Perubahan iklim yang memengaruhi suhu dan tingkat keasaman air laut telah berdampak signifikan terhadap ekosistem terumbu karang. Kehilangan struktur penting dari terumbu karang menyebabkan hilangnya tempat perlindungan bagi banyak spesies ikan, termasuk ikan kecil dan ikan pelagis.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Animal Ecology menunjukkan bahwa meskipun perilaku ikan masih tampak normal di bawah tekanan iklim, kemampuan mereka untuk bertahan hidup mengalami penurunan ketika tidak memiliki tempat berlindung dan jauh dari kelompok sosial.
Para ahli ekologi kelautan dari Adelaide University, Australia, melakukan penelitian di perairan dekat pantai Jepang, wilayah yang dipilih sebagai lokasi pengamatan karena kondisi terumbu karang yang terdampak perubahan iklim. Salah satu lokasi digunakan sebagai kontrol, sementara lokasi lainnya berada di daerah dengan suhu air sekitar satu derajat Celcius lebih tinggi akibat Arus Kuroshio.
Penelitian ini fokus pada spesies ikan kecil berwarna biru elektrik bernama Pomacentrus coelestis atau ikan damselfish neon. Ikan-ikan ini hidup dalam kelompok, mencari makan bersama, dan bergerak secara bersamaan sambil mengawasi ancaman dari predator.
“Jika Anda mengamati terumbu karang cukup lama, Anda akan menyadari bahwa ikan hampir tidak pernah sendirian. Mereka bergerak dalam kelompok, mencari makan dalam kelompok, dan bereaksi terhadap bahaya sebagai sebuah kelompok,” ujar Angus Mitchell, penulis utama studi tersebut.
Menurut Mitchell, ikan yang berkumpul dalam kelompok memiliki beberapa keuntungan untuk bertahan hidup. Semakin besar jumlah ikan dalam kelompok, semakin banyak mata yang bisa mengawasi ancaman, sehingga kemungkinan satu individu menjadi target predator semakin kecil.
Antara 2021 dan 2024, para penyelam menggunakan kamera GoPro untuk mengamati perilaku ikan di sistem terumbu karang. Studi ini mencakup periode kondisi normal dan gelombang panas laut intensif, termasuk gelombang panas besar pada 2023.
Para peneliti mengukur berbagai aspek seperti tingkat pemberian makan, aktivitas, perilaku bersembunyi, serta seberapa dekat ikan berada di tempat berlindung. Mereka juga menguji jarak inisiasi pelarian, yaitu seberapa dekat ancaman dapat mendekat sebelum ikan melarikan diri.
Selain itu, tim peneliti juga menghitung populasi ikan, mengambil sampel plankton, dan mengukur ketinggian vegetasi terumbu karang untuk memahami kompleksitas habitat. “Ikan dalam kelompok yang lebih besar cenderung lebih berani. Mereka mencari makan dengan lebih efisien, lebih sering berada di tempat terbuka, dan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk bersembunyi,” kata Mitchell.
Studi ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan akibat pemanasan global sangat berpengaruh terhadap perilaku dan keberlangsungan hidup ikan. Dengan hilangnya struktur terumbu karang, ikan-ikan seperti damselfish neon mengalami kesulitan dalam bertahan hidup.
Kondisi ini menyoroti pentingnya perlindungan terumbu karang sebagai habitat vital bagi berbagai spesies laut. Tanpa terumbu karang yang sehat, ekosistem laut akan mengalami penurunan keragaman hayati dan ketidakstabilan ekologis.
Penelitian ini juga memberikan wawasan penting tentang bagaimana perubahan lingkungan dapat memengaruhi interaksi sosial dan perilaku ikan. Dengan memahami dampak ini, ilmuwan dan pelestari lingkungan dapat merancang strategi yang lebih efektif untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut.






