Perang Iran-AS-Israel: Minyak Membara di Hari Kelima

Gejolak Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak Mentah ke Level Tertinggi

JAKARTA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Serangan-serangan baru di kawasan tersebut, ditambah dengan langkah Amerika Serikat untuk mengamankan jalur pelayaran krusial, telah membuat pasar energi global bereaksi keras.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpantau menembus level di atas US$75 per barel, melanjutkan reli signifikan yang telah berlangsung selama dua hari terakhir. Penguatan ini merupakan yang terbesar dalam empat tahun terakhir, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

Pada Rabu (4/3/2026) pukul 07.51 pagi waktu Singapura, harga minyak WTI untuk pengiriman April tercatat naik 1,1% menjadi US$74,41 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent ditutup mendekati angka US$81 per barel, tepatnya US$81,40 per barel. Kenaikan 4,7% pada penutupan perdagangan sebelumnya untuk kontrak Mei ini menunjukkan sentimen pasar yang kuat terhadap kenaikan harga.

AS Ambil Langkah Pengamanan Jalur Energi

Menyikapi situasi yang memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan langkah proaktif untuk menjamin kelancaran aliran energi dan perdagangan lainnya. Melalui US International Development Finance Corporation, AS berencana menawarkan asuransi bagi kapal-kapal tanker. Selain itu, pengawalan angkatan laut juga akan disediakan jika diperlukan untuk memastikan keamanan pelayaran.

Langkah AS ini diambil menyusul meningkatnya indikasi gangguan pasokan dari para produsen di kawasan Timur Tengah. Beberapa fasilitas produksi vital dilaporkan mulai terpengaruh oleh penutupan jalur air. Sumber yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa Irak, produsen terbesar kedua di OPEC, telah mengambil langkah untuk menutup ladang minyak Rumaila, yang merupakan ladang terbesar di negara itu, serta proyek West Qurna 2.

Perang dan Dampaknya pada Pasar Minyak Global

Pasar minyak global saat ini tengah dilanda kekacauan yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Serangan dan serangan balasan yang terjadi di berbagai penjuru Timur Tengah telah memberikan pukulan telak bagi aktivitas perdagangan.

Dampak dari eskalasi konflik ini sangat luas, mencakup:

  • Penghentian Perdagangan: Jalur-jalur perdagangan vital terganggu, menghambat arus barang dan energi.
  • Pembatasan Produksi: Para produsen terpaksa membatasi volume produksi mereka akibat ketidakpastian keamanan dan gangguan operasional.
  • Penutupan Fasilitas Vital: Kilang minyak utama dan pabrik ekspor gas mengalami penutupan, semakin memperparah kelangkaan pasokan.

Lonjakan harga minyak mentah, gas, dan produk petroleum lainnya telah membangkitkan kembali momok krisis energi global yang pernah terjadi di masa lalu. Kekhawatiran ini semakin menguat mengingat ketergantungan dunia pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Konflik Berlanjut, Ancaman di Selat Hormuz Meningkat

Hingga Rabu, konflik memasuki hari kelima. Pasukan Pertahanan Israel mengumumkan dimulainya gelombang serangan besar-besaran yang menargetkan lokasi peluncuran rudal Iran, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur terkait.

Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian utama adalah Selat Hormuz. Jalur air sempit ini memiliki peran strategis yang sangat penting, menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, dengan Iran berada di sisi utaranya. Sekitar seperlima dari total minyak dan gas dunia melewati jalur ini setiap harinya, menjadikannya arteri vital bagi perdagangan energi global.

Sejak pecahnya konflik pada Sabtu pekan lalu, kapal-kapal tanker dilaporkan mulai menghindari jalur sempit tersebut. Meningkatnya risiko, termasuk ancaman langsung dari Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas, telah membuat para operator pelayaran mengambil langkah pencegahan.

Menanggapi komentar Presiden Trump mengenai rencana asuransi dan pengawalan, Teheran kembali menegaskan peringatannya terhadap kapal-kapal yang beroperasi di area tersebut. Korps Garda Revolusi Islam dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita semi-resmi Fars, menyatakan bahwa “Selat Hormuz berada dalam kondisi perang dan kapal-kapal yang berlayar melaluinya dapat berisiko terkena rudal atau drone liar.”

Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa Iran telah menyerang lebih dari 10 kapal tanker dengan berbagai jenis proyektil karena mengabaikan peringatan mereka.

Stok Minyak Mentah AS Melonjak

Di luar gejolak Timur Tengah, data industri di Amerika Serikat menunjukkan adanya peningkatan stok minyak mentah. Pekan lalu, stok minyak mentah AS dilaporkan meningkat sebesar 5,7 juta barel. Peningkatan ini mengikuti lonjakan sebelumnya yang hampir mencapai 16 juta barel pada minggu sebelumnya. Data resmi mengenai kepemilikan stok ini dijadwalkan akan dirilis pada hari Rabu. Kenaikan stok di negara produsen besar seperti AS ini biasanya dapat memberikan tekanan terhadap harga, namun saat ini, kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah tampaknya mendominasi sentimen pasar.

Pos terkait