Pacquiao Incar Rekor Tak Terkalahkan Mayweather di Las Vegas

Manny Pacquiao, sang legenda tinju Filipina, telah membuat gebrakan dengan mengumumkan kembalinya ke ring profesional. Bukan sekadar kembali, Pacman—julukan akrabnya—menargetkan Floyd Mayweather Jr. dalam sebuah duel ulang yang dijadwalkan pada 19 September 2026 di Las Vegas. Pertarungan ini diprediksi akan menjadi salah satu momen paling dinanti dalam dunia tinju, mengingat rivalitas sengit yang pernah terjadi di antara keduanya pada tahun 2015.

Kilas Balik Duel Pertama dan Ambigisi Kedua Petinju

Pertemuan pertama mereka di MGM Arena pada tahun 2015 berakhir dengan kemenangan Mayweather melalui keputusan juri setelah pertarungan 12 ronde yang menegangkan. Kini, lima tahun berselang, kedua petinju legendaris ini kembali saling berhadapan, masing-masing dengan ambisi untuk membuktikan superioritasnya.

Floyd Mayweather Jr., yang dikenal dengan rekor tak terkalahkan dalam 50 pertarungan profesionalnya, termasuk 27 kemenangan KO, tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ia dengan percaya diri menyatakan, “Saya sudah pernah bertarung dan mengalahkan Manny sekali. Kali ini hasilnya akan sama.” Ambisinya untuk mencetak kemenangan back-to-back atas Pacquiao jelas terlihat.

Namun, Manny Pacquiao tidak tinggal diam. Ia memiliki tekad kuat untuk menodai rekor unbeaten The Pretty Boy. Pacquiao menyadari penantian panjang para penggemar untuk duel ulang ini dan melihatnya sebagai momen krusial untuk pembuktian diri. “Para penggemar sudah menunggu cukup lama—mereka pantas mendapatkan pertandingan ulang ini,” ujar Pacquiao. “Saya sangat antusias untuk pertandingan ulang ini. Ini adalah momen saya untuk membuktikannya. Saya ingin Floyd menerima satu kekalahan dalam rekor profesionalnya dan selalu mengingat siapa yang memberikannya kekalahan itu.”

Perjalanan Karir Pasca-Pertemuan Pertama dan Isu Keuangan

Sejak pertemuan mereka di tahun 2015, Floyd Mayweather Jr. hanya berpartisipasi dalam satu pertarungan profesional resmi, yaitu kemenangan KO atas mantan juara UFC, Conor McGregor, pada tahun 2017. Setelah itu, ia lebih banyak terlibat dalam berbagai pertandingan ekshibisi di berbagai belahan dunia.

Baru-baru ini, muncul laporan yang mengindikasikan adanya kesulitan keuangan yang dihadapi Mayweather. Investigasi mendalam oleh Business Insider menyebutkan bahwa Mayweather bahkan menggugat Showtime, menuduh adanya pengurangan penghasilan dari tayangan pay-per-view yang mencapai lebih dari 300 juta dolar Amerika.

Meskipun demikian, Manny Pacquiao tidak melihat motivasi Mayweather untuk menggelar duel ulang ini semata-mata didorong oleh masalah finansial. Sebaliknya, Pacquiao berpandangan bahwa pertarungan ini lebih merupakan kebutuhan bagi Mayweather untuk mengamankan warisannya di hadapan rival terberatnya.

Perdebatan Mengenai Status GOAT

Pacquiao menyoroti tekanan yang dihadapi Mayweather dari para penggemar terkait klaim sebagai Greatest Of All Time (GOAT). “Bagaimana dia bisa mengklaim dirinya sebagai GOAT (terhebat sepanjang masa)?” tanya Pacquiao. “Dalam analisis kategori sejarah tinju, di kategori mana dia bisa mengatakan bahwa dia satu-satunya? Dia bukan satu-satunya yang pensiun tanpa terkalahkan.”

Pacman kemudian membanggakan pencapaiannya yang berhasil meraih sabuk juara di delapan divisi berbeda. Baginya, rekor tersebut jauh lebih layak menempatkannya sebagai GOAT dibandingkan Mayweather. “Saya tidak bersikeras bahwa saya adalah GOAT (Greatest Of All Time). Sulit untuk mengangkat kursi sendiri, tetapi mengklaim delapan divisi itu adalah rekor tersulit dalam tinju, dan empat dekade pertarungan gelar belum pernah dilakukan sebelumnya,” tegas Pacquiao.

Makna Kemenangan yang Lebih Luas

Meskipun pertandingan ini melibatkan dua petinju yang usianya tidak lagi muda, Pacquiao memberikan pandangan yang menarik mengenai makna kemenangan. Ia menyiratkan bahwa pertandingan ini bisa jadi memiliki dimensi seperti laga amal, di mana siapapun pemenangnya layak mendapat julukan GOAT asalkan memiliki ketulusan untuk membantu orang lain.

“Apa pun yang terjadi dalam pertarungan ini akan terjadi, tetapi berdasarkan pencapaian kita,” ucap Pacquiao. “Jika (Mayweather) menang dan membantu orang lain serta menjadi orang baik, dia akan dianggap sebagai GOAT (Greatest Of All Time).”

Pada akhirnya, Pacquiao menyampaikan pesan yang mendalam tentang makna hidup dan pencapaian. “Pada akhirnya, saya telah belajar bahwa ketenaran dan posisi kita hanyalah sementara. Kita di sini untuk membantu orang lain,” pungkasnya, menggarisbawahi bahwa kontribusi sosial memiliki nilai yang lebih abadi dibandingkan sekadar gelar juara.

Pos terkait