.CO.ID – JAKARTA.
Industri otomotif nasional dihadapkan pada tantangan signifikan pada tahun 2026, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan perubahan kebijakan pajak kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Hal ini menurut Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, menjadi konjungsi yang mengancam stabilitas sektor tersebut.
Faktor Pemicu Kenaikan Harga BBM
Salah satu pemicu utama adalah penyesuaian harga BBM oleh PT Pertamina (Persero). Contohnya, Pertamax Turbo (RON 98) kini dibanderol Rp 19.400 per liter di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, naik dari Rp 13.100 per liter. Sementara itu, Dexlite meningkat menjadi Rp 23.600 per liter dari Rp 14.200, dan Pertamina Dex mencapai Rp 23.900 per liter dari Rp 14.500. Kenaikan ini memengaruhi biaya operasional kendaraan bermesin pembakaran internal serta menekan ruang konsumsi masyarakat, khususnya kelas menengah.
Perubahan Kebijakan Pajak Kendaraan Listrik
Di sisi lain, pemerintah telah mengubah pendekatan perpajakan kendaraan listrik melalui Permendagri Nomor 11 Tahun 2026. Kendaraan listrik tidak lagi otomatis bebas Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), melainkan bergantung pada kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Perubahan ini memengaruhi perhitungan total biaya kepemilikan kendaraan listrik, terutama bagi konsumen retail.
Daya Tarik EV Melemah
Yannes menyatakan bahwa tekanan pada kelas menengah diperkirakan akan cukup memengaruhi daya beli retail mobil penumpang entry level, mengingat sekitar 80 persen transaksi mobil di Indonesia bergantung pada leasing. Suku bunga yang tinggi dan ekonomi melambat tentu akan menekan kemampuan cicilan konsumen.
Meskipun kenaikan harga BBM seharusnya dapat mendorong adopsi kendaraan listrik karena biaya operasional lebih rendah, berkurangnya kepastian insentif membuat daya tarik kendaraan listrik melemah, tidak sekuat sebelumnya. Upaya menggenjot penjualan EV justru berpotensi menghadapi tantangan akibat hilangnya insentif pajak yang memengaruhi kalkulasi total cost of ownership bagi konsumen retail di tengah perlambatan pendapatan mereka.
Perubahan Arah Pertumbuhan Industri Otomotif
Dalam kondisi ini, Yannes melihat arah pertumbuhan industri mulai bergeser. “Mesin pertumbuhan industri otomotif tahun ini kemungkinan akan bergeser dari sektor konsumtif (retail) ke sektor produktif (B2B dan komersial),” ujarnya. Permintaan diperkirakan lebih banyak ditopang sektor logistik, penggunaan kendaraan listrik oleh korporasi untuk efisiensi biaya operasional, serta kebutuhan kendaraan niaga ringan.
“Penjualan tidak lagi sepenuhnya didorong oleh hasrat gaya hidup kelas menengah, melainkan juga oleh kebutuhan operasional dari ekosistem logistik, pergeseran korporasi ke armada EV demi memangkas OPEX, serta meningkatnya permintaan kendaraan niaga ringan untuk menopang rantai pasok proyek pemerintah seperti MBG,” tambahnya.
Risiko Eksternal yang Mengancam
Di luar faktor domestik, Yannes juga mengingatkan risiko dari harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. “Semoga harga rata-rata minyak brent USD 100– USD 120 tidak terlalu lama volatilitasnya, serta USD tidak terlalu lama di atas Rp 17.000. Jika bertahan, tekanan pada daya beli kelas menengah bisa semakin berat,” katanya.
Adapun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan penjualan mobil nasional pada 2026 mencapai 850.000 unit, naik sekitar 5 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Namun, tantangan yang dihadapi sektor otomotif tetap sangat besar.






