Pabrikan Jepang Tumbang, Persaingan Industri Otomotif Dianggap Tidak Seimbang

Insentif Pemerintah untuk Mobil Listrik Mengubah Dinamika Pasar Otomotif

Pemerintah Indonesia telah memberikan sejumlah insentif kepada produsen mobil listrik, terutama yang berasal dari Tiongkok. Insentif ini dinilai telah menciptakan ketimpangan dalam persaingan di industri otomotif nasional. Akibatnya, jaringan dealer pabrikan Jepang mengalami penurunan di pasar domestik.

Bob Azam, Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), menegaskan bahwa persaingan yang sehat sangat penting untuk menjaga keberlanjutan industri otomotif nasional. Ia menyatakan bahwa alasan beberapa dealer tutup tidak selalu menjadi masalah jika persaingan tetap adil.

“Secara umum harus dilihat ya, alasan [dealer] tutupnya kenapa. Ya, selama bersaing secara sehat tidak masalah. Tetapi jangan sampai kompetisinya tidak fair,” ujar Bob saat berbicara di Jakarta.

Menurutnya, sejumlah produsen kendaraan listrik memperoleh insentif perpajakan yang membuat harga jual produk mereka lebih kompetitif. Hal ini menyebabkan produk-produk tersebut lebih murah karena tidak kena pajak, sementara produsen lokal seperti Toyota masih dikenakan pajak. Ini dinilai tidak adil.

“Mereka lebih murah karena tidak kena pajak, sedangkan kami kena pajak. Itu kan tidak fair dong, sebetulnya. Kemudian harus diingat juga bahwa produk-produk yang ada di Indonesia sudah dilokalisasi dan menyerap banyak tenaga kerja,” tambah Bob.

Sebagai informasi, pada tahun 2025 pemerintah memberikan berbagai insentif, mulai dari pembebasan bea masuk impor utuh hingga pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sebesar 10% dengan syarat tertentu. Meski demikian, pemerintah telah memastikan bahwa skema impor utuh (CBU) untuk kendaraan listrik hanya berlaku hingga akhir 2025. Mulai 2026 hingga 2027, produsen diwajibkan memenuhi komitmen produksi lokal dengan rasio 1:1 sesuai ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Bob menekankan bahwa Toyota telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari lima dekade serta berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.

“Jadi jangan sampai karena ketulusan kita untuk berinvestasi kemudian bisa menyerap tenaga kerja, terus jadi malah dibuat kita jadi tidak kompetitif,” tegasnya.

Pertumbuhan Penjualan Mobil di Indonesia

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan bahwa penjualan mobil secara wholesales pada kuartal I/2026 mencapai 209.021 unit, atau tumbuh tipis 1,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 205.539 unit.

Adapun, penjualan ritel sepanjang Januari—Maret 2026 tercatat sebesar 211.905 unit, naik marginal 0,5% dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu yang mencapai 210.766 unit.

Beberapa pabrikan asal Jepang, termasuk Toyota, Daihatsu, dan Honda, tercatat mengalami penurunan penjualan ritel. Di sisi lain, distribusi wholesales kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV) pada periode yang sama mencapai 33.150 unit, atau melonjak 95,85% YoY dibandingkan 16.926 unit pada kuartal I/2025.

Dengan pertumbuhan tersebut, produsen mobil listrik asal Tiongkok seperti BYD, Geely, hingga Aion mencatatkan peningkatan penjualan yang signifikan.

Pos terkait