Mahasiswa Ancam Gelar Aksi Lebih Besar, Polda Metro Jaya Siap Kawal dengan Pendekatan Humanis
Setelah menggelar aksi unjuk rasa di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) di Jakarta Selatan pada tanggal 28 Februari, sejumlah elemen mahasiswa mengutarakan niat untuk kembali turun ke jalan. Kali ini, mereka berjanji akan membawa massa dalam jumlah yang jauh lebih besar. Menanggapi ancaman tersebut, Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menegaskan kesiapannya untuk menyediakan ruang dan memberikan pengawalan maksimal terhadap setiap aksi yang akan dilaksanakan.
Komitmen Pengawalan dan Pelayanan Aksi
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto, menyampaikan bahwa pihaknya memahami sepenuhnya bahwa aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan hak yang dilindungi oleh undang-undang. Oleh karena itu, Polda Metro Jaya akan terus mempersiapkan personel yang dibutuhkan untuk mengawal dan mengamankan jalannya setiap aksi demonstrasi.
“Kami siap untuk melakukan pelayanan pengamanan terhadap seluruh masyarakat ataupun komponen yang menyampaikan aspirasi di muka publik. Itu karena dilindungi oleh undang-undang,” ujar Kombes Budi Hermanto kepada awak media pada Sabtu (28/2).
Lebih lanjut, Kombes Budi Hermanto mengapresiasi jalannya aksi demonstrasi yang telah dilaksanakan sebelumnya. Ia mencatat bahwa aksi tersebut tidak sampai menimbulkan kerusakan fasilitas umum dan tidak terjadi bentrokan fisik antarpihak. Hal ini menunjukkan bahwa kepolisian terus menjalankan tugasnya dengan mengedepankan pendekatan yang mengutamakan kemanusiaan, pelayanan terbaik, dan pengamanan yang maksimal.
“Kita menyaksikan secara bersama bahwa pelaksanaan dengan pelayanan, pengamanan, dilaksanakan mengedepankan perlindungan, mengedepankan sisi yang humanis serta memperhatikan hak asasi manusia,” tambahnya.
Etika dan Norma dalam Penyampaian Aspirasi
Pendekatan humanis ini tetap dipertahankan, bahkan ketika dalam aksi demonstrasi sebelumnya, terdapat beberapa mahasiswa yang melontarkan kata-kata makian kepada personel Polri. Kombes Budi Hermanto juga mengungkapkan adanya insiden di mana seorang demonstran menuliskan kata-kata yang tidak pantas pada syal seorang polwan di lokasi aksi.
Menyikapi hal tersebut, Kombes Budi Hermanto mengajak seluruh pihak untuk menjaga norma dan etika dalam menyampaikan aspirasi, terutama mengingat aksi tersebut bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Ia menekankan pentingnya menghormati masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa, meskipun memiliki tuntutan atau hasrat yang ingin disampaikan.
“Kami mengajak bahwa kegiatan penyampaian aspirasi, apalagi di bulan suci Ramadhan, ada norma dan etika yang harus kita jaga. Bagaimana kita menghormati bagi masyarakat yang melaksanakan ibadah puasa, walaupun ada hasrat yang ingin disampaikan dalam penyampaian aspirasi,” tuturnya.
Tuntutan dan Aspirasi Mahasiswa
Dalam aksi demonstrasi yang dilaksanakan oleh berbagai elemen mahasiswa tersebut, beberapa aspirasi utama telah disampaikan. Berikut adalah poin-poin tuntutan yang disuarakan:
- Hukuman Pidana Berat bagi Pelanggar Hukum: Mendesak agar personel Polri yang terbukti melanggar hukum, khususnya dalam insiden yang menyebabkan tewasnya pelajar MTs bernama Arianto Tawakal, dijatuhi hukuman pidana seberat-beratnya.
- Pencopotan Pejabat Tinggi Polri: Menuntut pencopotan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dan Inspektur Jenderal Polisi Dadang Hartanto dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Maluku.
- Pembebasan Tahanan Politik: Menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang saat ini sedang menjalani proses hukum.
- Pembatasan Kewenangan Polri dalam Jabatan Sipil: Menuntut penegasan mengenai batasan kewenangan Polri dalam penarikan personelnya untuk menduduki jabatan-jabatan sipil.
Perwakilan massa aksi mengungkapkan kekecewaan mereka karena tidak dapat bertemu langsung dengan Kapolri. “Kami massa aksi tidak dapat menemui kapolri. Kami dikecewakan sekali lagi. Aspirasi-aspirasi yang kami suarakan tidak lagi didengar oleh mereka,” ujar salah seorang perwakilan massa aksi. Ia menegaskan bahwa dengan kekecewaan ini, mereka berencana untuk kembali menggelar aksi pada hari berikutnya dengan kekuatan massa yang lebih besar dan aksi yang lebih masif.





