Muhasabah Sepuluh: Akar Kata, Menjulang Langit

Perumpamaan Kalimat Baik dan Buruk: Pelajaran Berharga dari Pohon

Setiap kali melewati Jalan Tun Abdul Razak, sebuah lantunan shalawat terucap otomatis dari bibir. Ini adalah semacam ritual pribadi, sebuah resep keselamatan, terutama saat cuaca ekstrem melanda, seperti hujan deras disertai angin kencang yang belakangan sering merobohkan pohon-pohon yang akarnya rapuh atau telah lapuk. Pengalaman ini mengingatkan pada sebuah kata yang tertanam kuat dalam ingatan masa lalu: “As Syajarah,” yang dalam bahasa Arab berarti “pohon.”

Kenangan itu kembali saat kami ditunjukkan sebuah pohon besar di depan Pesantren IMMIM Tamalanrea. Ustaz Saifullah, semoga Allah merahamatinya, menunjuk pohon mangga yang rindang itu seraya meneriakkan “As syajarah!” yang kemudian diikuti oleh kami semua berulang kali. Frasa sederhana itu melekat erat dalam benak hingga kini.

Allah SWT dalam Surah Ibrahim, menyajikan sebuah perumpamaan yang begitu sederhana namun kaya akan makna dan tak pernah habis untuk direnungkan:

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”

Akar yang Menghunjam dan Cabang yang Menjulang

Kalimat yang baik diibaratkan seperti pohon yang kokoh. Akarnya tertanam kuat di dalam tanah, cabangnya menjulang tinggi ke angkasa, dan ia senantiasa berbuah pada setiap waktu atas izin Tuhannya. Ayat ini terasa bukan sebagai perintah yang membebani, melainkan sebuah bisikan lembut yang mengajak perenungan mendalam.

Setiap tahun, kedatangan bulan Ramadhan bagaikan musim yang menguji kekuatan akar keimanan kita. Di bulan suci ini, kita dilatih untuk menahan lapar dan dahaga. Namun, seringkali yang terasa jauh lebih sulit adalah menahan ucapan. Lapar hanya terasa di perut, sementara kata-kata tertahan di tenggorokan, senantiasa berhasrat untuk keluar. Terlebih lagi ketika tubuh lelah, terjebak dalam kemacetan, atau menerima pesan singkat dengan nada yang menyinggung.

Kita mungkin seringkali tidak menyadari betapa rapuhnya lisan yang merangkai kata. Ia begitu kecil, namun mampu meruntuhkan martabat seseorang. Ia terasa ringan, namun dapat meninggalkan luka yang mendalam dan tak tersembuhkan. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.

Oleh karena itu, puasa ternyata bukan sekadar menahan diri dari makanan dan hawa nafsu semata. Ia juga merupakan proses pembelajaran bagi lisan untuk belajar diam, atau setidaknya hanya mengeluarkan perkataan yang baik. Diam dalam konteks ini bukanlah sebuah kepasrahan, melainkan sebuah kesadaran.

Kalimat yang baik, layaknya pohon, tidak lahir dari luapan emosi sesaat. Pertumbuhannya berakar dari sesuatu yang lebih dalam: keimanan, atau kesadaran bahwa setiap kata yang terucap akan meninggalkan jejak. Akar yang menghunjam kuat melambangkan keyakinan yang kokoh dan sulit digoyahkan. Seseorang yang lisannya terjaga bukanlah karena ia tidak memiliki amarah, melainkan karena ia tahu di mana harus menambatkan amarahnya agar tidak merusak. Cabangnya yang menjulang ke langit merepresentasikan harapan dan pencapaian yang mulia.

Pohon yang Tercabut dan Pentingnya Ramadhan

Namun, Ramadhan juga memperlihatkan kepada kita sisi lain dari perumpamaan pohon: yaitu kalimat-kalimat buruk yang bagaikan pohon yang tercabut dari akarnya. Kalimat seperti ini mungkin terdengar keras dan meyakinkan, namun ia tidak memiliki pijakan yang kokoh. Ia mungkin cepat menyebar, namun juga akan cepat layu dan tak berarti.

Baik itu di meja makan keluarga, di ruang rapat profesional, maupun di jagat maya media sosial, kata-kata bisa berubah menjadi serpihan tajam yang beterbangan, tidak menghasilkan buah kebaikan, melainkan hanya melukai.

Oleh karena itu, Ramadhan seharusnya tidak hanya dipandang sebagai bulan menahan diri, tetapi juga sebagai bulan untuk menanam. Kita diajak untuk menanam ulang akar keimanan kita melalui dzikir, melalui kesadaran bahwa Allah SWT Maha Mendengar, bahkan bisikan yang tak terucap. Kita belajar bahwa tidak semua yang ingin diucapkan harus benar-benar diucapkan. Lebih penting lagi, kita belajar bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan, bahkan dalam sebuah tulisan sekalipun.

Sebuah pohon tidak tumbuh dalam semalam. Ia memerlukan berjalannya musim, guyuran hujan, dan kesabaran yang tak terhingga. Demikian pula halnya dengan lisan yang baik. Ia terbentuk melalui latihan yang konsisten, melalui kesadaran atas kegagalan yang pernah terjadi, dan melalui penyesalan yang tidak dibiarkan berlalu begitu saja.

Ketika Ramadhan usai, yang tersisa di dalam diri kita bukanlah sekadar ingatan tentang rasa lapar. Sebaliknya, yang tertinggal adalah gambaran sebatang pohon kecil yang mulai tumbuh di dalam diri kita. Akarnya perlahan mulai menghunjam lebih dalam. Cabangnya mulai meraba-raba langit, mencari arah. Buahnya mungkin belum lebat, namun ia telah hadir, siap untuk dipetik dan dibagikan. Ini adalah modal berharga untuk terus bertumbuh dan memberikan manfaat di luar bulan suci.

Pos terkait