Permintaan maaf siswa SMAN 1 Purwakarta yang viral, kini diambang sanksi sosial

Permintaan Maaf Siswa SMAN 1 Purwakarta Setelah Video Viral

Setelah video yang menampilkan tindakan tidak sopan terhadap guru viral di media sosial, puluhan siswa kelas 11 IPS SMAN 1 Purwakarta memberikan permintaan maaf secara terbuka. Video tersebut menunjukkan para pelajar duduk berjajar dalam seragam krem dan melakukan gestur memohon maaf dengan tangan terangkat. Salah satu siswa perempuan bernama Nabila mewakili teman-temannya menyampaikan permintaan maaf secara resmi.

Dalam video tersebut, Nabila mengucapkan:

“Assalamu’alaikum waromhatullahi wabarokatuh. Perkenalkan saya Nabila perwakilan dari kelas 11 IPS memohon maaf yang sebesar-besarnya terutama kepada Ibu S, kepada Kepala Sekolah beserta guru-guru, dan alumni.”

“Saya mengakui tindakan yang sudah kami lakukan itu tidak pantas kepada ibu guru kami yaitu ibu S. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, Wassalamu’alaikum waromhatullahi wabarokatuh,” ucap para pelajar SMAN 1 Purwakarta tersebut.

Meski telah menyampaikan permintaan maaf, para pelajar masih mendapat kecaman dari warganet. Banyak komentar yang menyatakan bahwa permintaan maaf ini tidak cukup untuk mengganti tindakan mereka. Beberapa netizen bahkan menyarankan agar para pelajar tersebut diberi sanksi sosial seperti diblacklist saat masuk perguruan tinggi.

Beberapa komentar warganet antara lain:

  • shofwall_: “Saya sebagai guru Z mengutuk keras kejadian ini. Tidak ada permintaan maaf yang harus diterima karena ini bukan lagi masuk lelucon atau candaan tapi ini penghinaan besar dan pelecehan martabat seorang guru.”
  • vanyfo22: “Sekolah elit, atitude sulit.”
  • evitresnawati23: “Astagfirullahhaladzim… belajarnya yg giat soleh soleha jangan lupa berdoa dulu.. biar semua ilmu terserap dengan baik.. sampe segitunya gak tau adab, etika, tatakrama, sopan santun.. coba sekarang gimana rasanya udah berbuat seperti itu? merasa hebat? doa dari netizen semoga ibu gurunya dinaikan derajatnya amin.”
  • rezaregiak: “Perlunya tidak memberi MBG doang, pemerintah lupa perlunya dan pentingnya mengajarkan etika dan attitude.”
  • h_t_r______o: “Minta Maaf karna udah viral.”
  • muelkcima: “Blacklist dari semua universitas / perusahaan saat mereka lulus.”

Respons Gubernur Jawa Barat

Video pelajar SMAN 1 Purwakarta yang memberikan gestur mengejek kepada gurunya turut menarik perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dedi menyatakan prihatin atas kejadian ini dan menyarankan agar sanksi skorsing 19 hari diganti dengan sanksi kerja sosial.

“Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut. Kronologisnya sudah saya dengarkan dari Kepala Dinas Pendidikan,” ujar Dedi Mulyadi dalam videonya.

Menurut Dedi, orang tua siswa tersebut sudah dipanggil ke sekolah dan merasa menyesal atas perilaku anaknya. Meskipun pihak sekolah memberikan hukuman berupa skorsing selama 19 hari, Dedi menyarankan agar pelajar tersebut diberi sanksi sosial seperti membersihkan halaman hingga toilet sekolah.

“Saya memberikan saran, anak itu tidak diskorsing selama 19 hari. Ini saran, mudah-mudahan bisa digunakan,” ucap Dedi.

Ia menjelaskan bahwa waktu pemberian hukuman bisa disesuaikan dengan perkembangan pelajar tersebut. “Waktunya bisa satu bulan, bisa dua bulan, bisa tiga bulan, tergantung perkembangan anak itu,” tambahnya.

Menurut Dedi, hukuman harus bermanfaat bagi pembentukan karakter. “Prinsipnya dasarnya adalah, setiap hukuman yang diberikan harus bermanfaat bagi pembentukan karakter,” katanya.

Respons Ketua Dewan Pendidikan

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Agus Marzuki, menyatakan prihatin atas insiden ini. Ia menilai tindakan para pelajar bertolak belakang dengan program pendidikan karakter Jawa Barat, Gapura Panca Waluya.

“Program ini menekankan pembentukan karakter siswa melalui lima nilai utama, yakni cageur (sehat jasmani dan rohani), bageur (berperilaku baik dan santun), bener (jujur dan berintegritas), pinter (cerdas dan kompeten), serta singer (cekatan dan kreatif),” ujar Agus.

Ia menyayangkan munculnya perilaku tidak terpuji yang mencerminkan kurangnya rasa hormat terhadap guru. “Terlepas dari alasan apapun, apalagi jika hanya dianggap sebagai ekspresi di dalam kelas, ketika sudah masuk ke ruang publik, tindakan itu menjadi tidak etis dan melanggar norma,” ucapnya.

Agus juga mengingatkan bahwa tindakan sekecil apa pun dapat berdampak besar terhadap reputasi sekolah dan kepercayaan masyarakat. “Hal kecil yang dianggap biasa bisa meninggalkan jejak yang dalam. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Dewan Pendidikan berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi seluruh siswa agar lebih bijak dalam bersikap. Ia juga mendorong adanya komunikasi yang lebih terbuka antara guru dan siswa untuk membangun hubungan yang saling menghormati. “Jadikan ini sebagai refleksi bersama agar dunia pendidikan kita tetap menjunjung tinggi nilai moral dan etika,” tutupnya.


Pos terkait