Honda alami kerugian pertama dalam 70 tahun, kurangi target EV dan fokus pada hybrid hingga 2050

Perubahan Strategi Elektrifikasi di Industri Otomotif Global

Industri otomotif global kembali mengalami perubahan arah strategi elektrifikasi setelah Honda Motor mencatatkan kerugian tahunan pertamanya dalam hampir tujuh dekade sebagai perusahaan publik. Perubahan ini terjadi akibat tekanan besar dari biaya restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) yang mencapai miliaran dolar AS, sekaligus memaksa perusahaan melakukan reset terhadap target jangka panjangnya.

Langkah ini menandai perubahan arah strategi di industri otomotif global, di mana sejumlah produsen besar mulai mengevaluasi kembali kecepatan transisi menuju kendaraan listrik. Di sisi lain, keputusan tersebut juga menunjukkan tingginya risiko dari strategi elektrifikasi yang terlalu agresif ketika belum sepenuhnya sejalan dengan permintaan pasar.

Honda Motor Co. membukukan kerugian operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar Rp 45,85 triliun (kurs Rp 110,7 per yen) untuk tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret 2026. Perusahaan juga mencatat total kerugian terkait kendaraan listrik (EV) mencapai 1,45 triliun yen atau sekitar Rp 160,5 triliun, yang menjadi salah satu beban terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut.

Dalam laporan The Autopian, Honda secara resmi menghentikan target jangka panjang yang sebelumnya menetapkan kendaraan listrik (EV) akan menyumbang sekitar 20 persen dari total penjualan mobil baru pada 2030. Perusahaan juga membatalkan rencana transisi penuh ke kendaraan listrik pada 2040. CEO Honda Toshihiro Mibe juga mengonfirmasi penundaan besar strategi ekspansi EV, termasuk penangguhan proyek EV di Kanada senilai 11 miliar dolar AS (kurs Rp 17.600 per dolar AS atau sekitar Rp 193,6 triliun).

Fokus pada Kendaraan Hybrid dan Netralitas Karbon

Selain itu, Honda kini mengalihkan fokus lebih besar ke kendaraan hybrid sebagai jembatan menuju target netralitas karbon yang baru dipatok sekitar tahun 2050. Perubahan ini menunjukkan koreksi tajam dari strategi sebelumnya yang terlalu agresif dalam mengejar elektrifikasi penuh dalam waktu singkat.

Meski demikian, pasar merespons secara paradoks. Saham Honda sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan sebelum ditutup naik 3,8 persen, didorong oleh komitmen perusahaan untuk mengembalikan nilai kepada pemegang saham sebesar 800 miliar yen dalam tiga tahun tanpa pemotongan dividen.

Menurut analis mobilitas dari Macquarie, James Hong, persoalan utama Honda bukan hanya kerugian finansial, melainkan eksekusi strategi yang dinilai berjalan lambat. Dia mengatakan, “Secara keseluruhan, pelaksanaannya sangat lambat,” sebagai sorotan atas keterlambatan perusahaan dalam beradaptasi dengan cepatnya perubahan pasar kendaraan listrik global.

Kinerja Bisnis Sepeda Motor yang Kuat

Di sisi fundamental, Honda masih ditopang oleh bisnis sepeda motor yang kuat, terutama di India dan Brasil, yang mencatat rekor penjualan dan laba operasional. Namun, tekanan biaya bahan baku dan transisi industri di pasar berkembang mulai menggerus margin keuntungan segmen ini.

Dengan kondisi tersebut, Honda memperkirakan kembali ke profitabilitas pada tahun fiskal berjalan dengan laba operasional sekitar 500 miliar yen, ditopang efisiensi biaya dan kekuatan bisnis motor. Namun, risiko eksternal seperti harga material dan ketegangan geopolitik masih menjadi variabel besar.

Perubahan Strategi yang Menegaskan Kompetisi Global

Perubahan strategi Honda ini menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik bukanlah garis lurus. Di tengah kompetisi global dengan pemain seperti Tesla, Toyota, hingga Volkswagen, keputusan Honda untuk “mundur setengah langkah” menunjukkan bahwa keseimbangan antara inovasi, permintaan pasar, dan profitabilitas kini menjadi medan pertarungan utama industri otomotif dunia.

Pos terkait