Keju Pemicu Mimpi Buruk?

Mimpi buruk, pengalaman tidur yang mengganggu dan seringkali menakutkan, dapat dipicu oleh berbagai macam faktor. Mulai dari peristiwa traumatis yang membekas, tingkat stres yang melambung tinggi, hingga efek samping dari obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol berlebihan, kondisi penyakit, bahkan depresi. Namun, ada satu makanan yang seringkali dikaitkan dengan fenomena mimpi buruk: keju. Benarkah anggapan ini memiliki dasar ilmiah yang kuat?

Menelisik Hubungan Antara Makanan dan Kualitas Tidur

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Juli 2025 dalam jurnal Frontiers in Psychology, berjudul “More Dreams of the Rarebiet Fiend: Food Sensitivity and Dietary Correlates of Sleep and Dreaming,” mencoba menjawab rasa penasaran ini. Studi ini secara khusus meneliti kaitan antara pola makan dan kualitas tidur, dengan melibatkan 1.082 partisipan yang mengisi survei daring. Survei tersebut mencakup detail mengenai kebiasaan makan, sensitivitas terhadap makanan tertentu, pola tidur, serta pengalaman bermimpi mereka.

Temuan Survei: Makanan dan Pengaruhnya pada Tidur

Hasil survei memberikan gambaran menarik. Sekitar 40 persen responden mengaku bahwa kebiasaan makan mereka memengaruhi kualitas tidur. Pengaruh ini bisa berasal dari jenis makanan yang dikonsumsi maupun waktu makan. Makanan penutup atau hidangan manis menjadi faktor yang paling sering dikaitkan dengan tidur yang lebih buruk, disebut oleh 23 persen responden. Diikuti oleh makanan pedas (20 persen) dan produk susu (15,7 persen).

Namun, ketika fokus survei dialihkan pada pengalaman bermimpi, hanya sebagian kecil partisipan, yaitu 59 orang atau sekitar 5,5 persen, yang merasa bahwa makanan tertentu atau kebiasaan makan larut malam memengaruhi mimpi mereka, baik secara positif maupun negatif. Dari kelompok kecil ini, produk susu disebut sebagai penyebab perubahan mimpi oleh 21 persen partisipan. Meskipun demikian, makanan manis dan hidangan penutup tetap menjadi faktor yang paling sering disebut, mencapai 30 persen.

Intoleransi Makanan dan Peningkatan Frekuensi Mimpi Buruk

Menariknya, para peneliti menemukan adanya hubungan yang cukup kuat antara partisipan yang memiliki alergi makanan atau intoleransi laktosa dengan frekuensi mimpi buruk yang lebih sering. Fenomena ini terutama dialami oleh individu yang juga mengalami keluhan pencernaan, seperti perut kembung atau kram.

Meskipun temuan ini memberikan perspektif baru, penting untuk dicatat bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil responden yang secara sadar merasa makanan memengaruhi mimpi mereka. Mayoritas dari kelompok tersebut adalah individu yang memiliki intoleransi makanan. Selain itu, data yang diperoleh berasal dari laporan mandiri partisipan, yang berarti potensi bias ingatan tetap ada. Ada kemungkinan responden tidak dapat mengingat secara akurat apa yang mereka makan atau mimpikan.

Survei ini menegaskan bahwa meskipun terdapat keterkaitan antara jenis makanan dan kebiasaan bermimpi, penelitian ini tidak dapat membuktikan secara definitif bahwa keju, secara langsung, menjadi penyebab tunggal dari mimpi buruk.

Riset Sebelumnya dan Perspektif Ahli

Penelitian terbaru ini merupakan kelanjutan dari riset sebelumnya yang dipublikasikan pada tahun 2015 di jurnal yang sama. Studi sebelumnya juga menelaah hubungan antara konsumsi produk susu dan mimpi. Dalam riset tersebut, sekitar 18 persen partisipan secara anekdotal percaya bahwa makanan yang mereka konsumsi dapat memengaruhi mimpi mereka. Dari kelompok ini, 44 persen menunjuk produk susu sebagai “tersangka utama”. Namun, sama seperti penelitian terbaru, data dari studi ini juga bersifat laporan mandiri dan tidak sepenuhnya akurat.

Menanggapi temuan-temuan ini, terapis tidur Dr. Katharina Lederle memberikan pandangannya. Ia berpendapat bahwa makanan memang berpotensi mengganggu kualitas tidur. “Makanan berlemak atau manis yang dikonsumsi pada sore hari atau menjelang tidur dapat mengganggu kualitas tidur, dan membuat seseorang berada lebih lama pada fase tidur ringan, termasuk fase REM (rapid eye movement),” jelas Dr. Lederle. Ia juga menambahkan bahwa individu dengan intoleransi laktosa, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian terbaru, cenderung lebih rentan mengalami gangguan tidur setelah mengonsumsi produk susu.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh ahli gizi terdaftar BANT, Eva Humphries. “Mengonsumsi makanan tinggi lemak atau protein pada malam hari dapat mengganggu tidur, sehingga membuat kita lebih mungkin mengingat mimpi,” tutur Humphries. Ia menjelaskan bahwa anggapan tentang keju sebagai pemicu mimpi buruk kemungkinan muncul karena keju umumnya mengandung lemak dan protein dalam jumlah tinggi.

“Bukan berarti makanan tersebut secara langsung menyebabkan mimpi, tetapi karena tidur menjadi kurang nyenyak, kita jadi lebih sadar akan mimpi yang terjadi,” kata Humphries. Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa makanan tinggi lemak dan protein membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Jika dikonsumsi mendekati waktu tidur, sistem pencernaan masih aktif bekerja saat tubuh seharusnya beristirahat. Hal ini dapat memicu lebih banyak terbangun di malam hari dan mengurangi fase tidur nyenyak.

Faktor Lain yang Mempengaruhi Kualitas Tidur dan Mimpi

Penting untuk diingat bahwa makanan bukanlah satu-satunya faktor yang dapat membuat mimpi terasa lebih aneh atau mengganggu. Menurut Dr. Lederle, stres, kecemasan, dan rasa tidak pasti juga memiliki peran besar dalam memengaruhi kualitas tidur secara keseluruhan.

“Saya melihat kehidupan mimpi sebagai kelanjutan dari kehidupan saat terjaga. Apa yang kita alami sepanjang hari, dengan satu atau lain cara, akan diproses kembali saat kita tidur,” kata Dr. Lederle.

Selain itu, minuman juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Kafein, misalnya, merupakan stimulan yang dapat meningkatkan kewaspadaan dengan menghambat sinyal tidur alami di otak. Alkohol pun tak luput dari perhatian. Meskipun awalnya dapat membantu seseorang terlelap, alkohol justru dapat memicu gangguan tidur di paruh malam berikutnya, menyebabkan tidur yang terfragmentasi dan kurang berkualitas.

Pos terkait