Rahasia Berbuka Puasa Sederhana Gubernur Sulawesi Tengah: Ikan Utadada, Buah, dan Kurma
Di tengah kesibukan memimpin Sulawesi Tengah, Gubernur Anwar Hafid memiliki cara tersendiri dalam menikmati momen berbuka puasa. Jauh dari kesan mewah atau berlebihan, menu buka puasa beliau justru terbilang sangat sederhana namun sarat makna. Pilihan beliau jatuh pada kombinasi ikan utadada, buah-buahan segar, dan kurma, sebuah komposisi yang tidak hanya menyehatkan tetapi juga mencerminkan kesederhanaan yang dipegang teguh.
Pola Berbuka yang Terstruktur
Anwar Hafid mengawali ritual buka puasanya dengan sebuah pola yang terstruktur, mengutamakan hidrasi dan nutrisi ringan sebelum beralih ke makanan utama. Langkah pertama yang selalu diambil adalah mengonsumsi kurma. Beliau menjelaskan, “Jadi buka pertama kurma 2–3 biji lah.” Kurma dipilih karena kandungan gulanya yang alami dapat segera mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Setelah mengonsumsi kurma, beliau tidak langsung menyantap makanan berat. Langkah selanjutnya adalah menunaikan salat Magrib. Kebiasaan ini menunjukkan prioritas beliau dalam menjalankan ibadah, bahkan di tengah momen berbuka yang seringkali diisi dengan kesibukan makan. “Setelah itu salat. Habis salat makan sedikit nasi kemudian dengan ikan,” ungkapnya. Porsi nasi yang sedikit menunjukkan kesadaran akan pentingnya tidak membebani perut setelah berpuasa.
Ikan Utadada: Kelezatan Khas Sulawesi
Menu utama yang menjadi favorit Anwar Hafid adalah ikan utadada. Beliau secara tegas membedakannya dari daging ayam, menekankan kecintaannya pada olahan ikan. “Kalau menu favorit saya satu, ikan utadada. Tapi ikan, bukan daging ayam,” tegasnya. Ikan utadada sendiri merupakan salah satu hidangan khas yang cukup populer di wilayah Sulawesi.
Cita rasa ikan utadada yang gurih dan kaya akan rempah menjadikannya pilihan yang sangat cocok untuk disantap saat berbuka puasa. Perpaduan bumbu rempah yang meresap sempurna ke dalam daging ikan memberikan sensasi kenikmatan yang tak tertandingi, sekaligus menghadirkan kehangatan yang menenangkan setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Kehadiran ikan utadada dalam menu buka puasa beliau tidak hanya sekadar pilihan kuliner, tetapi juga sebuah bentuk apresiasi terhadap kekayaan kuliner daerah yang dibinanya.
Menghindari Minuman Dingin, Memilih Kesegaran Alami
Selain pilihan makanannya, kebiasaan Anwar Hafid dalam memilih minuman saat berbuka puasa juga patut menjadi perhatian. Beliau secara konsisten menghindari minuman dingin atau yang mengandung es. “Kemudian es tidak. Paling buah terus kurma,” ujarnya. Keputusan ini didasari oleh keyakinan bahwa minuman dingin dapat memberikan kejutan pada lambung yang kosong setelah berpuasa, sehingga berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.
Sebagai gantinya, beliau lebih memilih air putih yang netral dan buah-buahan segar. Air putih membantu rehidrasi tubuh secara perlahan dan alami, sementara buah-buahan menyediakan vitamin, mineral, dan serat yang dibutuhkan tubuh. Kombinasi air putih dan buah ini menjadi pelengkap yang ideal sebelum beliau melanjutkan dengan santapan utama berupa nasi dan ikan utadada. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya menjaga kesehatan dan keseimbangan tubuh, terutama setelah periode puasa yang panjang.
Kesederhanaan yang Menginspirasi
Kisah berbuka puasa Gubernur Anwar Hafid menawarkan sebuah perspektif yang menyegarkan di tengah arus konsumerisme yang seringkali mewarnai momen-momen spesial. Pilihan menu yang sederhana, pola makan yang terstruktur, dan perhatian terhadap kesehatan menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kepuasan dalam berbuka puasa tidak selalu harus diukur dari kemewahan hidangan.
Kesederhanaan ini bukan hanya sekadar tren, melainkan sebuah cerminan dari nilai-nilai luhur yang dipegang teguh. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, dan mungkin juga bagi banyak orang lainnya, kisah ini menjadi inspirasi untuk kembali merayakan bulan Ramadan dengan penuh makna, fokus pada ibadah, kebersamaan, dan rasa syukur atas nikmat yang sederhana namun berharga. Pilihan menu buka puasa beliau menjadi pengingat bahwa terkadang, hal-hal yang paling sederhana justru memberikan dampak yang paling besar bagi kesehatan dan ketenangan batin.





