IHSG Naik Pekan Lalu, IPOT Sarankan Saham Energi dan ETF Dividen



Pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan signifikan hingga mencapai level 7.634 dengan kenaikan sebesar 2,35%. Meskipun demikian, aliran dana asing masih menunjukkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 2,4 triliun yang terutama berasal dari sektor perbankan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyatakan bahwa pergerakan pasar tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ia menjelaskan bahwa sentimen utama saat ini masih didorong oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang situasinya tergolong tidak stabil dan berubah dengan cepat.

Selain itu, ketidakstabilan di kawasan tersebut, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% minyak dunia, memicu sensitivitas tinggi di pasar energi global. Hal ini turut mendorong harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak hingga US$ 102 per barel pada Maret lalu. Meski ada upaya stabilisasi seperti izin pembelian minyak Rusia oleh Amerika Serikat, Imam menilai pasokan global masih dalam kondisi ketat.

Secara struktural, harga energi diperkirakan tetap tinggi meskipun ada koreksi jangka pendek. Kondisi ini mulai memberikan dampak pada kualitas pertumbuhan ekonomi global. China, misalnya, masih mencatat pertumbuhan sekitar 5%, namun mulai menghadapi tekanan dari sisi konsumsi domestik maupun eksternal.

Sementara itu, sektor komoditas seperti nikel dinilai memiliki prospek yang kompleks. Di satu sisi, ada potensi kenaikan harga akibat gangguan pasokan bahan baku, namun di sisi lain, kenaikan biaya produksi berpotensi menekan margin keuntungan.

Untuk pekan ini (20–24 April 2026), Imam memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan sideways dan volatil, seiring dominasi sentimen global dan belum stabilnya aliran dana asing. Secara teknikal, level 7.773 menjadi resistance terdekat yang perlu dicermati. Jika berhasil ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan. Namun, jika tertahan, risiko koreksi masih terbuka.

Adapun level 7.308 menjadi support penting yang akan menopang pergerakan indeks apabila terjadi tekanan. Pergerakan IHSG kemungkinan masih akan berada dalam range tersebut, dengan market yang cenderung reaktif terhadap perkembangan eksternal.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga perlu mencermati sejumlah sentimen penting, seperti keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan tetap di level 4,75%, data Loan Prime Rate (LPR) China, data retail sales Amerika Serikat, serta data persediaan minyak mentah AS.

Merespons dinamika pasar, IPOT merekomendasikan beberapa saham untuk trading pekan ini. Pertama, saham PGEO dengan entry di level Rp1.035–Rp1.045, target harga Rp1.105–Rp1.115, dan stop loss di bawah Rp1.000. Saham ini dinilai menarik karena menawarkan eksposur energi berbasis renewable yang lebih defensif di tengah volatilitas energi fosil.

Kedua, saham ASII dengan entry Rp 6.350–Rp 6.400, target harga Rp 6.600 hingga Rp 6.775, serta stop loss di bawah Rp6.175. Diversifikasi bisnis ASII dinilai mampu memberikan keseimbangan di tengah ketidakpastian global.

Ketiga, saham DSSA dengan entry Rp 3.240–Rp 3.260, target harga Rp 3.450, dan stop loss di bawah Rp3.150. Eksposur ke sektor energi, khususnya batubara, menjadi katalis utama saham ini.

Selain saham, IPOT juga merekomendasikan instrumen reksadana berbasis ETF, yakni Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) dengan entry di level 654, target harga 672, dan stop loss di bawah 645. ETF ini dinilai relevan di tengah volatilitas pasar karena memberikan eksposur pada saham dengan dividen tinggi, sekaligus membantu diversifikasi portofolio investor.

Pos terkait