Merapi: 18 Guguran Lava Tercatat Rabu, Maret 2026

Aktivitas Gunung Merapi: Guguran Lava dan Potensi Bahaya Terus Dipantau

YOGYA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta terus memantau aktivitas Gunung Merapi secara intensif. Berdasarkan data pengamatan terbaru yang dirilis pada Rabu, 4 Maret 2026, pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas vulkanik gunung api aktif yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah ini menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai.

Selama periode pengamatan tersebut, tercatat sebanyak 18 kali guguran lava mengarah ke Kali Krasak. Guguran lava ini memiliki jarak luncur maksimum mencapai 1.600 meter. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergerakan magma yang terus mendorong material ke arah luar.

Selain guguran lava, seismograf BPPTKG juga merekam adanya 39 kali gempa guguran. Gempa guguran ini memiliki amplitudo bervariasi antara 3 hingga 10 milimeter, dengan durasi yang cukup panjang, yaitu antara 63,71 hingga 190,47 detik. Durasi gempa yang panjang ini bisa menjadi indikator pergerakan material yang signifikan di dalam tubuh gunung api.

Lebih lanjut, BPPTKG mencatat adanya 20 kali gempa Hybrid atau fase banyak. Gempa jenis ini ditandai dengan amplitudo antara 3 hingga 38 milimeter, dengan selisih waktu antara gelombang S dan P (S-P) berkisar antara 0,5 hingga 0,7 detik. Durasi gempa Hybrid ini tercatat antara 17,71 hingga 47,34 detik. Gempa Hybrid seringkali dikaitkan dengan pergerakan fluida (gas dan magma) di bawah permukaan.

Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih tetap pada Level III atau Siaga. Penetapan status ini menunjukkan bahwa potensi bahaya dari Gunung Merapi masih tinggi dan memerlukan kewaspadaan ekstra dari masyarakat.

Kondisi Visual dan Iklim Gunung Merapi

Secara visual, pengamatan Gunung Merapi pada periode tersebut menunjukkan kondisi tertutup kabut dengan tingkat ketebalan bervariasi dari 0 hingga III. Asap kawah terpantau nihil, menunjukkan tidak adanya pelepasan gas vulkanik yang signifikan dari kawah utama pada saat itu.

Dari sisi klimatologi, cuaca di kawasan puncak Gunung Merapi dilaporkan mendung dengan angin bertiup tenang mengarah ke Selatan. Suhu udara di sekitar puncak berkisar antara 18,3 hingga 19,5 derajat Celsius. Kelembaban udara tercatat cukup tinggi, antara 77 hingga 94,6 persen, sementara tekanan udara berada pada kisaran 871,2 hingga 913,2 milimeter merkuri (mmHg).

Rekomendasi dan Potensi Bahaya

Berdasarkan data pemantauan dan analisis yang dilakukan, BPPTKG Yogyakarta mengeluarkan beberapa rekomendasi penting terkait potensi bahaya yang mengancam. Potensi bahaya utama saat ini meliputi guguran lava dan awan panas.

  • Sektor Selatan-Barat Daya: Bahaya guguran lava dan awan panas berpotensi mencapai sektor ini, meliputi Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimum 5 kilometer. Selain itu, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng juga memiliki potensi bahaya hingga jarak maksimum 7 kilometer.

  • Sektor Tenggara: Di sektor tenggara, potensi bahaya guguran lava dan awan panas mengarah ke Sungai Woro dengan jarak maksimum 3 kilometer, serta Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

  • Lontaran Material Vulkanik: Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 kilometer dari puncak gunung.

Data pemantauan yang terus menerus dilakukan menunjukkan adanya suplai magma yang masih berlangsung dari dalam perut bumi. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran (APG) di dalam area yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.

Imbauan untuk Masyarakat

Menyikapi kondisi aktivitas Gunung Merapi yang masih berstatus Siaga dan potensi bahaya yang ada, BPPTKG menghimbau masyarakat untuk senantiasa waspada.

  • Larangan Aktivitas di Daerah Potensi Bahaya: Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di daerah yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya. Hal ini untuk meminimalkan risiko terpapar langsung oleh guguran lava, awan panas, atau material vulkanik lainnya.
  • Waspada Bahaya Lahar dan Awan Panas Guguran: Kewaspadaan terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran (APG) sangat ditekankan, terutama ketika terjadi hujan di sekitar kawasan Gunung Merapi. Hujan dapat memicu lahar dingin yang mengalir melalui sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

BPPTKG juga menegaskan bahwa apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan pada Gunung Merapi, tingkat aktivitas gunung api ini akan segera ditinjau kembali dan informasi terbaru akan disampaikan kepada publik. Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap instruksi dari pihak berwenang adalah kunci utama dalam menghadapi potensi bencana alam.

Pos terkait