Kisah Rakyat Bone Bolango: Lomba Bertutur Siswa SD/MI

Lomba Bertutur Bone Bolango: Menanamkan Budaya Baca dan Karakter Melalui Legenda Lokal

Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, telah meluncurkan sebuah inisiatif penting: Lomba Bertutur tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Kegiatan ini dirancang sebagai langkah strategis untuk memupuk budaya literasi sejak usia dini, sekaligus memperkenalkan kekayaan khazanah cerita rakyat Gorontalo kepada generasi muda. Lomba ini secara khusus menyasar siswa kelas IV dan V, baik dari sekolah negeri maupun swasta di seluruh penjuru Bone Bolango, dengan harapan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan memperkuat pemahaman akan nilai-nilai moral yang terkandung dalam setiap cerita.

Mesalina Vivi Saputra, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bone Bolango, menekankan bahwa ajang ini bukan sekadar kompetisi di atas panggung. Menurutnya, kemampuan bertutur merupakan sebuah proses literasi yang kompleks, yang menuntut lebih dari sekadar membaca. Proses ini melibatkan kemampuan untuk memahami secara mendalam isi sebuah cerita, lalu mengolahnya menjadi sebuah narasi yang menarik dan mudah dicerna oleh audiens. “Melalui lomba bertutur, anak-anak tidak hanya diminta untuk membaca buku, tetapi juga dituntut untuk memahami esensi dari cerita yang mereka bawakan, kemudian menyampaikannya kembali dengan penuh penghayatan. Ini adalah sebuah proses pembentukan karakter yang sangat krusial bagi perkembangan mereka,” ujar Mesalina.

Memperkenalkan Kearifan Lokal Melalui Cerita Rakyat

Pemilihan tema yang berfokus pada cerita rakyat Gorontalo bukanlah sebuah kebetulan. Pemerintah daerah memiliki visi untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut, seperti kejujuran, keberanian, ketulusan, dan kearifan lokal, tetap relevan dan tertanam kuat dalam benak anak-anak di era modern ini. Melalui legenda dan kisah kepahlawanan asli Gorontalo, diharapkan generasi muda dapat lebih mengenal dan mencintai warisan budaya daerah mereka sendiri.

Panduan Teknis dan Ketentuan Lomba

Untuk menjamin kualitas dan keberlanjutan dampak dari kegiatan ini, panitia telah menetapkan sejumlah aturan teknis yang harus dipatuhi oleh seluruh peserta:

  • Prioritas Perpustakaan: Sekolah yang memiliki perpustakaan yang aktif dan berfungsi dengan baik akan menjadi prioritas utama dalam pemilihan peserta. Hal ini bertujuan untuk mendorong optimalisasi peran perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar.

  • Materi Wajib Lokal: Seluruh cerita yang dibawakan wajib bersumber dari cerita rakyat, legenda, atau kisah kepahlawanan yang berasal dari Provinsi Gorontalo. Ini menjadi penekanan utama dalam memperkenalkan kekayaan budaya setempat.

  • Batasan Konten: Peserta dilarang membawakan cerita yang menampilkan tokoh binatang (fabel). Selain itu, materi cerita juga harus steril dari unsur-unsur yang bersifat Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) serta kekerasan, demi menjaga nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan.

  • Penggunaan Alat Peraga: Penggunaan alat bantu atau peraga diperbolehkan, namun dengan syarat alat bantu tersebut bersifat mandiri dan tidak boleh mendominasi dekorasi panggung utama. Fokus utama tetap pada kemampuan bertutur sang peserta.

Apresiasi dan Peluang Lebih Lanjut

Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan prestasi para pemenang, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango telah menyiapkan total hadiah bernilai jutaan rupiah. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  • Juara I: Rp5.000.000
  • Juara II: Rp4.000.000
  • Juara III: Rp3.000.000
  • Juara Harapan I – III: Masing-masing akan mendapatkan hadiah pembinaan sebesar Rp1.000.000 hingga Rp2.000.000.

Lebih dari itu, juara pertama tingkat kabupaten ini nantinya akan mendapatkan kehormatan untuk mewakili Kabupaten Bone Bolango dalam kompetisi yang sama di tingkat Provinsi Gorontalo. Di tingkat provinsi, para pemenang memiliki peluang untuk meraih hadiah pembinaan yang lebih besar lagi, sekaligus membawa nama baik daerah.

Yudiawan Maksum, Kepala Bidang Perpustakaan, menambahkan bahwa target partisipasi minimal untuk lomba ini adalah 50 siswa yang tersebar dari seluruh kecamatan di Bone Bolango. “Tujuan utama kami dari kegiatan ini adalah prosesnya. Kami ingin anak-anak Bone Bolango tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, memiliki kecintaan yang mendalam terhadap buku, dan yang terpenting, bangga akan warisan budaya daerah mereka sendiri,” pungkasnya, menggarisbawahi esensi dari kegiatan ini.

Pos terkait