Pemuda Sebatik Gendong Nenek Tawau, Cium Kakbah Demi Cinta

Kisah Inspiratif Jemaah Haji: Gendong Nenek Stroke Demi Cium Ka’bah

Di tengah lautan jutaan jemaah yang memadati Tanah Suci Makkah, sebuah kisah menyentuh hati muncul dari seorang pemuda bernama Firmansyah (34), asal Sebatik, Kabupaten Nunukan. Ia rela menggendong seorang nenek yang menderita stroke demi mewujudkan impian sang nenek untuk menyentuh dan mencium Ka’bah. Perjuangan ini dilakukan setelah sepuluh hari Firmansyah berada di Makkah, menunaikan ibadah hajinya bersama dua saudara perempuannya.

Firmansyah dan kedua adiknya adalah tiga bersaudara yang mendaftar untuk menunaikan ibadah haji sejak tahun 2013, dan akhirnya kesempatan itu datang bersamaan pada musim haji tahun ini. Salah satu adiknya, Suci Ramdani (23), bahkan tercatat sebagai jemaah haji termuda asal Kabupaten Nunukan pada musim haji 2026.

Nenek yang menjadi pusat perhatian dalam kisah ini bernama Siti Mahmud Caco, berasal dari Tawau, Malaysia. Selama berada di Makkah, ia belum pernah merasakan sensasi menyentuh dan mencium Ka’bah karena keterbatasan fisik akibat stroke. Kondisi ini mengharuskannya menggunakan tongkat dan kursi roda untuk bergerak.

Perjalanan Penuh Haru Menuju Ka’bah

Kisah mengharukan ini berawal ketika Firmansyah berbincang dengan dua jemaah lansia yang menjadi teman sekamarnya di hotel. Saat ditanya apakah sudah pernah menyentuh Ka’bah, sang nenek mengungkapkan penyesalannya.

“Belum pernah, Nak, karena kaki saya habis stroke. Waktu umrah wajib pun hanya bisa tawaf di tingkat dua karena pakai kursi roda,” ujar Nenek Siti Mahmud Caco dengan nada lirih.

Mendengar pengakuan tersebut, hati Firmansyah tergerak. Ia segera berinisiatif mengajak Nenek Siti dan seorang lansia lainnya yang akrab disapa Macci untuk menuju pelataran Ka’bah. Namun, perjalanan menuju Masjidil Haram ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Tantangan pertama muncul ketika kursi roda yang mereka gunakan tidak dapat dibawa hingga ke pelataran Ka’bah. Akibatnya, Nenek Siti harus berjalan perlahan menggunakan tongkatnya, menempuh jarak sekitar 700 meter dari terminal menuju masjid. Kondisi ini semakin melelahkan bagi sang nenek.

Melihat perjuangan Nenek Siti, Firmansyah mengambil keputusan besar. Di tengah keramaian jemaah, ia dengan penuh kasih menggendong nenek tersebut di punggungnya.

“Di tengah jalan saya gendong karena jalannya sudah sangat pelan. Beberapa kali berhenti untuk ambil napas, tapi alhamdulillah bisa sampai,” ungkap Firmansyah, menceritakan momen penuh haru tersebut.

Setibanya di Masjidil Haram, rombongan kembali dihadapkan pada tantangan. Mereka harus menuruni eskalator dan tangga untuk mencapai pelataran Ka’bah. Namun, perjuangan mereka tidak sia-sia.

Kemudahan yang Tak Terduga dan Momen Berharga

Di tengah kepadatan jemaah yang sedang melakukan tawaf, keajaiban terjadi. Dengan campur tangan takdir Ilahi, mereka justru mendapatkan kemudahan yang tak terduga.

“Qadarullah, Allah mudahkan. Nenek dan Macci bisa menyentuh bahkan mencium Ka’bah tanpa harus berdesakan atau ditarik-tarik orang,” tutur Firmansyah dengan rasa syukur yang mendalam.

Momen langka ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi seluruh rombongan. Setelah berdoa dan meluapkan rasa syukur di hadapan Ka’bah, mereka mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama. Doa-doa tulus dari kedua lansia tersebut terus mengalir untuk Firmansyah dan semua pihak yang telah membantu mewujudkan impian mereka.

Perjalanan dilanjutkan dengan menunggu waktu salat Asar dan Magrib sebelum akhirnya kembali ke hotel. Bagi Firmansyah, senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua lansia tersebut adalah hadiah yang tak ternilai harganya selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

“Alhamdulillah, bisa menjadi jalan bagi orang lain untuk mewujudkan keinginannya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua,” pungkasnya dengan penuh harap.

Kisah Firmansyah ini menjadi pengingat akan indahnya kebersamaan, kepedulian, dan kekuatan niat tulus dalam menjalankan ibadah. Ia mengajarkan bahwa dengan kasih sayang dan sedikit usaha ekstra, impian yang tampaknya sulit pun bisa terwujud, bahkan di tempat yang paling suci sekalipun.

Pos terkait