Kebijakan WFH Seminggu Sekali: Strategi Hemat Energi Pasca-Lebaran
Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi potensi lonjakan harga energi global, salah satunya adalah penerapan kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) satu hari dalam sepekan. Kebijakan ini rencananya akan mulai diimplementasikan setelah Hari Raya Idulfitri usai, sebagai bagian dari upaya penghematan energi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa kebijakan WFH ini akan ditujukan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan juga diimbau untuk diterapkan oleh sektor swasta. Namun, terdapat pengecualian bagi lembaga atau perusahaan yang bergerak di sektor pelayanan publik, yang mengharuskan kehadiran fisik karyawannya.
“WFH akan kami detailkan lebih lanjut. Namun, setelah Lebaran akan mulai diberlakukan, baik untuk ASN maupun sebagai imbauan bagi sektor swasta. Kecuali yang bergerak di pelayanan publik,” tegas Airlangga.
Airlangga menekankan bahwa kebijakan ini tidak akan berlaku setiap hari, melainkan hanya satu hari dalam seminggu. Pemerintah juga akan berkoordinasi erat dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Dalam Negeri untuk memastikan implementasi kebijakan ini berjalan optimal di seluruh lapisan masyarakat dan sektor.
Latar Belakang dan Potensi Dampak Ekonomi
Munculnya kebijakan ini tidak terlepas dari kondisi global yang memanas akibat konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut memicu kenaikan harga energi global, terutama minyak mentah. Lonjakan harga minyak ini berisiko memperbesar beban subsidi energi yang ditanggung oleh pemerintah, sehingga diperlukan langkah-langkah pengendalian konsumsi energi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM).

Penerapan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan setelah Lebaran sebagai bagian dari strategi penghematan energi.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, turut mengamini potensi positif dari penerapan WFH. Ia menilai bahwa kebijakan ini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi energi melalui pengurangan mobilitas harian masyarakat. “Secara perhitungan kasar, WFH dapat menghemat sekitar 20 persen konsumsi BBM,” ungkap Purbaya.
Pemerintah memilih untuk membatasi WFH hanya satu hari dalam seminggu guna menjaga keseimbangan antara tujuan efisiensi energi dan produktivitas kerja. “Kalau terlalu sering WFH, dikhawatirkan produktivitas menurun. Karena itu, satu hari dinilai cukup untuk menjaga efektivitas kerja,” jelasnya.
Selain itu, pemilihan hari WFH, misalnya pada hari Jumat, dinilai memiliki potensi tambahan. Hari tersebut berpotensi menciptakan akhir pekan yang lebih panjang, yang diharapkan dapat mendorong aktivitas rumah tangga dan memberikan stimulus ringan bagi sektor pariwisata domestik.
Usulan penerapan WFH ini sejalan dengan berbagai langkah yang pernah diusulkan sebelumnya oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menghadapi potensi krisis energi. Ia menekankan pentingnya mempelajari berbagai upaya, termasuk pengurangan konsumsi energi. “Jadi menurut saya, kalau kita hadapi krisis, ya, semua upaya kita pelajari, ya, kan. Pertama, kita harus turunkan konsumsi, kita bisa turunkan konsumsi,” ujar Prabowo kala itu.
Rekomendasi Global untuk Hemat Energi

Penerapan WFH berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi energi melalui pengurangan mobilitas harian masyarakat.
Menariknya, langkah serupa untuk menghemat energi juga telah disuarakan di tingkat internasional. International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional merekomendasikan berbagai upaya penghematan BBM, mulai dari penerapan WFH hingga pembatasan penggunaan pesawat terbang.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menekankan bahwa penghematan energi perlu dilakukan secara luas, melibatkan pemerintah, pelaku usaha, dan juga rumah tangga. “Laporan hari ini menyajikan berbagai langkah konkret dan segera yang dapat diambil dari sisi permintaan oleh pemerintah, pelaku usaha, dan rumah tangga untuk melindungi konsumen dari dampak krisis ini,” ujar Fatih.
Selain WFH, IEA juga menyarankan langkah-langkah lain seperti penurunan batas kecepatan kendaraan di jalan raya, setidaknya 10 kilometer per jam, untuk menekan konsumsi bahan bakar.
Sebagai bagian dari upaya meredam lonjakan harga minyak global, IEA bersama negara-negara anggotanya juga telah menyepakati pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar. “Kami baru saja meluncurkan pelepasan terbesar sepanjang sejarah dari cadangan minyak darurat IEA dan saya terus berkomunikasi dengan pemerintah-pemerintah utama di seluruh dunia, termasuk produsen dan konsumen energi besar, sebagai bagian dari diplomasi energi internasional kami,” kata Fatih.

Lembaga Energi Dunia (IEA) mengusulkan berbagai upaya penghematan BBM, mulai dari penerapan WFH hingga pembatasan penggunaan pesawat.
Pada Maret lalu, IEA memang telah sepakat untuk melepas rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna menekan lonjakan harga minyak. Amerika Serikat menjadi negara yang menyumbang porsi terbesar dari pasokan minyak yang dilepas tersebut. Kebijakan WFH yang akan diterapkan di Indonesia ini diharapkan dapat menjadi salah satu kontributor penting dalam upaya stabilisasi harga energi dan penghematan sumber daya alam.





