Pesisir Berau: Garda Terdepan Pantau Penyu Bertelur

Melindungi Sang Penyu Hijau: Peran Strategis Berau dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Konservasi Global

Kabupaten Berau di Provinsi Kalimantan Timur memegang peranan krusial dalam peta konservasi penyu hijau global. Wilayah ini dikenal sebagai habitat peneluran terbesar bagi penyu hijau di kawasan Asia Tenggara, menjadikannya titik vital untuk upaya pelestarian spesies yang terancam ini. Menyadari pentingnya kolaborasi dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal, berbagai pihak terkait bersinergi untuk memperkuat peran mereka dalam menjaga kelestarian penyu.

Kolaborasi Lintas Lembaga untuk Konservasi Berkelanjutan

Upaya memperkuat peran masyarakat dalam konservasi penyu hijau di Berau merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur, dan Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak. Sinergi ini diwujudkan melalui Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).

Program SOMACORE tidak hanya terbatas pada lingkup nasional, namun juga mendapatkan dukungan internasional. Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir (BMUKN) melalui International Climate Initiative (IKI) menjadi salah satu pendukung utama program ini. Pelaksanaannya melibatkan konsorsium yang terdiri dari 10 organisasi dari berbagai tingkatan, baik nasional, regional, maupun internasional, yang tersebar di enam negara yang berada dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang.

Salah satu kegiatan penting yang diselenggarakan adalah Bimbingan Teknis Pemantauan Penyu bagi masyarakat yang beraktivitas di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KKP3K) Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KDPS). Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 3 hingga 7 Februari 2026, bertujuan membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk turut serta dalam pemantauan penyu.

Status Perlindungan Penyu: Komitmen Nasional dan Internasional

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menekankan betapa pentingnya status perlindungan penyu yang telah ditegakkan baik di tingkat nasional maupun internasional. “Penyu tidak boleh ditangkap, diperdagangkan, maupun dimanfaatkan dalam bentuk apa pun,” tegasnya.

Secara nasional, seluruh jenis penyu telah mendapatkan perlindungan penuh. Hal ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 yang kemudian diperkuat dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025. Komitmen internasional juga terlihat dari pencantuman penyu dalam CITES Appendix I, yang menunjukkan statusnya sebagai spesies yang paling terancam punah dan memerlukan perlindungan ketat. Selain itu, Daftar Merah IUCN juga mengklasifikasikan penyu dengan status terancam hingga kritis, menegaskan urgensi upaya pelestarian.

Meski demikian, Syarif Iwan mengingatkan bahwa regulasi saja tidak cukup. “Perlindungan penyu tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh pemerintah. Kolaborasi yang kuat dengan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan konservasi,” ujarnya.

Tantangan Konservasi Penyu di Indonesia

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.500 pulau, menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati laut yang luar biasa, termasuk tujuh spesies penyu laut yang ada di dunia. Enam dari tujuh spesies tersebut dapat ditemukan di perairan Indonesia.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, populasi penyu di Indonesia menghadapi tekanan serius akibat berbagai aktivitas manusia. Ancaman-ancaman tersebut meliputi:

  • Pencurian telur penyu: Telur penyu yang diambil secara ilegal untuk diperjualbelikan atau dikonsumsi mengancam kelangsungan generasi penyu.
  • Degradasi habitat pantai: Kerusakan dan hilangnya habitat pantai alami akibat pembangunan, reklamasi, atau aktivitas lain mengurangi tempat yang aman bagi penyu untuk mendarat dan bertelur.
  • Pencemaran laut: Sampah plastik dan polutan lainnya di laut dapat membahayakan penyu melalui konsumsi yang salah atau terjerat.
  • Praktik perikanan yang tidak ramah lingkungan: Penyu seringkali terperangkap secara tidak sengaja dalam jaring ikan sebagai hasil tangkapan sampingan (bycatch), yang dapat menyebabkan cedera serius atau kematian.

Peran Sentral Masyarakat dalam Keberlanjutan Konservasi

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menegaskan bahwa partisipasi aktif masyarakat adalah fondasi keberhasilan konservasi jangka panjang. “Konservasi tidak bisa hanya bergantung pada regulasi. Ketika masyarakat memiliki kapasitas dan rasa memiliki, upaya perlindungan sumber daya pesisir dan laut akan jauh lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Hasil survei di kawasan KKP3K KDPS menunjukkan bahwa beberapa pantai di wilayah tersebut merupakan lokasi pendaratan dan peneluran penyu yang aktif sepanjang tahun. Puncak aktivitas peneluran biasanya terjadi antara bulan Juni hingga Agustus. Namun, intensitas aktivitas manusia di wilayah pesisir seringkali menciptakan lingkungan yang kurang ideal dan aman bagi penyu untuk melakukan proses peneluran.

Rizya Ardiwijaya, Coral Reef Specialist YKAN, menambahkan, “Penyu sangat sensitif terhadap aktivitas manusia. Gangguan kecil saja dapat membuat penyu gagal bertelur. Karena itu, perlindungan pantai peneluran harus melibatkan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas langsung di wilayah tersebut.”

Bimbingan Teknis: Membangun Kapasitas Melalui Pendekatan Citizen Science

Bimbingan teknis yang diselenggarakan dirancang secara khusus untuk memperkuat kapasitas kelompok masyarakat melalui pendekatan citizen science. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat untuk berkontribusi secara aktif dalam pengumpulan data ilmiah melalui observasi dan pencatatan di lapangan.

Sekitar 60 peserta yang terdiri dari perwakilan kelompok nelayan dan warga pesisir dari Kecamatan Biduk-Biduk, Kecamatan Batu Putih, dan Kecamatan Maratua, mengikuti bimbingan teknis yang intensif. Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pengenalan biologi dan ekologi penyu, identifikasi spesies, pemahaman siklus hidup penyu, hingga mengenali berbagai ancaman konservasi. Selain itu, peserta juga dibekali dengan teknik-teknik pemantauan pantai peneluran dan cara pengelolaan data yang efektif.

Selain sesi pemaparan materi, para peserta juga berkesempatan untuk melakukan praktik langsung di lapangan. Kegiatan praktik meliputi identifikasi jejak penyu di pasir, pencatatan lokasi sarang penyu, serta simulasi proses pengambilan dan pengorganisasian data menggunakan aplikasi berbasis Android.

Dampak Positif Pelatihan bagi Masyarakat

Pelatihan ini memberikan pemahaman baru dan mendalam bagi masyarakat mengenai peran vital mereka dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir, khususnya bagi kelangsungan hidup penyu. Suriyadi, salah seorang peserta dari Kampung Balikukup, mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung dalam pemantauan penyu telah menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif di antara warga.

“Pelatihan ini membekali kami kemampuan dalam memantau habitat penyu. Saya kini merasa lebih bertanggung jawab untuk melindungi pantai demi keberlangsungan hidup penyu,” ujarnya, menunjukkan perubahan paradigma dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya konservasi.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan bimbingan teknis ini, kelompok masyarakat yang telah terlatih akan mendapatkan pendampingan berkelanjutan. Pendampingan ini akan fokus pada pelaksanaan pemantauan pantai peneluran secara rutin dan pengumpulan data mengenai jejak serta sarang penyu yang ditemukan selama periode enam bulan ke depan. Diharapkan, setelah periode pendampingan, masyarakat dapat melakukan pemantauan secara mandiri dan berkelanjutan. Data yang terkumpul akan menjadi landasan penting dalam penyusunan strategi perlindungan habitat penyu jangka panjang serta pengelolaan adaptif terhadap KKP3K KDPS.

Integrasi Teknologi dalam Upaya Konservasi

Selain penguatan kapasitas masyarakat, YKAN juga memanfaatkan teknologi modern untuk mendukung upaya pelestarian penyu di Berau. Penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone menjadi salah satu inovasi yang diterapkan.

Pada bulan Oktober 2025, survei udara menggunakan teknologi UAV telah berhasil dilaksanakan. Survei ini bertujuan untuk memetakan sebaran populasi penyu, mengidentifikasi area penggunaan habitat, dan memantau kondisi perairan secara lebih luas. Data spasial beresolusi tinggi yang dihasilkan dari survei udara ini kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Sea Turtle Nesting Beach Indicator Tools.

Penggunaan UAV menawarkan berbagai keunggulan signifikan, termasuk kemampuan pengumpulan data spasial dengan resolusi tinggi, jangkauan pemantauan yang luas, serta efisiensi waktu dan biaya yang lebih baik dibandingkan metode survei konvensional.

Integrasi data yang diperoleh dari teknologi UAV dengan hasil pemantauan lapangan yang dilakukan oleh masyarakat menjadi satu kesatuan yang krusial dalam penyusunan rencana aksi perlindungan penyu di KKP3K-KDPS. Sinergi antara teknologi mutakhir dan partisipasi aktif masyarakat menciptakan pendekatan konservasi yang komprehensif dan efektif.

Masa Depan Konservasi Penyu: Kolaborasi untuk Generasi Mendatang

Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto, menegaskan bahwa konservasi penyu adalah sebuah kerja jangka panjang yang membutuhkan komitmen berkelanjutan. “Ketika masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan berjalan bersama, kita tidak hanya melindungi penyu, tetapi juga menjaga masa depan ekosistem pesisir bagi generasi mendatang,” pungkasnya. Dengan kolaborasi yang kuat dan pemanfaatan teknologi yang tepat, upaya pelestarian penyu hijau di Berau dan di seluruh dunia akan terus berlanjut demi kelangsungan hidup spesies ikonik ini dan kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan.

Pos terkait