Masjid Amir Hamzah TIM: Jejak Intelektual yang Tergerus

Masjid Amir Hamzah: Jejak Sejarah, Seni, dan Intelektualitas di Jantung Ibu Kota

Bulan Ramadhan senantiasa menjadi waktu yang tepat untuk merenungi jejak-jejak sejarah masjid-masjid yang memiliki nilai budaya dan spiritual tinggi di Indonesia. Sementara perhatian publik kerap tertuju pada megahnya Masjid Istiqlal atau kekayaan arsitektur masjid-masjid tua di kawasan Kota Tua Jakarta, ada sebuah masjid di jantung kesenian ibu kota yang kisahnya tak kalah menarik, bahkan sarat dengan dinamika perubahan zaman. Masjid Amir Hamzah, yang berlokasi di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia pernah menjadi pusat dialog intelektual, arena pertemuan seniman dan ulama, serta saksi bisu perubahan wajah Jakarta. Ironisnya, jejak sejarahnya justru perlahan memudar seiring dengan proses pembongkaran dan revitalisasi yang berulang kali terjadi.

Masjid ini bukan sekadar fasilitas ibadah tambahan di sebuah pusat kesenian. Kelahirannya berawal dari sebuah kritik yang dilontarkan seorang khatib, dirancang oleh seorang arsitek pembaru, dinamai untuk mengenang seorang penyair religius, dan pernah menjadi ruang dialektika bagi para pemikir Islam modern.

Lahir dari Kritik di Ruang Teater

Ketika Taman Ismail Marzuki (TIM) diresmikan pada tanggal 10 November 1968, kawasan kesenian yang luas ini belum memiliki masjid permanen. Kegiatan salat Jumat kala itu masih digelar di ruang Teater Baru. Suatu ketika, Gubernur DKI Jakarta pada masa itu, Ali Sadikin, turut menunaikan ibadah Jumat di sana. Dalam khotbahnya, K.H. Mukhlas Rowi menyampaikan kritik tajam terhadap kompleks kesenian sebesar TIM yang tidak memiliki masjid.

Sejarawan JJ Rizal pernah menceritakan kembali momen penting tersebut. Ia mengisahkan, “Dalam salah satu kesempatan itu, saat K.H. Mukhlas Rowi memberi khotbah, ia mengkritik kompleks bangunan TIM yang besar dan penting tetapi tidak memiliki masjid. Bang Ali yang terkenal galak bukan marah, tetapi sebagai pejabat gubernur justru berterima kasih telah diingatkan khatib.”

JJ Rizal melanjutkan, “Setelah selesai salat Jumat, Bang Ali menyetujui usulan TIM untuk memiliki masjid.” Dari momen krusial inilah, proses perencanaan pembangunan masjid dimulai. Ajip Rosidi, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, diminta untuk menyiapkan konsep dan anggaran. Ia kemudian menghubungi arsitek Ahmad Noe’man, seorang tokoh yang sebelumnya telah merancang Masjid Salman ITB, yang dikenal sebagai masjid kampus tanpa kubah pertama di Indonesia.

Masjid Amir Hamzah akhirnya diresmikan pada tanggal 7 Januari 1977. Nama “Amir Hamzah” dipilih untuk mengenang Amir Hamzah, seorang penyair nasional yang religius dan dikenal luas melalui sajaknya yang mendalam, ‘Padamu Jua’. Penamaan ini terasa sangat selaras: sebuah masjid yang berlokasi di pusat kesenian, menggunakan nama seorang sastrawan besar Indonesia.

Tanpa Kubah, Sarat Gagasan Inovatif

Rancangan Ahmad Noe’man untuk Masjid Amir Hamzah mencerminkan semangat pembaruan yang sama seperti pada Masjid Salman ITB, yaitu tanpa kubah. Gagasan ini sempat menimbulkan perdebatan dan kritik, karena dianggap menyimpang dari tradisi arsitektur masjid di Nusantara yang umumnya identik dengan kubah.

JJ Rizal menjelaskan bahwa perdebatan mengenai kubah juga pernah terjadi ketika Noe’man mempresentasikan desain Masjid Salman kepada Presiden Soekarno. “Dalam Islam yang penting ‘apinya’,” demikian logika yang dikutip JJ Rizal dari pandangan Noe’man. Makna di balik pernyataan ini adalah bahwa esensi spiritual dari sebuah tempat ibadah jauh lebih penting daripada simbol visual bentuknya.

Dalam desain Masjid Amir Hamzah, garis-garis vertikal dimaknai sebagai simbol hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, sementara garis-garis horizontal melambangkan relasi horizontal antarmanusia. Dengan demikian, Masjid Amir Hamzah menjadi representasi Islam yang dinamis, terbuka terhadap dialog, dan mampu berkontekstualisasi dengan lingkungan seni yang mengelilinginya.

Meskipun kapasitasnya hanya mampu menampung sekitar 250 jamaah, masjid ini pernah berfungsi sebagai ‘laboratorium kerohanian’ di tengah ‘laboratorium seni’ TIM. Tokoh-tokoh besar seperti Hamka, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, hingga Nurcholish Madjid pernah mengisi mimbar ceramah di masjid yang sederhana ini. Para sastrawan ternama seperti Taufik Ismail dan Zawawi Imron pun turut meramaikan diskusi-diskusi keagamaan yang diselenggarakan di ruang tersebut. Masjid kecil ini pada masanya pernah menjadi titik temu yang harmonis antara iman, intelektualitas, dan kebudayaan.

Dibongkar dan Direlokasi: Dinamika Pembangunan Kota

Namun, perjalanan Masjid Amir Hamzah tak luput dari gejolak dinamika pembangunan kota. Pada akhir tahun 2013, bangunan lama Masjid Amir Hamzah terpaksa dibongkar sebagai bagian dari program penataan ulang kawasan TIM. Kebijakan ini memicu polemik yang cukup luas, mengingat bangunan tersebut memiliki nilai sejarah yang signifikan.

Masjid ini sempat direlokasi ke dalam area basement Planetarium pada periode 2014 hingga 2017. Tak lama berselang, revitalisasi total TIM kembali membuat masjid ini terdampak. Aktivitas ibadah bahkan harus dipindahkan ke area basement selama proses pembangunan berlangsung.

Wajah baru Masjid Amir Hamzah akhirnya diresmikan kembali pada tanggal 3 Juli 2020 oleh Gubernur Anies Baswedan. Desain modern-industrial yang digarap oleh arsitek Andra Matin menghadirkan konsep ramah lingkungan dengan kehadiran kolam ikan yang mengelilingi bangunan. Secara visual, masjid ini tampil dengan gaya minimalis, terbuka, dan sangat kontekstual dengan arsitektur baru TIM. Namun, perubahan fisik yang berulang kali terjadi ini membawa konsekuensi yang cukup besar: memori sejarahnya semakin sulit untuk dilacak dan dipahami.

Generasi Baru yang Tak Lagi Mengenal Sejarahnya

Edi Junaedi, salah seorang pengurus Masjid Amir Hamzah, mengakui bahwa tidak semua jamaah yang datang saat ini memiliki pemahaman mendalam mengenai sejarah panjang masjid ini.

“Selain dosen dan pengajar atau pekerja di IKJ yang sudah senior, banyak mahasiswa saat ini tak tahu sejarah Masjid Amir Hamzah,” ujar Edi saat ditemui di sekitar area masjid.

Menurut Edi, perubahan lokasi dan bentuk bangunan yang berulang kali terjadi telah memutus kesinambungan narasi sejarahnya. Ditambah lagi, prasasti asli yang ditandatangani oleh Ali Sadikin, yang merupakan penanda sejarah penting, tidak lagi dipajang di area yang mudah dijangkau dan dilihat oleh pengunjung.

Padahal, bagi mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang setiap hari beraktivitas di sekitar masjid, memahami sejarah tempat ini dapat menjadi bagian penting dari kesadaran mereka mengenai hubungan erat antara agama dan kebudayaan.

Ramadhan dan Upaya Merawat Ingatan

Di bulan Ramadhan ini, Masjid Amir Hamzah kembali ramai dikunjungi oleh jamaah untuk menunaikan salat tarawih dan mengikuti kajian keagamaan. Namun, di balik keramaian tersebut, tersimpan pertanyaan penting tentang bagaimana sejarah masjid ini dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Masjid ini menyimpan sebuah narasi yang sangat unik: lahir dari sebuah kritik yang dilontarkan di ruang teater, dirancang oleh seorang arsitek visioner, pernah menjadi ruang diskusi bagi para tokoh intelektual besar, dan kemudian berkali-kali dibongkar demi menyesuaikan diri dengan perkembangan wajah kota.

Jika sejarah ini tidak didokumentasikan dengan baik dan tidak dikenalkan kembali kepada publik, niscaya ia akan benar-benar memudar ditelan zaman. Bulan Ramadhan menjadi momentum yang sangat tepat, tidak hanya untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga untuk menelusuri jejak-jejak masa lalu yang berharga.

Mengunjungi Masjid Amir Hamzah di era modern ini bukan hanya tentang mengagumi arsitektur kontemporernya. Ia juga tentang menyadari bahwa di tempat ini pernah menyala sebuah ‘api’ gagasan, sebuah percikan semangat yang semestinya terus dijaga agar tak padam oleh derasnya arus zaman.

Pos terkait