Longsor di Bantaran Ciliwung Tebet: Enam Rumah Kontrakan Rusak, Upaya Normalisasi Kali Jadi Solusi Jangka Panjang
Jakarta Selatan – Peristiwa tanah longsor kembali terjadi di bantaran Kali Ciliwung, tepatnya di RT 04 dan 06/10, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Akibatnya, enam unit rumah kontrakan mengalami kerusakan parah pada bagian belakang bangunan karena lokasinya yang sangat berdekatan dengan aliran sungai. Kejadian ini menambah daftar panjang kerentanan permukiman di tepi sungai yang kerap dilanda bencana alam.
Camat Tebet, Putut Puji Linangkung, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan serangkaian sosialisasi terkait rencana pembebasan lahan kepada 396 pemilik bangunan yang terdampak di bantaran kali. Upaya ini merupakan langkah strategis pemerintah sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah banjir dan bencana longsor yang berulang kali terjadi di wilayah tersebut.
“Kami sudah melakukan sosialisasi sejak tahun 2023, berlanjut di 2024, dan rencana juga di 2025,” ujar Putut Puji Linangkung saat dikonfirmasi awak media. Ia menambahkan, proses pembebasan lahan ini akan dilakukan secara bertahap, menyusul program serupa yang telah dilaksanakan Pemprov DKI Jakarta di Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.
Berdasarkan data yang dihimpun, total terdapat sekitar 396 bidang rumah yang masuk dalam rencana pembebasan lahan sebagai bagian dari upaya normalisasi Kali Ciliwung. Angka ini mencakup wilayah RW 10 Kebon Baru. Sementara itu, data dari RW 11 dan RW 14 masih dalam proses pendataan. Normalisasi sungai ini diharapkan dapat meminimalisir risiko banjir dan longsor yang mengancam permukiman warga.
Kejadian longsor yang merusak enam rumah kontrakan di Jalan X, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, terjadi pada Jumat, 6 Maret 2026. Peristiwa ini sempat menjadi viral di media sosial setelah diunggah oleh akun @kabar_tebet.
Salah satu penghuni kontrakan, Istiqomah (35), menceritakan kronologi kejadian yang berlangsung di tengah guyuran hujan deras yang melanda Jakarta sejak pagi. “Longsornya bertahap, Pak. Seminggu lalu bagian dapur mulai rusak, lalu muncul retakan di bagian depan rumah. Pukul 11.00 WIB, kontrakan bapak saya runtuh semua tak tersisa,” ungkap Istiqomah melalui unggahan di media sosial.
Penghuni Telah Dievakuasi, Tidak Ada Korban Jiwa
Meskipun terjadi kerusakan material yang signifikan, Ketua RT 06 RW 10 Kebon Baru, Irma, memastikan bahwa tidak ada warga maupun penyewa yang menjadi korban jiwa dalam peristiwa longsor tersebut. Hal ini dikarenakan bangunan yang terdampak sudah dikosongkan sebelum kejadian longsor terjadi.
“Iya, kemarin itu ada longsor yang mengenai total enam kontrakan hingga hancur. Memang lokasinya sangat rawan longsor karena berada di pinggir kali. Warga sudah merasakan adanya pergerakan tanah, makanya mereka sudah mengungsi. Saat longsor terjadi, sudah tidak ada orang lagi di dalam kontrakan,” jelas Irma kepada awak media di lokasi kejadian pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Menurut Irma, para penghuni rumah kontrakan tersebut telah berpindah tempat tinggal hampir satu tahun sebelum kejadian, setelah menyadari adanya tanda-tanda pergerakan tanah yang membahayakan.
Kesaksian serupa disampaikan oleh Yanti (50), seorang warga yang rumahnya berlokasi persis di sebelah area yang terdampak longsor. Ia menggambarkan peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.30 WIB.
“Kemarin itu kami sedang bermain, tiba-tiba ada dua anak kecil berjalan sampai ke arah sini, lalu tiba-tiba tanahnya longsor dan jatuh. Iya, sempat terdengar suara ‘Bruk!’ yang cukup keras,” tutur Yanti.
Sama seperti Irma, Yanti juga mengonfirmasi bahwa para penghuni kontrakan telah memindahkan barang-barang mereka dan mengosongkan hunian karena melihat struktur bangunan yang semakin rapuh dan membahayakan. “Sudah tidak ada penghuninya, sudah kosong. Tadinya memang awalnya masih ditempati. Namun, karena sudah ada tanda-tanda retak, akhirnya mereka pindah,” jelas Yanti.
Ia menambahkan, pergerakan tanah sudah mulai terlihat dari keretakan yang muncul di area jalanan di bagian depan rumah.
Curah Hujan Tinggi Diduga Jadi Pemicu Utama
Longsor yang mengakibatkan hanyutnya dua bangunan kontrakan ini diduga kuat dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Jakarta sejak pagi. Intensitas hujan yang tinggi membuat kontur tanah di bantaran sungai menjadi basah dan kehilangan stabilitas, sehingga sangat rentan terhadap longsor.
“Iya, saat kejadian memang sedang gerimis. Tapi kan hujan sudah dari pagi, hanya saja kejadian longsornya pas gerimis saja. Lahan di sini memang sedang basah kuyup,” ungkap Yanti.
Peristiwa longsor ini bukan kali pertama terjadi di area tersebut. Sebelumnya, pada tanggal 22 Februari, bertepatan dengan hari keempat bulan Ramadhan, longsor juga sempat terjadi dan merusak setengah bagian salah satu rumah warga.
Dampak dari longsor kali ini terasa signifikan terhadap aksesibilitas warga. Jalan lingkungan yang sebelumnya dapat dilalui kendaraan kini terputus total, hanya menyisakan jalur setapak yang sempit bagi pejalan kaki.
“Jalanan jadi terputus, tidak bisa dilewati motor lagi. Untuk jalan kaki masih bisa, tapi harus hati-hati. Sebelumnya masih bisa dilewati kendaraan roda dua,” keluh Yanti.
Meskipun berhasil selamat dari ancaman longsor, warga yang tinggal di dekat titik patahan tanah kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Ancaman terjadinya longsor susulan membuat mereka terus waswas rumah mereka akan menjadi korban berikutnya, terutama ketika hujan deras mengguyur.
“Ya iyalah (takut), rasa khawatir itu pasti ada. Kami takut kalau rumah kami juga ikut terbawa longsor, apalagi kalau hujan deras,” tutur Yanti, mencerminkan kecemasan yang dirasakan oleh banyak warga di sekitar lokasi.





