Truk Tiongkok Meramaikan Pasar Kendaraan Niaga Indonesia



JAKARTA — Kehadiran sejumlah agen pemegang merek (APM) truk asal China semakin memperkaya pasar kendaraan niaga domestik. Banyak produsen dari Negeri Tirai Bambu tampak lebih siap dalam hal elektrifikasi kendaraan komersial.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut positif partisipasi berbagai APM dalam mendorong pertumbuhan pasar kendaraan komersial melalui ajang Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2026 yang telah berlangsung pada 8—11 April 2026.

Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi Gaikindo Anton Kumonty menilai ajang tersebut menjadi momentum penting dalam perkembangan teknologi industri kendaraan niaga nasional.

“Industri kendaraan komersial nasional terus menunjukkan perkembangan sebagai respons terhadap kebutuhan mobilitas yang semakin kompleks, sekaligus berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Anton dalam keterangannya, dikutip Minggu (12/4/2026).

Pada tahun ini, pameran tersebut diikuti oleh 14 merek kendaraan komersial yang mencakup berbagai segmen, mulai dari kendaraan niaga ringan, truk menengah, truk berat, hingga bus dan kendaraan khusus.

Sejumlah produsen kendaraan niaga asal China yang turut berpartisipasi, antara lain DFSK, Farizon, Foton, JAC Motor, Sany, Wuling, dan Guangzi Auto dengan membawa beragam inovasi terbaru. Di sisi lain, merek-merek global asal Jepang seperti Daihatsu, Hino, Isuzu, Mitsubishi Fuso, Suzuki, Toyota, serta Ford dari Amerika Serikat juga hadir meramaikan pameran tersebut.

Sebagai gambaran, pasar truk domestik mengalami kontraksi pada tahun lalu. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan wholesales truk sepanjang 2025 tercatat sebanyak 56.754 unit, turun 15,3% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 67.015 unit.

Meski sebagian besar merek truk asal China belum menjadi anggota Gaikindo, mereka tetap menunjukkan komitmen untuk memperluas pangsa pasar kendaraan niaga di Indonesia.

Data Penjualan Truk di Indonesia 2021-2025 (wholesales)

Tahun | Wholesales Truk (Unit)

— | —

2021 | 72.900

2022 | 92.634

2023 | 77.581

2024 | 67.015

2025 | 56.754

Strategi Pabrikan Truk China

Salah satu pemain asal China, Sany Group, tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan penjualan, termasuk dengan mengandalkan lini kendaraan listrik. Deputy General Manager and Director of Government Affairs Sany Group Saanjay Shamdasani menilai tren elektrifikasi di sektor kendaraan komersial akan terus berkembang, terutama seiring dinamika konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, fokus utama perusahaan ke depan adalah memperkuat portofolio truk listrik. Saat ini, Sany telah memiliki produk truk listrik berbasis baterai, Sany SE588, yang dirancang untuk kebutuhan sektor tambang dengan kapasitas angkut hingga 120 ton.

Truk listrik Sany SE588 dibekali baterai berkapasitas hingga 861 kWh, dengan kemampuan pengisian daya dari 20% hingga 80% dalam waktu kurang dari satu jam.

“Ke depan, rencana kami memang akan melakukan investasi dan produksi lokal untuk truk listrik. Saat ini sedang berjalan dan dalam diskusi, semoga tahun depan bisa dimulai,” ujar Saanjay di Jakarta, dikutip Minggu (12/4/2026).

Sany saat ini telah memiliki fasilitas perakitan di Karawang, Jawa Barat. Pabrik tersebut masih memproduksi kendaraan konvensional seperti wide body dump truck dan ekskavator, sementara kendaraan listrik masih dalam tahap persiapan menuju produksi lokal.

Di sisi lain, eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memberikan tekanan terhadap ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak Brent yang sempat menembus US$100 per barel, pelemahan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS, serta peningkatan biaya logistik.

Situasi tersebut dinilai dapat mendorong pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan listrik guna menekan biaya operasional, termasuk di segmen kendaraan niaga. Dengan kondisi tersebut, Sany melihat adanya peluang besar untuk memperluas pengembangan kendaraan listrik di pasar kendaraan komersial.

“Jika melihat tren global, sebagian pasar mulai beralih ke elektrifikasi. Kami juga telah mengembangkan kendaraan listrik sejak beberapa tahun lalu, terutama dengan dukungan teknologi dari China sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia,” pungkas Saanjay.

Persaingan Sehat

Sementara itu, pabrikan kendaraan niaga asal Jepang, PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), juga menyiapkan langkah strategis untuk menghadapi dinamika persaingan di pasar domestik.

Division Head of Business Strategy PT IAMI Rian Erlangga mengatakan bahwa perusahaan tetap terbuka terhadap masuknya merek dari berbagai negara, selama mengikuti aturan yang berlaku dan menciptakan persaingan sehat.

“Sebetulnya kami tidak ada masalah, siapapun mereknya, mau dari China atau dari negara lain. Yang kami harapkan, merek yang masuk Indonesia harus sesuai dengan regulasi dan menciptakan persaingan yang sehat,” ujar Rian di Jakarta.

Dalam menghadapi kompetisi, termasuk dari merek China, Isuzu mengedepankan penguatan ekosistem, jaringan layanan purnajual, serta fokus pada segmen pasar yang berkelanjutan. Perusahaan juga terus memperluas jaringan part shop, mitra ritel, serta kanal distribusi guna menjaga daya saing jangka panjang.

Secara keseluruhan, menurutnya, masuknya pemain baru dinilai memberikan dampak positif bagi industri otomotif nasional, terutama dalam mendorong inovasi teknologi, penguatan ekosistem, serta pengembangan rantai pasok.

Adapun, terkait elektrifikasi, Rian menilai lonjakan harga minyak global belum secara otomatis mendorong peningkatan permintaan truk listrik di Indonesia. Hal ini lantaran pelaku usaha masih mengandalkan kendaraan diesel yang dinilai lebih praktis dalam operasional.

“Di Indonesia itu kebutuhan untuk kendaraan niaga belum ke arah sana [elektrifikasi], karena habitnya yang cukup beragam dan mobilitas yang tinggi. Jadi saat ini, menurut kami konsumen kendaraan komersial masih memilih ICE dibandingkan listrik,” pungkas Rian.

Pos terkait