IHSG Merosot Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin pagi terpantau mengalami pelemahan. IHSG dibuka turun 142,59 poin atau setara dengan 1,73 persen, berada di level 8.092,90. Bersamaan dengan itu, indeks saham unggulan yang terdiri dari 45 saham pilihan, atau LQ45, juga mencatat penurunan sebesar 12,65 poin atau 1,52 persen, sehingga berada di posisi 821,71.

Gejolak Geopolitik Memicu Ketidakpastian Pasar Keuangan

Menurut Imam Gunadi, seorang Equity Analyst dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), eskalasi konflik yang terjadi antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), serta ketegangan yang merayap di kawasan Asia Selatan, telah secara signifikan meningkatkan premi risiko di pasar keuangan global. Situasi ini semakin krusial mengingat perkembangan yang terjadi di sekitar Selat Hormuz, yang memegang peranan vital sebagai jalur distribusi energi dunia.

“Ketidakpastian yang merebak ini berpotensi mendorong penguatan mata uang Dolar AS dan memicu kenaikan harga komoditas energi. Fenomena ini biasanya akan mengarahkan perputaran dana ke aset safe haven (aset aman) dan menekan arus modal masuk ke pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia,” jelas Imam.

Ia menambahkan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ditambah dengan kebijakan perdagangan AS yang terus mengalami perubahan, serta peringatan dari lembaga pemeringkat kredit mengenai tekanan fiskal yang semakin meningkat di Indonesia, menciptakan sebuah kombinasi isu yang menimbulkan kehati-hatian di seluruh pasar keuangan, baik global maupun domestik.

Selat Hormuz: Titik Krusial Rantai Pasok Energi Global

Konsekuensi dari eskalasi konflik di Timur Tengah terasa secara ekonomi global melalui perkembangan di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute transit yang sangat penting, karena dilalui oleh sekitar 20-25 persen dari total pasokan minyak mentah dan Gas Alam Cair (LNG) dunia setiap harinya.

Potensi penutupan atau gangguan terhadap aktivitas di Selat Hormuz dapat mengguncang pasar energi global secara fundamental. Jalur ini biasanya memfasilitasi perdagangan minyak mentah dan gas dalam jumlah yang sangat besar, mencapai puluhan juta barel per hari. Dampaknya dapat langsung terasa pada kondisi harga minyak dunia, kelancaran rantai pasok energi, serta lonjakan tajam pada biaya asuransi pengiriman.

Peluang di Tengah Ketidakpastian: Komoditas sebagai Penopang

Meskipun demikian, dalam situasi yang kompleks ini, harga minyak dan batu bara justru berpotensi menjadi penopang bagi sektor energi dan pertambangan di Indonesia. Hal ini terutama jika harga komoditas tersebut mampu bertahan pada level yang tinggi.

Imam Gunadi mengemukakan bahwa Indonesia, sebagai salah satu eksportir batu bara dan berbagai komoditas energi lainnya, berpotensi meraih keuntungan dari sisi peningkatan harga jual rata-rata (Average Selling Price – ASP) serta potensi perbaikan margin keuntungan bagi emiten-emiten di sektor yang terkait.

“Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, saham-saham yang berbasis pada komoditas sering kali berperan sebagai proksi lindung nilai (hedging) terhadap risiko geopolitik dan inflasi global,” ujar Imam.

Risiko Inflasi dan Tekanan Rupiah

Di sisi lain, jika eskalasi konflik yang terjadi justru menyebabkan lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, Imam menguraikan bahwa risiko inflasi global dan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dapat meningkat secara signifikan.

Ia melanjutkan bahwa kenaikan harga minyak yang substansial berpotensi memperbesar tekanan pada neraca transaksi berjalan Indonesia. Hal ini terjadi melalui peningkatan nilai impor migas (minyak dan gas), yang pada saat bersamaan juga akan meningkatkan volatilitas nilai tukar Rupiah.

“Jika Rupiah mengalami pelemahan dan imbal hasil obligasi global mengalami kenaikan, maka volatilitas IHSG dapat meningkat lebih lanjut. Hal ini dikarenakan investor asing cenderung mengurangi eksposur mereka pada aset-aset berisiko dalam situasi seperti itu,” pungkas Imam.

Pos terkait