Menuju PON 2028: Menyongsong Prestasi dan Kemajuan Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII pada tahun 2028. Penyelenggaraan PON di NTT ini diproyeksikan menjadi salah satu peristiwa nasional akbar berikutnya bagi provinsi tersebut, melengkapi jejak penyelenggaraan berbagai acara nasional sebelumnya. Dengan momentum yang semakin mendekat, persiapan matang menjadi kunci utama.
Seminar Nasional: Membangun Strategi Menuju PON 2028
Menyadari pentingnya persiapan, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi NTT menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Strategi Pengembangan Olahraga Prestasi NTT Menuju PON 2028”. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 28 Februari 2026, dan dibuka secara resmi oleh Gubernur NTT yang diwakili oleh Plt Kepala Dispora, Linus Lusi. Seminar ini menjadi forum krusial untuk mengumpulkan gagasan, ide, serta membangkitkan semangat seluruh elemen masyarakat NTT dalam menghadapi PON 2028.
Seminar ini menghadirkan narasumber-narasumber berkompeten di bidangnya. Di antaranya adalah Rektor Universitas Persatuan Guru 1945 NTT, Dr. Uly J. Riwu Kaho, yang memberikan pandangan strategis dari perspektif akademis lokal. Guru Besar dari Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Ria Lumintiarso, M.Si., turut memberikan wawasan mendalam mengenai pentingnya desain persiapan menuju prestasi olahraga yang didasarkan pada pendekatan sains olahraga atau sport science. Selain itu, Abdul Muis dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTT turut hadir memberikan perspektif dari sisi pembinaan dan manajemen olahraga di tingkat daerah.
Acara seminar ini juga menjadi momen peluncuran tiga buku penting yang membahas seluk-beluk keolahragaan dan manajemen kepelatihan. Ketiga buku tersebut merupakan karya Dr. Frans Sales, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Dispora NTT, yang menunjukkan dedikasinya dalam literasi olahraga.
Tantangan dan Peluang Menjadi Tuan Rumah PON
Menjadi tuan rumah PON tentu merupakan sebuah anugerah sekaligus tantangan besar bagi NTT. Di satu sisi, kesempatan ini membuka pintu lebar bagi kemajuan dan promosi daerah. KONI NTT telah merumuskan cita-cita luhur yang dikenal sebagai “Panca Sukses” dalam penyelenggaraan PON 2028, yaitu:
- Sukses sebagai tuan rumah.
- Sukses dalam perolehan prestasi atlet.
- Sukses dalam penyelenggaraan administrasi.
- Sukses dalam dampak ekonomi.
- Sukses dalam promosi pariwisata.
Cita-cita ini sangat penting untuk kemajuan daerah. Namun, persiapan yang matang tidak lepas dari berbagai tantangan yang harus dihadapi.
1. Tekanan Fiskal Daerah
Salah satu tantangan terbesar adalah tekanan fiskal daerah. Panitia Daerah membutuhkan alokasi dana sekurangnya Rp 250 miliar. Dana ini rencananya akan dialokasikan dalam bentuk Dana Cadangan yang bersifat multi-years dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTT.
Dalam konteks ekonomi, menjadi tuan rumah PON dapat diibaratkan sebagai sebuah investasi. Dengan menginvestasikan Rp 250 miliar, target minimal adalah “kembali pokok” atau break-even point. Namun, yang lebih diharapkan adalah meraih keuntungan tambahan sekitar 20-30 persen, sehingga investasi sebesar Rp 250 miliar dapat menghasilkan pemasukan senilai Rp 300-350 miliar bagi perekonomian NTT.
2. Persiapan Prestasi Atlet
Tantangan kedua adalah persiapan prestasi atlet. Seperti yang dipaparkan oleh Prof. Ria Lumintiarso, persiapan untuk meraih prestasi tinggi membutuhkan waktu dan perencanaan yang matang. Sebagai perbandingan, Australia yang menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2000, telah melakukan persiapan intensif sejak sepuluh tahun sebelumnya (tahun 1990) dengan anggaran mencapai Rp 70 triliun.
Kisah Australia ini menjadi relevan ketika membahas target KONI NTT untuk masuk dalam sepuluh besar nasional dengan target raihan 37 medali emas. Target ini bukanlah sekadar ambisi, melainkan sebuah cita-cita realistis yang dapat diwujudkan dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.
3. Akomodasi dan Infrastruktur
Tantangan ketiga berkaitan dengan akomodasi dan infrastruktur. Ribuan orang akan berdatangan ke NTT, meliputi atlet, pelatih, ofisial, wasit, juri, penonton, pewarta, hingga wisatawan. Oleh karena itu, NTT harus siap menyediakan fasilitas yang memadai, meliputi:
- Akomodasi: Ketersediaan penginapan yang memadai untuk seluruh kontingen dan tamu.
- Venue Pertandingan: Persiapan dan kesiapan lokasi pertandingan yang standar dan aman.
- Sumber Daya Manusia: Ketersediaan panitia yang terampil, cekatan, dan profesional.
- Transportasi: Sistem moda transportasi yang memadai untuk mobilitas seluruh pihak.
- Pusat Informasi: Kesiapan media center yang representatif bagi para pewarta.
- Keamanan: Sistem keamanan dan pengamanan yang ketat untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan.
- Dukungan UMKM: Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penyedia kebutuhan dan pendukung ekonomi lokal.
- Keramahtamahan: Sikap ramah tamah masyarakat NTT sebagai modal sosial utama dalam menyambut tamu.
Dari PON KONI Menuju PON Rakyat
NTT memiliki potensi besar dalam bidang olahraga, sebagaimana tercatat dalam sejarahnya, selain bidang sastra, jurnalisme, literasi, budaya, keagamaan, dan politik. Banyak atlet kebanggaan NTT yang telah berhasil mengharumkan nama daerah hingga ke kancah internasional.
Dalam catatan literatur yang ada, nama-nama seperti Sinyo Aliandoe, Jhoni Asadoma, Hermensen Ballo, Eduardus Nabunome, Ana Riwu Rohi, dan Oliva Sadi merupakan segelintir olahragawan yang menjadi kebanggaan NTT. Tentu saja, daftar ini belum mencakup seluruh tokoh berprestasi dari NTT yang telah memberikan kontribusi signifikan di berbagai bidang, mulai dari Drs. Frans Seda, Prof. W.Z. Johannes, Pendeta A.A. Yewangoe, Pater Leo Kleden, Mgr. Paul Budi Kleden, hingga figur-figur seperti Adrianus Mooy, Herman Musakabe, Sonny Keraf, Goris Mere, Lorens Tato, Dr. Kebamoto, Gerson Poyk, Blasius Bapa, Viktor Laiskodat, Dr. Andre Hugo Pareira, Melkhi Mekeng, Herman Heri, Anita Gah, Paul Liyanto, dan banyak lagi yang telah mengharumkan Bumi Flobamora.
Catatan keberhasilan para tokoh ini menunjukkan kapasitas NTT untuk bersaing di kancah nasional. Hasil evaluasi dari berbagai PON sebelumnya telah mengidentifikasi cabang-cabang olahraga yang menjadi “lumbung” medali emas, perak, dan perunggu bagi NTT. Informasi ini menjadi dasar penting dalam meramu strategi untuk mencapai target sepuluh besar.
Meskipun Australia membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk persiapan, NTT memiliki waktu dua tahun untuk mempersiapkan diri menyambut PON 2028. Namun, durasi waktu yang relatif singkat ini harus diimbangi dengan gaung dan sosialisasi yang masif. PON 2028 harus tidak hanya menjadi ajang elit, tetapi melebur menjadi kebanggaan dan partisipasi seluruh masyarakat NTT.
Oleh karena itu, desain sosialisasi, edukasi, dan publikasi yang massif menjadi sangat penting. Tujuannya agar seluruh lapisan masyarakat NTT mengetahui dan merasa memiliki PON 2028. Perasaan memiliki ini akan memberikan efek ganda:
- Dukungan Mental-Spiritual: Meningkatkan semangat dan motivasi masyarakat untuk mendukung kesuksesan acara.
- Partisipasi Aktif: Mendorong berbagai pihak untuk terlibat dan berkontribusi, misalnya melalui kesediaan menjadi sponsor.
Institusi pendidikan, seperti kampus dan sekolah (termasuk Sekolah Khusus Olahraga/SKO), memiliki peran vital. Selain sebagai sumber rekrutmen atlet potensial, institusi pendidikan dapat berkontribusi dalam penerapan pendekatan sport science. Dengan metode ilmiah dalam kepelatihan dan manajemen prestasi, termasuk aspek gizi, pembinaan mental spiritual atlet, serta aspek teknis seperti pelaksanaan try out dan try in, waktu dua tahun yang terbatas dapat dimaksimalkan untuk pencapaian performa optimal.
Semangat gotong royong menjadi kunci utama agar PON 2028 benar-benar dapat terlaksana dengan sukses, bonafit, dan akhirnya mencatatkan nama NTT dengan tinta emas dalam sejarah olahraga nasional.
Ini adalah agenda krusial yang harus segera digalakkan oleh KONI NTT, seluruh cabang olahraga, para atlet yang sedang berlatih keras, para pemangku kepentingan olahraga, dan seluruh masyarakat luas. Dua tahun mendatang bukanlah waktu yang lama. PON 2028 harus menjadi “Pekan Orang NTT”. Mari bersiap!





