IHSG Anjlok 4,32% di Sesi I


Pasar modal Indonesia mengalami koreksi tajam pada penutupan sesi perdagangan saham Selasa, 3 Maret. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus rela ditutup di zona merah, merosot sebanyak 343,192 poin atau 4,32 persen, bertengger di level 7.596,575. Tidak hanya IHSG, indeks LQ45 yang mencerminkan saham-saham berkapitalisasi besar dan likuiditas tinggi, juga turut terperosok 33,738 poin (4,19 persen) ke angka 771,857.

Situasi pasar yang lesu terlihat dari perbandingan jumlah saham yang diperdagangkan. Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 63 saham yang berhasil menguat, sementara mayoritas, yakni 713 saham, mengalami pelemahan. Sebanyak 37 saham lainnya stagnan, tidak menunjukkan pergerakan harga yang berarti. Frekuensi transaksi saham tercatat sebanyak 2.123.098 kali, dengan volume perdagangan mencapai 35,079 miliar saham. Nilai transaksi keseluruhan mencapai Rp 18,109 triliun, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi meskipun diwarnai sentimen negatif.

Sektor dan Saham yang Tertekan

Sejumlah saham tercatat sebagai top losers atau saham dengan penurunan harga terbesar pada sesi siang ini. Pergerakan saham-saham ini memberikan gambaran mengenai sektor mana saja yang paling terdampak oleh sentimen negatif yang melanda pasar.

  • Intermedia Capital (MDIA) menjadi salah satu saham yang paling tertekan, anjlok 10 poin atau 14,49 persen, dan berakhir di harga 59.
  • Bumi Resources Minerals (BRMS) juga mengalami pelemahan signifikan, turun 130 poin atau 13,27 persen, ditutup pada level 850.
  • Island Concepts Indonesia (ICON) mengikuti jejak pelemahan dengan kehilangan 15 poin atau 13,16 persen, diperdagangkan di harga 99.
  • Raharja Energi Cepu (RATU) mencatatkan penurunan drastis sebesar 800 poin atau 11,76 persen, mengakhiri perdagangan di level 6.000.
  • GTS Internasional (GTSI) tidak luput dari tekanan jual, melemah 36 poin atau 11,46 persen, dan ditutup pada harga 278.

Pelemahan ini mengindikasikan adanya aksi jual yang cukup masif di pasar, mendorong harga saham-saham tersebut turun jauh di bawah harga pembukaan.

Dampak Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Kondisi pasar saham yang negatif ini juga berimbas pada pergerakan mata uang domestik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau melemah pada siang hari. Berdasarkan data yang tersedia, rupiah terdepresiasi sebesar 45 poin atau 0,27 persen, diperdagangkan pada angka Rp 16.917 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini seringkali berkorelasi dengan sentimen negatif di pasar keuangan global maupun domestik, yang mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.

Analisis Bursa Saham Asia

Sentimen negatif di pasar modal Indonesia tampaknya tidak berdiri sendiri. Bursa saham di kawasan Asia juga menunjukkan tren pelemahan yang serupa pada waktu yang bersamaan. Hal ini mengindikasikan adanya faktor eksternal yang memengaruhi pasar secara regional.

  • Indeks Nikkei 225 di Jepang mengalami koreksi tajam, turun sebanyak 2.329,203 poin atau 4,14 persen, ditutup pada level 53.949,898.
  • Indeks Hang Seng di Hong Kong juga tertekan, merosot 717,019 poin atau 2,78 persen, berakhir di 25.051,060.
  • Indeks SSE Composite di China mencatatkan penurunan yang lebih moderat, kehilangan 59,110 poin atau 1,43 persen, dan ditutup pada 4.063,570.
  • Indeks Straits Times di Singapura turut mengalami pelemahan, turun 112,100 poin atau 2,28 persen, ke posisi 4.804,549.

Kondisi bursa saham Asia yang seragam dalam pelemahannya ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, atau kebijakan moneter dari bank sentral besar dunia. Investor cenderung mengurangi eksposur risiko mereka dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, yang tercermin dalam aksi jual di pasar saham.

Perlu dicatat bahwa pergerakan pasar saham dan mata uang bersifat dinamis dan dapat dipengaruhi oleh berbagai berita dan perkembangan ekonomi terkini. Analisis lebih mendalam diperlukan untuk memahami akar penyebab pelemahan yang terjadi pada hari tersebut.

Pos terkait