tabri Thamrin dan ibunya bernama Nurhana. Kehidupan awal MH Thamrin diwarnai dengan kepergian ayahnya saat ia masih belia, sehingga ia dibesarkan oleh pamannya dari pihak ibu. Ia memiliki enam saudara kandung: lima laki-laki dan satu perempuan. Menariknya, MH Thamrin diketahui memiliki darah keturunan Belanda dari kakeknya.
Sejak usia muda, MH Thamrin telah menunjukkan kecerdasan dan kemampuan bersosialisasi yang baik, mampu bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat. Ia menempuh pendidikan di sekolah-sekolah kolonial sembari tetap mendalami ajaran agama Islam, yang membuatnya memiliki wawasan luas tanpa meninggalkan akar budaya Betawi.
Setelah menyelesaikan pendidikan, MH Thamrin memulai kariernya di berbagai sektor. Ia pernah bekerja di kantor kepatihan, kantor residen, hingga perusahaan pelayaran ternama, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang berbagai aspek kehidupan kota dan masyarakat.

Perjuangan untuk Jakarta dan Rakyat Betawi
Menyaksikan perkembangan kotanya, MH Thamrin tergerak untuk berjuang demi kesejahteraan rakyat Jakarta. Salah satu masalah kronis yang menjadi perhatiannya adalah persoalan banjir yang sering melanda Jakarta. Melalui diskusi mendalam dengan Daan van der Zee, sekretaris Dewan Kota, mereka merumuskan solusi inovatif berupa pembangunan kanal banjir untuk meredam dampak banjir saat musim hujan.
Berkat pengaruh van der Zee, MH Thamrin berhasil terpilih menjadi anggota Dewan Kota Jakarta pada tahun 1919, di usianya yang baru menginjak 25 tahun. Sebagai anggota termuda, ia segera menunjukkan kiprahnya dengan memprakarsai program perbaikan perkampungan pribumi. Meskipun usulan penganggaran dana sebesar 100.000 Gulden untuk program ini sempat ditolak oleh Walikota Jakarta saat itu, A. Meyroos, semangat MH Thamrin tidak pernah padam.
Perjuangannya semakin mengemuka ketika pada 16 Mei 1927, ia dilantik menjadi anggota Dewan Rakyat. Di lembaga ini, MH Thamrin semakin giat memperjuangkan aspirasi rakyat. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah penghapusan Poenale Sanctie, undang-undang yang dikeluarkan pada tahun 1880 yang memberikan wewenang kepada perusahaan perkebunan untuk menghukum kuli yang melanggar kontrak tanpa melalui proses peradilan. Selain itu, ia juga berhasil membatalkan Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan pada 27 September 1933.
MH Thamrin dikenal sebagai sosok yang tegas dalam memperjuangkan kepentingan rakyatnya, bahkan sering dianggap anti-Belanda. Perjuangannya ini sempat membuatnya dicurigai sebagai mata-mata Jepang, yang berujung pada penahanan rumah oleh polisi Belanda.
Mohammad Husni Thamrin menghembuskan napas terakhirnya pada 11 Januari 1941 dan dimakamkan di TPU Karet, Jakarta.
Pahlawan Kemerdekaan Nasional
Jasa-jasa Mohammad Husni Thamrin dikenang abadi oleh masyarakat Jakarta melalui julukan “Abang Betawi” atau “Abang Jakarta”. Namanya juga diabadikan pada salah satu jalan protokol utama di Jakarta, serta menjadi pengingat akan proyek perbaikan perkampungan yang ia gagas demi kepentingan rakyat.
Atas kontribusinya yang luar biasa dalam perjuangan kemerdekaan, Mohammad Husni Thamrin dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 175 tahun 1960, tertanggal 28 Juli 1960. Revitalisasi Museum MH Thamrin ini diharapkan dapat semakin memperkuat pemahaman masyarakat akan warisan berharga dari salah satu putra terbaik bangsa ini.





