Keong Sawah Berbumbu Rempah: Kuliner Khas Ramadan yang Diburu di Purwokerto
Setiap sore di bulan Ramadan, halaman rumah Danny Alfry di Kelurahan Purwokerto Lor selalu diserbu warga. Mereka datang dengan satu tujuan: memburu keong sawah berbumbu rempah, sebuah hidangan yang telah lama menjadi ikon kuliner berbuka puasa di Purwokerto. Di atas wajan besar, tumpukan keong sawah yang mulai berubah warna kekuningan terlihat mendidih perlahan. Uap panas berpadu dengan aroma rempah yang khas memenuhi udara, menandakan proses memasak yang telah dimulai sejak pagi. Di sinilah lahir salah satu kuliner istimewa yang dinanti-nantikan setiap bulan puasa.
Keong sawah olahan hangat racikan Danny selalu menjadi incaran para warga untuk menu berbuka puasa. Setiap kali Ramadan tiba, permintaan untuk hidangan ini melonjak tajam. Danny mengakui bahwa penjualan keong di lapaknya mengalami peningkatan signifikan dibandingkan hari-hari biasa. “Alhamdulillah, setiap bulan Ramadan di sini penjualan keong meningkat. Hampir bisa dikatakan sampai 100 persen,” ungkap Danny.
Peningkatan Penjualan Signifikan Selama Ramadan
Pada hari-hari normal, Danny biasanya hanya mampu menjual sekitar 15 hingga 30 kilogram keong per hari. Namun, ketika bulan puasa tiba, angka tersebut bisa melonjak lebih dari tiga kali lipat. “Kalau hari biasa paling 15 sampai 30 kilo. Kalau bulan Ramadan bisa sampai 100 kilo,” jelasnya.
Jenis keong yang diolah Danny adalah keong sawah, yang menurutnya paling cocok dijadikan menu berbuka puasa karena teksturnya yang empuk dan rasanya yang unik. Proses memasaknya pun tidak bisa dibilang sebentar. Agar bumbu meresap sempurna hingga ke dalam daging keong, Danny membutuhkan waktu berjam-jam untuk merebusnya. “Itu direbus kurang lebih empat jam. Kadang bisa sampai lima sampai enam jam,” katanya. Ia biasanya memulai proses memasak sejak dini hari hingga menjelang siang. Waktu perebusan yang lama ini dianggap sebagai kunci utama kelezatan olahan keong racikannya, memastikan tekstur dan rasa bumbu meresap sempurna. “Daging keongnya juga jadi lebih empuk,” tambahnya.
Selama Ramadan, lapak keong milik Danny hampir selalu diserbu pembeli. Dalam sehari, sekitar 100 kilogram keong matang bisa ludes terjual. “Kalau bulan Ramadan sekitar 100 kilo. Habis, Alhamdulillah,” tuturnya.
Tantangan Pasokan dan Solusi Inovatif
Meskipun demikian, Danny sempat menghadapi kendala di awal Ramadan tahun ini. Curah hujan yang tinggi membuat aktivitas pencarian keong di sawah menjadi lebih sulit. “Awal Ramadan, sekitar hari keempat, memang bahan bakunya agak susah karena hujan besar. Jadi di sawah susah cari keong,” keluhnya. Akibatnya, pasokan yang ia terima hanya mencapai setengah dari kebutuhan normalnya. “Waktu itu cuma dapat sekitar 50 kilogram.”
Untuk mengatasi kekurangan bahan baku ini, Danny mengandalkan pasokan dari luar daerah. Sebagian besar keong didatangkan dari Kabupaten Demak, yang telah menjadi pemasok langganannya. “Ada yang dari Demak. Kita dikirimi karena memang sudah langganan dari sana,” ujarnya.
Racikan Bumbu Khas yang Menggugah Selera
Keong-keong tersebut kemudian diolah dengan racikan bumbu khas yang dibuat sendiri oleh Danny. Sekilas, penampilannya memang mirip dengan masakan rica-rica. Namun, Danny menegaskan bahwa olahan keongnya memiliki ciri khas tersendiri. “Kalau rica-rica biasanya pakai merica, sedangkan ini tidak pakai merica. Jadi masakan keong ala-ala saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Bumbu yang digunakan cukup beragam, meliputi cabai, bawang merah, bawang bombay, serai, serta berbagai rempah dapur lainnya. Ia juga menambahkan kunyit untuk memberikan warna dan aroma yang lebih kuat pada masakannya. “Bumbu dasarnya cabai, bawang, bawang bombay, daun serai, dan rempah-rempah. Pakai kunyit, tapi tanpa merica,” jelasnya.
Dengan harga Rp60 ribu per kilogram keong matang, dan penjualan yang mencapai sekitar 100 kilogram per hari selama Ramadan, omzet Danny dapat menembus jutaan rupiah. “Kalau omzet sekitar Rp 6 juta per hari,” ungkapnya.
Warisan Keluarga dan Pengetahuan Lokal
Usaha pengolahan keong ini bukanlah hal baru bagi keluarga Danny. Bisnis ini telah dirintis oleh ayahnya sejak era 1990-an. Kini, Danny meneruskan warisan usaha tersebut setelah sang ayah meninggal dunia pada Desember tahun lalu.
Danny juga menjelaskan bahwa keong yang telah dimasak masih aman untuk dikonsumsi hingga dua hari, asalkan disimpan dalam kondisi dingin. “Masakan ini bisa tahan dua hari. Yang penting disimpan dalam keadaan dingin, nanti kalau mau dimakan tinggal dihangatkan lagi,” terangnya.
Lebih lanjut, Danny mengklarifikasi perbedaan antara keong dan kraca. Banyak orang sering menyamakan keduanya, padahal secara bentuk, keduanya memiliki perbedaan. “Sebetulnya kraca itu yang buntutnya panjang. Tapi di sini istilah yang populer tetap kraca,” katanya.
Para pembeli biasanya mulai berdatangan sekitar pukul 14.00 WIB. “Kemarin bahkan jam tiga sudah habis,” ungkapnya, menunjukkan tingginya minat konsumen.
Salah satu pelanggan setia, Putra (32), memuji cita rasa keong racikan Danny yang dianggapnya berbeda dari tempat lain. Menurutnya, bumbu yang kuat dan aroma rempah yang khas menjadi alasan utama ia selalu membeli keong di lapak ini setiap Ramadan. “Kalau di sini rasanya beda, bumbunya benar-benar terasa rempahnya. Dari warnanya saja sudah kelihatan menggugah selera,” ujarnya. Ia bahkan merasa ada yang kurang jika tidak menyantap keong tersebut saat berbuka puasa. “Setiap bulan puasa pasti beli keong. Rasanya seperti tidak sah Ramadan kalau belum berbuka pakai keong ini,” pungkasnya.





