Iran Berduka: Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei Dikabarkan Tewas dalam Serangan AS-Israel
Teheran, Iran – Media Iran, Fars News Agency, melaporkan berita yang menggemparkan dunia pada Sabtu, 28 Februari 2026 pagi, dengan mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Menurut laporan tersebut, Khamenei meninggal dunia di kantornya saat sedang menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Detail lebih lanjut mengenai penyebab pasti kematiannya masih dirahasiakan, namun berbagai sumber mengindikasikan bahwa peristiwa ini merupakan akibat dari serangan udara terkoordinasi yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Kematian Khamenei, yang telah memimpin Iran selama 36 tahun sejak 1989, dikonfirmasi oleh kantor berita Tasnim dan Fars. Peristiwa ini menandai titik balik krusial dalam sejarah modern Iran, memicu ketegangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Menyusul kabar duka ini, Iran telah menyatakan masa berkabung selama 40 hari dan menetapkan tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pemimpin agung mereka.
Operasi Militer Gabungan AS-Israel: “Operation Epic Fury”
Serangan yang diduga merenggut nyawa Ayatollah Ali Khamenei, yang diberi nama sandi “Operation Epic Fury”, dilaporkan dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026, sekitar pukul 01.15 dini hari waktu setempat. Operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel ini menargetkan berbagai fasilitas strategis di Iran, mulai dari pusat komando militer hingga infrastruktur yang berkaitan dengan program rudal dan drone.
Citra satelit dari Airbus Defence and Space yang diperoleh New York Times menunjukkan kerusakan parah pada bangunan utama di kompleks Beit-e Rahbari, yang dikenal bukan hanya sebagai kediaman Khamenei, tetapi juga sebagai pusat penting untuk menerima pejabat senior Iran. Foto-foto udara yang beredar memperlihatkan bahwa bangunan yang menjadi tempat tinggal langsung Khamenei, beserta perimeter keamanannya, telah rata dengan tanah.
Target utama dari “Operation Epic Fury” meliputi:
* Fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
* Lapangan udara militer.
* Sistem pertahanan udara.
* Infrastruktur peluncuran rudal balistik Iran.
Skala serangan ini dilaporkan sebagai salah satu operasi militer paling masif dalam sejarah konflik AS-Iran, dirancang untuk memberikan pukulan telak terhadap struktur kepemimpinan dan kapabilitas militer Iran.
Reaksi Dunia dan Ancaman Balasan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan kematian Ayatollah Ali Khamenei setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lebih dahulu menyampaikan klaim serupa. Trump menggambarkan momen ini sebagai “peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali Negara mereka,” seraya mengklaim bahwa moral aparat keamanan Iran mulai runtuh.
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan melalui platform media sosial Truth Social pada Sabtu, 28 Februari 2026, Trump menegaskan bahwa serangan udara terhadap Iran akan terus berlanjut tanpa henti. “Pengeboman berat dan presisi akan terus berlanjut, tanpa gangguan sepanjang minggu ini atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kita yakni PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN, BAHKAN, DUNIA!” tegasnya, mengindikasikan bahwa strategi militer Washington memiliki cakupan yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Menyusul konfirmasi kematian Khamenei, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah negara.” Melalui kantor berita Fars pada Minggu, 1 Maret 2026, IRGC menegaskan bahwa serangan balasan akan menargetkan wilayah pendudukan dan pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah. “Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan akan disesali para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka,” bunyi pernyataan tersebut, menyiratkan respons yang keras dan tanpa kompromi.
IRGC juga menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Khamenei, menyebutnya sebagai “seorang pemimpin besar” yang kepergiannya menimbulkan kesedihan. “IRGC akan berdiri teguh dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing,” imbuh mereka.
Pukulan Telak bagi Struktur Kepemimpinan Iran
Lembaga kajian militer Institute for the Study of War (ISW) menilai bahwa Israel menerapkan strategi serangan yang berfokus pada “pemenggalan” kepemimpinan Iran, sementara Amerika Serikat lebih banyak menargetkan sasaran militer strategis. Laporan juga menyebutkan bahwa sejumlah tokoh penting Iran turut tewas dalam serangan tersebut, termasuk komandan IRGC, menteri pertahanan, kepala intelijen, dan sekretaris dewan pertahanan.
Khamenei, yang menggantikan pendiri Revolusi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, memegang posisi tertinggi di negara tersebut. Sesuai konstitusi Iran, dewan ulama kini memiliki tugas untuk memilih pemimpin tertinggi yang baru. Namun, rangkaian serangan terhadap para elite pemerintahan ini diperkirakan akan membuat struktur kepemimpinan Iran berada dalam kondisi kacau dan sangat rentan terhadap krisis suksesi.
Korban Sipil dan Potensi Eskalasi Lebih Lanjut
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa serangan tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 200 orang dan menyebabkan hampir 750 lainnya mengalami luka-luka. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan sedang menyelidiki laporan bahwa salah satu serangan menghantam sekolah putri di Iran selatan, yang diduga menewaskan lebih dari 80 siswi.
Respons Iran terhadap serangan AS dan Israel dinilai oleh ISW berlangsung dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dilaporkan sedikitnya 35 rudal telah diluncurkan ke wilayah Israel. Selain itu, Iran juga mengirimkan rudal dan drone ke berbagai pangkalan AS di kawasan Teluk Persia, termasuk di Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
Di tengah eskalasi yang terus meningkat, Donald Trump mengungkapkan kepada Axios bahwa ia masih memiliki beberapa opsi “jalan keluar,” termasuk kemungkinan serangan tambahan di masa depan. “Saya bisa melanjutkan lebih lama dan mengambil alih seluruhnya, atau mengakhirinya dalam dua atau tiga hari dan mengatakan kepada Iran, ‘Sampai jumpa lagi dalam beberapa tahun jika Anda mulai membangun kembali program nuklir dan rudal Anda,’” ujarnya, menegaskan bahwa Iran akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih dari dampak serangan ini.
Jalan Buntu Diplomasi dan Masa Depan yang Suram
Serangan ini terjadi setelah perundingan antara diplomat AS dan Iran mengenai program nuklir mengalami kebuntuan. Trump dan anggota parlemen dari kedua partai di AS tetap menentang pengembangan senjata nuklir oleh Iran, sebuah tuduhan yang selama ini dibantah oleh Teheran.
Dengan situasi yang terus memburuk dan arah konflik yang masih belum jelas, dunia kini menanti dengan cemas: apakah eskalasi ini akan berujung pada perdamaian yang diklaim Washington, atau justru membuka babak paling berbahaya dalam sejarah konflik global modern.





