Keluarga Bintan Tuntut Aksi Tegas Pelaku Bacok Mahasiswi UIN

Tragedi di Kampus: Mahasiswi Dibacok Jelang Sidang Skripsi, Ikatan Keluarga Bintan Riau Suarakan Keprihatinan

Sebuah peristiwa mengerikan mengguncang civitas akademika Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska) di Pekanbaru. Seorang mahasiswi yang seharusnya merayakan pencapaian akademisnya dengan menjalani sidang skripsi, justru harus berhadapan dengan aksi kekerasan brutal. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan luka fisik yang mendalam, tetapi juga meninggalkan luka batin yang dalam bagi korban, keluarganya, serta seluruh komunitas kampus.

Ketua Ikatan Keluarga Bintan Riau, H Hasyim Aliwa, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kejadian yang menimpa mahasiswi asal Bintan tersebut. Ia menggambarkan peristiwa ini sebagai “sangat menyayat hati”, di mana seorang generasi muda yang berada di fase penting dalam perjuangan akademisnya menjadi korban kekerasan yang tidak dapat dibenarkan.

“Adik kita ini sedang berada di fase penting hidupnya, hendak sidang skripsi, tetapi justru menjadi korban kekerasan brutal. Ini bukan hanya luka fisik, ini luka batin dan luka bagi semua,” ujar Hasyim, menekankan dampak luas dari tragedi ini.

Kronologi dan Dampak Kekerasan

Menurut informasi yang berkembang, pelaku penyerangan diduga memiliki hubungan pribadi dengan korban. Tanpa peringatan, pelaku tiba-tiba mendatangi korban dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam. Akibat serangan mendadak tersebut, korban mengalami luka serius di bagian kepala dan tangan. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad untuk mendapatkan penanganan medis darurat dan intensif.

Sementara itu, pelaku penyerangan telah berhasil diamankan oleh aparat kepolisian. Saat ini, pelaku tengah menjalani proses hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang sadis.

Solidaritas dan Dukungan dari Kampung Halaman

Bagi masyarakat Bintan, kejadian ini bukan sekadar insiden yang menimpa salah satu warganya di perantauan. Hasyim Aliwa menegaskan bahwa seluruh masyarakat Bintan merasakan duka yang mendalam atas peristiwa tersebut. Korban, sebagai bagian dari generasi muda, merupakan representasi harapan keluarga dan kampung halaman yang berjuang mengangkat martabat melalui pendidikan.

“Dia datang merantau untuk menuntut ilmu, membawa harapan orang tua dan kampung halamannya. Kekerasan seperti ini tidak boleh dianggap persoalan pribadi semata. Ini persoalan kemanusiaan,” tegas Hasyim. Ia menekankan bahwa kasus ini harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya sebagai masalah individu antara pelaku dan korban, melainkan sebagai tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Seruan untuk Penegakan Hukum yang Tegas dan Transparan

Menyikapi situasi yang terjadi, Hasyim Aliwa secara tegas meminta aparat penegak hukum untuk menangani kasus ini dengan penuh ketegasan dan transparansi. Ia berharap proses hukum berjalan adil dan memberikan efek jera bagi pelaku serta mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

“Kami percaya proses hukum akan berjalan. Tetapi pesan kami jelas tidak boleh ada toleransi terhadap kekerasan, apalagi terhadap perempuan. Ini harus menjadi peringatan keras bagi siapa pun,” ujarnya, menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan penolakan segala bentuk kekerasan.

Pesan Refleksi untuk Generasi Muda

Lebih lanjut, Hasyim Aliwa mengajak seluruh generasi muda untuk menjadikan peristiwa tragis ini sebagai bahan refleksi dan pembelajaran penting. Ia mengingatkan bahwa persoalan hubungan, emosi, atau konflik pribadi tidak boleh diselesaikan dengan cara-cara brutal dan kekerasan.

“Kalau ada masalah, selesaikan dengan dialog, dengan kepala dingin. Jangan pernah membiarkan amarah mengalahkan akal sehat. Satu tindakan nekat bisa menghancurkan masa depan banyak orang,” imbaunya, menekankan pentingnya pengendalian diri dan penyelesaian masalah secara konstruktif.

Dukungan Moral dan Harapan Kesembuhan

Ikatan Keluarga Bintan Riau menyatakan komitmennya untuk terus memantau perkembangan kondisi kesehatan korban. Dukungan moril akan terus diberikan kepada korban dan keluarganya selama masa pemulihan. Saat ini, korban masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Keluarga korban dan seluruh masyarakat berharap agar kondisi korban segera membaik. Mereka juga berharap agar korban dapat segera pulih sepenuhnya dan melanjutkan cita-citanya yang sempat tertunda akibat peristiwa traumatis tersebut. Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang betapa pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan, terutama di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan berkembang.

Pos terkait