Laporan Mengindikasikan Kematian Pemimpin Tertinggi Iran dalam Serangan Gabungan AS-Israel
Sebuah laporan yang muncul pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat mengindikasikan kemungkinan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah serangan udara yang dilancarkan secara gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel. Berita ini, jika terkonfirmasi, akan menandai akhir dari lebih dari tiga dekade kepemimpinan Khamenei di Republik Islam Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan mengklaim adanya tanda-tanda kuat bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal dunia akibat serangan yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Netanyahu menggambarkan kompleks kediaman Khamenei mengalami kehancuran total akibat serangan tersebut.
“Pagi ini, dalam serangan mendadak yang dahsyat, kompleks kediaman Ali Khamenei hancur di jantung Teheran,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari laporan media. Ia juga menambahkan bahwa terdapat indikasi kuat bahwa pria berusia 86 tahun itu telah tiada.
Serangan ini dilaporkan meluas ke berbagai situs di seluruh Iran, tidak hanya terbatas di Teheran. Laporan dari berbagai sumber internasional menunjukkan bahwa lokasi-lokasi strategis di berbagai kota besar Iran turut menjadi sasaran. Wilayah yang dilaporkan terkena serangan meliputi:
- Teheran
- Karaj
- Tabriz
- Kermanshah
- Khorramabad
- Bushehr
- Qom
- Isfahan
- Chabahar
- Konarak
Rekaman video yang beredar di platform media sosial X menampilkan pemandangan yang diduga sebagai lebih dari 21 rudal jelajah Tomahawk melintasi wilayah udara Iran. Video tambahan yang muncul di media sosial juga memperlihatkan drone Reaper yang beroperasi di atas Shiraz, Provinsi Fars, yang dilaporkan mendahului lebih dari 20 ledakan. Klip lain menunjukkan dampak serangan di Tabriz, dekat Universitas Teknologi Sahand.
Citra satelit dari Airbus Defence and Space, yang diperoleh oleh New York Times, secara visual mengkonfirmasi kehancuran total kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran akibat serangan Angkatan Udara Israel pada pagi hari tersebut.
Sosok Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei, yang memiliki nama lengkap Ali Hosseini Khamenei, lahir pada 19 April 1939, menjadikannya berusia 86 tahun pada saat laporan ini muncul. Ia dikenal luas sebagai seorang ulama terkemuka dan politikus yang memegang posisi Pemimpin Tertinggi Iran sejak tahun 1989.
Posisi ini menjadikan Ayatollah Ali Khamenei sebagai kepala negara dengan masa jabatan terlama di kawasan Timur Tengah. Ia juga merupakan pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama kedua di abad ke-20 dan ke-21, hanya kalah dari Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Latar Belakang Kehidupan Pribadi
Ayatollah Ali Khamenei adalah anak dari pasangan Javad dan Khadijeh Mirdamadi. Ayahnya dikenal sebagai seorang Alim dan Mujtahid. Secara etnis, ayah Ali Khamenei berasal dari Azerbaijan, tepatnya dari kota Khamaneh, sementara ibunya berasal dari Yazd dan memiliki darah Persia. Ibunya adalah putri dari Hashem Mirdamadi.
Garis keturunan Khamenei diketahui berasal dari Sayyid Hossein Tafreshi, yang merupakan keturunan dari Sayyid Aftasi. Garis keturunannya diperkirakan dapat ditelusuri hingga Sultan ul-Ulama Ahmad, yang dikenal sebagai Sultan Sayyid, dan merupakan cucu dari Imam Syiah keempat, Ali al-Sajjad. Ayatollah Ali Khamenei adalah anak kedua dari delapan bersaudara.
Perjalanan Pendidikan
Perjalanan pendidikan Ayatollah Ali Khamenei dimulai sejak usia empat tahun, ketika ia mulai mempelajari Al-Quran di sebuah Maktab. Selanjutnya, ia melanjutkan studi seminari tingkat dasar dan lanjutan di hawza Mashhad. Di sana, ia belajar di bawah bimbingan tokoh-tokoh terkemuka seperti Sheikh Hashem Qazvini dan Ayatollah Milani.
Pada tahun 1957, Ayatollah Ali Khamenei melakukan perjalanan ke Najaf. Namun, ia segera kembali ke Mashhad atas permintaan ayahnya yang tidak mengizinkannya tinggal di sana. Pada tahun 1958, ia kemudian menetap di Qom. Di kota inilah ia menghadiri kelas-kelas yang diajarkan oleh dua tokoh penting, yaitu Seyyed Hossein Borujerdi dan Ruhollah Khomeini.
Meskipun menempuh jalur pendidikan agama yang mendalam, dilaporkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei jauh lebih terlibat dan berdedikasi pada kegiatan politik dibandingkan dengan fokus pada beasiswa keagamaan semata. Keterlibatannya dalam dunia politik ini membentuk jalannya menjadi salah satu pemimpin paling berpengaruh di Iran.





