Kampung Nastar: Jantung UMKM Kue Kering di Ciledug yang Tak Pernah Sepi Pesanan
Di tengah hiruk pikuk perkotaan Tangerang, tepatnya di kawasan Ciledug, Larangan, terdapat sebuah permukiman yang memiliki kekhasan tersendiri. Kawasan ini dikenal sebagai “Kampung Nastar,” sebuah pusat UMKM kue-kue kering yang selalu dibanjiri pesanan, terutama menjelang momen-momen spesial seperti Hari Raya Idulfitri. Di sinilah, di antara tujuh hingga delapan rumah yang membuka usaha kue kering, tradisi kuliner warisan leluhur terus dijaga kelestariannya. Berbagai macam kue kering klasik seperti nastar, kastengel, putri salju, dan lidah kucing, lahir dari dapur-dapur para pengusaha rumahan ini.

Keunikan Kampung Nastar tidak hanya terletak pada ragam kuenya, tetapi juga pada sejarah panjang yang melatarbelakanginya. Beberapa pengusaha kue di kawasan ini telah meneruskan usaha secara turun-temurun, menunjukkan betapa kuatnya akar tradisi kuliner yang tertanam di sana. Salah satu contohnya adalah Toko Botisha, sebuah usaha keluarga yang telah berdiri sejak tahun 1987. Tasya, generasi kedua yang kini meneruskan estafet usaha ibunya, berbagi cerita tentang perjalanan panjang bisnis kue kering ini.
“Ini bukan sepenuhnya punya saya, melainkan warisan dari ibu saya. Sejak kecil saya sudah terbiasa membantu ibu, dan sekarang saya yang melanjutkan perjuangannya. Usaha ini sudah berjalan sejak tahun 1987,” ungkap Tasya dengan nada bangga.

Menjelang Hari Raya Idulfitri, kesibukan di Kampung Nastar meningkat drastis. Tasya dan para karyawannya seringkali harus bekerja lembur hingga larut malam demi memenuhi lonjakan pesanan yang luar biasa. “Pesanan membeludak, sampai kami harus lembur, kadang sampai jam 1 pagi. Dari bulan Januari hingga Februari saja, kami sudah memproduksi sekitar 12 ribu stoples, dan itu baru untuk kue nastar saja,” jelasnya.
Meskipun dinamakan Kampung Nastar, kawasan ini tidak hanya memproduksi kue nastar. Berbagai jenis kue kering lainnya juga menjadi andalan para pengusaha di sini. Di Toko Botisha milik Tasya, selain nastar yang menjadi primadona, ia juga memproduksi kastengel, putri salju, sagu keju, lidah kucing, nastar dengan isian kacang cokelat Nutella, hingga kacang mete goreng. Keragaman ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan yang mencari pilihan kue kering yang beragam.
Harga dan Ketersediaan Produk di Toko Botisha
Untuk harga, Toko Botisha menawarkan kue-kue klasik dengan harga yang sangat bersaing. Rata-rata, kue kering dengan ukuran stoples standar dibanderol seharga Rp 68 ribu. Tasya juga memastikan bahwa mereka selalu memiliki stok yang siap sedia atau pelanggan dapat menghubungi terlebih dahulu jika memesan dalam jumlah besar. Hal ini menunjukkan komitmen mereka terhadap kepuasan pelanggan dan kelancaran produksi.
Keajaiban Pengolahan Nanas di Toko Mysha
Berpindah ke toko lain, yakni Toko Mysha, terdapat kisah yang tak kalah menarik. Salah satu karyawannya menceritakan kemampuan mereka dalam mengolah nanas dalam jumlah besar. Dalam kurun waktu dua minggu, mereka mampu memproses sekitar 4.000 buah nanas untuk dijadikan selai isian nastar.
“Awalnya, di minggu pertama kami mengolah 3.500 nanas untuk membuat selai. Namun, tiba-tiba pesanan bertambah, sehingga kami harus menambah lagi sekitar 500 nanas lagi,” ujar sang karyawan.
Pemilik Toko Mysha, yang tidak ingin disebutkan namanya, menambahkan bahwa ia dan timnya mampu memproduksi sekitar 100 stoples nastar setiap harinya. Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari individu hingga hotel-hotel ternama, meskipun ia enggan menyebutkan nama hotel yang menjadi pelanggannya.

Di Toko Mysha, ragam kue kering yang ditawarkan bahkan lebih bervariasi. Pengunjung dapat menemukan nastar dengan aneka pilihan rasa yang unik, seperti keju, green tea, red velvet, wijen, dan masih banyak lagi. Selain itu, kue-kue kering lainnya seperti kastengel, putri salju, lidah kucing, sagu keju, hingga kue cokelat juga tersedia.
Berbeda sedikit dengan Botisha, harga kue kering di Mysha dengan ukuran stoples normal dibanderol seharga Rp 60 ribu. Bagi pelanggan yang mencari pilihan yang lebih kecil atau sebagai sampel, tersedia juga kue kering dalam stoples mini yang dijual seharga Rp 40 ribu.
Semangat Gotong Royong Melestarikan UMKM
Kampung Nastar tidak hanya menjadi pusat produksi kue kering, tetapi juga menjadi simbol semangat kebersamaan dan gotong royong. Di kawasan ini, para ibu-ibu setempat yang mayoritas tinggal di dua RT berbeda, bahu-membahu dalam melestarikan usaha UMKM kue kering ini. Kolaborasi dan kekeluargaan menjadi kunci keberhasilan mereka dalam menjaga tradisi kuliner ini tetap hidup dan berkembang hingga kini.

Kawasan Kampung Nastar, yang berlokasi di Jl. H. Unus RT 05/RW 01, Ciledug, Larangan Utara, Tangerang, Banten 15154, menjadi bukti nyata bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang signifikan, sambil tetap mempertahankan warisan budaya kuliner bangsa. Keberadaan UMKM di Kampung Nastar tidak hanya memberikan penghidupan bagi para pelakunya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata kuliner yang patut dibanggakan.





