Pandemi Hentikan Pembangunan Pringsewu 6 Tahun, Riyanto: “Terjebak di Kami”

Refleksi Satu Tahun Pemerintahan: Membongkar Tumpukan PR Infrastruktur Jalan di Pringsewu

Pemerintahan Kabupaten Pringsewu menghadapi tantangan besar dalam pembangunan infrastruktur jalan. Selama enam tahun terakhir, kemajuan di sektor ini terhambat oleh serangkaian peristiwa tak terduga, mulai dari pandemi global hingga masa transisi kepemimpinan penjabat bupati. Akibatnya, pekerjaan pembangunan jalan yang tertunda kini menumpuk, menjadi prioritas utama di bawah kepemimpinan Bupati Riyanto dan Wakil Bupati Umi.

Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, secara jujur menyampaikan bahwa pandemi COVID-19 memberikan pukulan telak bagi pembangunan daerah. “Kalau boleh jujur, Bupati definitif saat itu terkena dampak Covid-19 selama 2,5 tahun, sehingga terjadi refocusing anggaran. Infrastruktur tidak menjadi prioritas karena fokus pada penanganan pandemi,” ungkapnya saat agenda refleksi satu tahun pemerintahan yang diselenggarakan di Graha Pamungkas pada Jumat (20/2/2026).

Periode sulit tersebut dilanjutkan dengan masa kepemimpinan penjabat (Pj) bupati yang berlangsung selama kurang lebih 3,5 tahun. Kombinasi kedua periode ini secara efektif membuat pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, berjalan di bawah standar yang diharapkan. “Artinya praktis enam tahun pembangunan infrastruktur di Pringsewu relatif di bawah standar. Itu yang mengakibatkan pekerjaan menumpuk di kami,” jelas Riyanto.

Tantangan Fiskal yang Semakin Berat

Selain faktor historis yang menyebabkan penumpukan pekerjaan, pemerintah daerah Pringsewu juga dihadapkan pada tekanan fiskal yang semakin meningkat. Dana transfer dari pemerintah pusat mengalami penurunan signifikan, dari Rp 1,13 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp 955 miliar pada tahun 2026. Ini berarti terjadi pengurangan sekitar Rp 181 miliar dalam pendapatan daerah.

Di sisi lain, beban belanja daerah justru melonjak drastis. Pengangkatan sekitar 1.600 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menambah beban fiskal daerah sekitar Rp 61 miliar. Peningkatan pengeluaran ini secara langsung berdampak pada berkurangnya alokasi anggaran yang dapat disalurkan untuk program-program yang menyentuh langsung masyarakat, termasuk proyek-proyek pembangunan jalan.

Upaya Percepatan Pembangunan Infrastruktur Jalan

Meskipun dihadapkan pada berbagai kendala, pemerintah daerah Pringsewu tidak tinggal diam. Bupati Riyanto menegaskan komitmennya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Pringsewu telah berhasil menyelesaikan pembangunan empat ruas jalan kabupaten dengan total panjang 12,17 kilometer. Pembangunan ini didanai sepenuhnya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang diperoleh dari hasil efisiensi anggaran.

Keempat ruas jalan yang telah selesai dibangun tersebut meliputi:
* Jalan Tulungagung–Mataram
* Jalan Sidoarjo–Podomoro
* Jalan Simpang V–Podorjo
* Jalan Sumberagung–Karangsari

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Pringsewu juga berhasil mendapatkan alokasi dari program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD). Melalui program ini, ruas Jalan Banyumas–Waykunir sepanjang 13,65 kilometer mendapatkan penanganan dengan nilai investasi yang hampir mencapai Rp 50 miliar.

Tidak hanya jalan kabupaten dan jalan provinsi, pembangunan infrastruktur juga menyentuh hingga tingkat lingkungan. Pada tahun 2025, pemerintah daerah menargetkan penanganan 78 ruas jalan lingkungan yang tersebar di seluruh kecamatan.

Dukungan Infrastruktur Air dan Tanggapan Terhadap Aspirasi Masyarakat

Selain fokus pada pembangunan jalan, pemerintah daerah juga memberikan perhatian pada infrastruktur air. Salah satu program unggulan yang telah dilaksanakan adalah normalisasi Sungai Way Bulok sepanjang 6 kilometer. Kegiatan ini bertujuan ganda, yaitu untuk mengurangi risiko banjir yang kerap melanda wilayah tersebut dan sekaligus meningkatkan kualitas jaringan irigasi bagi para petani.

Bupati Riyanto menyadari tingginya perhatian masyarakat terhadap kondisi jalan di Pringsewu. Ia mengakui bahwa kritik dari publik merupakan hal yang wajar, mengingat infrastruktur jalan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang sangat esensial bagi kehidupan sehari-hari warga. “Kami menyadari masyarakat mendesak pembangunan jalan. Kami tidak anti kritik, tapi perlu dijelaskan bahwa kondisinya memang seperti ini. Ada keterbatasan fiskal yang harus kita hadapi,” ujarnya.

Optimisme untuk Masa Depan

Menghadapi situasi yang kompleks, Bupati Riyanto menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur akan terus menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Skema percepatan pembangunan akan terus diupayakan, dengan mengedepankan kolaborasi erat bersama pemerintah pusat dan berbagai pihak terkait.

“Semua ini butuh proses. Dengan kolaborasi dan kerja keras, kami optimistis penanganan infrastruktur di Pringsewu bisa terus ditingkatkan,” pungkas Riyanto, menunjukkan optimisme bahwa tantangan yang ada dapat diatasi melalui sinergi dan dedikasi.

Pos terkait