Santo Kuirinus, Martir
Santo Kuirinus adalah seorang uskup yang berasal dari Siscia, kini dikenal sebagai Sisak di Yugoslavia. Ia menjadi tokoh penting dalam sejarah iman Kristen karena keberaniannya menolak untuk membawa kurban kepada dewa-dewa kafir. Akibatnya, ia ditangkap dan dianiaya oleh pihak berwenang pada masa penganiayaan umat Kristen di bawah pemerintahan Kaisar Diokletianus.
Salah satu peristiwa terkenal dalam hidup Santo Kuirinus adalah ketika sebuah batu besar diikatkan pada tubuhnya dan ia ditenggelamkan di sungai Sabaria, kini dikenal sebagai Szombathely di Hungaria. Meskipun ia dibujuk dengan berbagai janji muluk, ia tetap setia pada imannya dan tidak pernah mengkhianati Tuhan.
Pada abad kelima, relikiinya dipindahkan ke Roma dan dimakamkan di katakombe Santo Sebastianus. Pada tahun 1140, relikiunya itu kemudian dipindahkan lagi ke Gereja Santa Maria di Trastevere, Roma. Perpindahan ini menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap Santo Kuirinus sebagai martir yang memberikan contoh kesetiaan dalam iman.
Santo Fransiskus Caracciolo, Abbas
Santo Fransiskus Caracciolo lahir di Villa Santa Maria, Italia Tengah, pada tanggal 13 Oktober 1563. Ia dibaptis dengan nama Ascanius. Nama Fransiskus dipilihnya ketika ia ditahbiskan menjadi imam. Ia meninggal di Agnose, Italia, pada tanggal 4 Juni 1608. Keberhasilannya dalam menjalani kehidupan rohani merupakan bukti bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah hidupnya.
Kehidupan masa mudanya sebagai putera bangsawan jauh berbeda dengan kehidupannya sebagai seorang imam. Ketika berumur 20 tahun, ia jatuh sakit. Namun, penyakit ini justru menjadi awal dari perubahan hidupnya yang baru. Dalam penderitaannya, ia terus berdoa memohon kesembuhan dari Tuhan. Ia berjanji akan membaktikan dirinya kepada Tuhan setelah sembuh nanti. Tuhan mendengarkan permohonannya dengan menyembuhkannya secara ajaib.
Untuk mewujudkan janjinya, ia pergi ke Napoli, Italia, untuk menjalani pendidikan imamat. Tangan Tuhan terus membimbingnya hingga akhirnya ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1557. Ia memilih nama Fransiskus sebagai penghormatan kepada Santo Fransiskus Asisi. Kemudian ia menjadi anggota tarekat imam-imam “Bianchi Della Guistizia” (Tarekat Imam-imam Jubah Putih Keadilan). Imam-imam dari tarekat ini biasanya mengunjungi dan meneguhkan hati para tahanan di penjara agar tabah menghadapi ajalnya.
Pada tahun 1588, Fransiskus bertemu dengan Yohanes Agustinus Adorno, seorang imam Genoese. Bersama Adorno, ia mendirikan ordo baru yang menggabungkan kehidupan aktif dan kontemplatif. Kongregasi ini dikenal dengan nama “Kongregasi Pelayan Dina Reguler”. Dalam waktu singkat, kongregasi baru ini berhasil mendapatkan banyak anggota. Sebagian besar anggotanya melaksanakan kegiatan kontemplatif seperti berdoa dan bermeditasi. Untuk memperluas jangkauan kerjanya, Fransiskus mendirikan lagi beberapa rumah di Roma dan Spanyol. Salah satu kaul yang mereka ikrarkan ialah tidak berambisi untuk mendapatkan jabatan, baik di dalam ordo maupun di dalam Gereja.
Fransiskus sendiri menaati kaul ini dengan konsekuen. Ketika Sri Paus menawarkan jabatan uskup kepadanya, dengan tegas ia menolaknya. Tetapi kemudian ketika Adorno, sebagai pemimpin ordo meninggal dunia, ia terpaksa menerima jabatan itu karena didesak oleh anggota-anggotanya.
Keberhasilan dan Penghargaan
Fransiskus dikenal luas karena kesederhanaannya dan perhatiannya yang besar kepada orang-orang miskin. Ia sering memberi makan mereka makanannya sendiri, bahkan sering mengemis untuk kepentingan orang-orang malang itu. Tuhan menganugerahkan kepadanya kemampuan menyembuhkan orang-orang sakit. Ia digelari ‘kudus’ pada tanggal 24 Mei 1807 oleh Sri Paus Pius VII (1939-1958) dan dihormati sebagai pelindung Napoli.






