Kolam Ikan Lele Viral di Pelabuhan Fakfak, Penumpang KM Labobar Terpaksa Loncat-Loncat

Fenomena “Kolam Ikan Lele” Merambah ke Area Pelabuhan Fakfak

Fenomena jalan berlubang yang dikenal dengan sebutan “Kolam Ikan Lele” kini tidak hanya terjadi di area Pasar Tanjung Wagom, tetapi juga merambat ke wilayah Pelabuhan Fakfak. Kondisi ini menimbulkan keluhan dari para penumpang dan warga setempat, yang mengeluhkan fasilitas yang tidak memadai serta kurangnya perhatian dari pihak pengelola.

Penumpang Kesulitan Melintasi Genangan Air

Para penumpang KM Labobar mengalami kesulitan saat melintasi kubangan air cokelat yang ada di pelabuhan. Genangan tersebut membuat aktivitas harian menjadi lebih rumit, terutama bagi mereka yang membawa barang bawaan. Warga setempat menyebutkan bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan, terutama karena genangan air yang terbentuk akibat hujan deras yang sebelumnya menerjang Kota Fakfak dan sekitarnya.

Pantauan dilakukan pada hari Minggu (12/4/2026), dan tampak bahwa beberapa titik di pelabuhan dipenuhi oleh genangan air yang cukup dalam. Para penumpang harus berusaha keras untuk melewati area tersebut sambil membawa barang mereka.

Keluhan Warga Terhadap Retribusi

Selain itu, warga juga mengeluhkan adanya biaya retribusi yang ditarik meskipun fasilitas di pelabuhan dalam kondisi yang tidak layak. Hal ini menimbulkan rasa kecewa, karena mereka merasa bahwa uang yang dibayarkan tidak sebanding dengan kenyamanan yang diberikan.

“Subuh hari ini tanggal 12 April 2026, saat KM Labobar sandar di Pelabuhan Fakfak, kondisi pelataran pelabuhan terlihat sangat memprihatinkan,” ujar salah satu warga Fakfak, Irwanto, kepada media lokal.

Area yang seharusnya menjadi akses utama bagi penumpang justru dipenuhi genangan air di berbagai titik. Hal ini membuat setiap langkah yang diambil harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terpeleset, terutama bagi penumpang lanjut usia atau anak-anak.

Kondisi yang Mengganggu Kenyamanan

Pemandangan ini menimbulkan rasa iba. Para penumpang yang baru turun dari kapal setelah diterjang gelombang dan bau khas penumpang kapal, harus melanjutkan perjuangan dengan melewati genangan air dan lumpur. Para pengantar pun tidak luput dari kondisi yang sama, sehingga sepatu dan pakaian mereka menjadi kotor.

“Di mana sepatu dan pakaian menjadi kotor, kenyamanan yang seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik nyaris tidak terasa,” tambahnya.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di tempat yang setiap orang diwajibkan membayar retribusi saat masuk pelabuhan. “Harapan akan fasilitas yang layak dan lingkungan yang terawat seolah tidak sebanding dengan kenyataan di lapangan,” ujarnya.

Tidak Ada Upaya Serius dari Pengelola

Dari potret lokasi itu, warga menilai tidak tampak adanya upaya serius dari pihak pengelola pelabuhan untuk memperbaiki atau setidaknya mengantisipasi kondisi tersebut, meskipun masalah ini bukan hal baru. “Pelabuhan sebagai gerbang transportasi laut seharusnya mencerminkan pelayanan yang baik dan profesional,” katanya.

Namun, apa yang terjadi di Fakfak justru sebaliknya, memberikan kesan kurangnya perhatian terhadap kenyamanan dan keselamatan masyarakat. “Kondisi ini sudah sepatutnya menjadi perhatian serius Pengelolaan Pelabuhan Fakfak,” tekannya.


Pos terkait