Peziarah RI di Zona Merah: Bunker Yerusalem hingga Pengungsian Yordania

Momen Mencekam di Yerusalem: Jemaah Indonesia Terjebak Bunker Saat Serangan Israel-Iran

Yerusalem, 3 Maret 2026 – Denting sirine yang memecah keheningan pagi di Kota Tua Yerusalem pada Sabtu, 28 Februari 2026, seketika mengubah suasana ziarah damai menjadi momen penuh kepanikan bagi rombongan peziarah asal Indonesia. Di tengah eskalasi serangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, Pendeta Yoel Sianto dari Gereja Bethany Yestoya Malang merasakan langsung getirnya berlari mencari perlindungan di sebuah bunker bawah tanah.

Peristiwa ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan balasan ke sejumlah kota di Iran pada Sabtu pagi itu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta beberapa petinggi militernya. Sebagai respons, Iran membalas dengan serangan ke Israel dan sejumlah pangkalan militer serta aset AS di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Di Israel sendiri, kota-kota seperti Yerusalem, Tel Aviv, dan Haifa turut terdampak. Akibatnya, sebagian besar wilayah udara di kawasan Timur Tengah terpaksa ditutup, menyebabkan ratusan warga negara Indonesia yang sedang melakukan perjalanan ziarah di wilayah tersebut terjebak.

Perjalanan yang Berubah Menjadi Kepanikan

Pendeta Yoel Sianto menceritakan bahwa rombongannya berangkat dari Jakarta pada 21 Februari 2026. Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, mereka melakukan singgah terlebih dahulu di Mesir sebelum memasuki Yerusalem pada 26 Februari.

“Dari tanggal 26 sampai 28 pagi itu kondisi aman. Kami ke Betlehem, ke Yerusalem, semua berjalan normal. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi serangan,” ujar Pendeta Yoel dalam sebuah wawancara khusus pada Selasa, 3 Maret 2026.

Bagi Pendeta Yoel, ini bukanlah pengalaman pertamanya memimpin rombongan ziarah ke Israel dan wilayah sekitarnya. Ia mengaku telah melakukan perjalanan serupa sebanyak 15 kali. Setiap kali merencanakan keberangkatan, ia selalu memastikan adanya konfirmasi keamanan dari pihak tur lokal maupun otoritas setempat.

“Kalau mereka bilang tidak aman, kami pasti tunda, tapi kali ini dinyatakan aman,” tegasnya.

Namun, pada Sabtu pagi, 28 Februari, saat rombongan tengah menjalani prosesi Jalan Salib di Via Dolorosa, Yerusalem, situasi berubah drastis. Sekitar pukul 09.00 waktu setempat, alarm berbunyi serentak di ponsel para anggota rombongan, disusul dengan suara sirine kota yang meraung-raung.

“Tiba-tiba orang-orang lokal berlarian. Kami awalnya tidak paham karena pengumumannya dalam bahasa setempat. Tapi kemudian di HP muncul berita bahwa Israel meluncurkan serangan pertama ke Iran,” kenang Pendeta Yoel.

Situasi kian memanas dalam hitungan menit. Rombongan segera diarahkan untuk meninggalkan Yerusalem. Agenda berikutnya adalah mengunjungi Garden Tomb, situs yang diyakini sebagai tempat penyaliban dan penguburan Yesus Kristus. Mereka sempat tiba di lokasi tersebut, namun sirine kembali meraung lebih keras, memaksa mereka untuk segera mencari perlindungan.

Dua Jam di Bawah Tanah: Menyaksikan “Jual-Beli” Serangan

Sekitar pukul 10.30, rombongan Pendeta Yoel terpaksa memasuki sebuah bunker. Bunker tersebut diperkirakan memiliki luas sekitar 200 meter persegi dan menjadi tempat berlindung bagi kurang lebih 200 orang. Selain rombongan dari Indonesia, terdapat pula grup lain dari tanah air dan peziarah dari Spanyol.

“Fasilitasnya hanya ruangan tahan ledakan, tidak ada toilet, karena ini memang untuk kondisi darurat,” jelas Pendeta Yoel.

Selama hampir dua jam, mereka bertahan di dalam bunker. Dari bawah tanah, suara ledakan terdengar jelas. Serangan balasan dari Iran mulai dilancarkan, menciptakan atmosfer yang mencekam.

“Seluruh kota seperti menyala, sirine berbunyi terus-menerus, secara manusiawi kami panik, ada yang menangis, ada yang takut tidak bisa pulang,” ungkapnya.

Namun, di tengah ketegangan yang luar biasa, Pendeta Yoel berusaha menguatkan rombongannya dengan memimpin doa. Ia menceritakan pengalaman unik melihat semangat juang bangsanya.

“Kami berdoa, memuji Tuhan, orang Indonesia ini luar biasa, masih bisa ketawa di tengah situasi seperti itu,” katanya dengan senyum tipis.

Evakuasi ke Yordania dan Ketidakpastian Kepulangan

Setelah dinyatakan aman untuk sementara, rombongan segera dievakuasi ke Nazareth, sebuah perjalanan darat yang memakan waktu sekitar dua jam dari Yerusalem. Namun, ketenangan belum sepenuhnya diraih. Di hotel tempat mereka menginap, bahkan tersedia shelter khusus di setiap lantai. Sekitar pukul 02.00 dini hari, alarm kembali berbunyi.

“Ada alarm HP, ada sirine kota, saya sempat melihat rudal terbang dari kamar hotel baik dari Iran ke Israel maupun sebaliknya, ada jual-beli serangan,” tuturnya, menggambarkan situasi yang mencekam.

Sebagai saksi mata langsung dari peristiwa tersebut, Pendeta Yoel mengaku merasakan campuran rasa takut dan berserah diri.

“Kami merasa pertolongan Tuhan nyata, tapi tetap ada rasa was-was,” ucapnya.

Melihat eskalasi konflik yang terus meningkat, tim tur memutuskan untuk mengevakuasi rombongan ke Yordania. Proses pembuatan visa darurat dipercepat, dan mereka berhasil menempuh jalur darat melalui perbatasan Allenby hingga tiba dengan selamat.

Namun, suasana wisata di Yordania tetap dibayangi kecemasan. Rombongan seharusnya kembali ke Tanah Air pada 4 Maret, namun jadwal penerbangan mereka melalui Dubai terpaksa ditunda akibat penutupan wilayah udara dan gangguan logistik penerbangan. Maskapai menjadwalkan ulang kepulangan mereka pada 6 Maret.

“Ini seperti tambahan ekstra kurikulum. Logistik tentu bertambah, tapi puji Tuhan kami aman. Tur lokal di Yordania sangat membantu,” kata Pendeta Yoel.

Saran untuk Calon Peziarah

Sebagai seorang pemimpin perjalanan yang telah berpengalaman belasan kali ke Israel, Pendeta Yoel memahami betul risiko yang melekat pada kawasan yang kerap disebut sebagai negara dalam kondisi siaga perang. Ia mengakui bahwa pengalaman kali ini adalah yang pertama kali baginya harus berlindung di dalam bunker. Pada kunjungan sebelumnya, ia pernah menyaksikan sistem pertahanan rudal Israel mencegat serangan di Haifa, namun belum pernah merasakan perlindungan di ruang bawah tanah.

Ia juga menyebutkan bahwa beberapa lokasi wisata, seperti Hebron, kini semakin dibatasi untuk kunjungan karena faktor keamanan. Beberapa gereja bahkan tidak lagi dibuka untuk umum.

Oleh karena itu, Pendeta Yoel memberikan saran kepada warga Indonesia yang berencana melakukan ziarah ke Tanah Suci.

  • Pilih Biro Perjalanan Tepercaya: Pastikan biro perjalanan memiliki pemahaman mendalam tentang situasi lokal dan selalu memperbarui informasi dari otoritas setempat.
  • Prioritaskan Keamanan: Cari tur yang terjamin keamanannya dan memiliki prosedur yang jelas dalam menghadapi situasi darurat.
  • Hindari Penawaran yang Meragukan: Jangan mudah percaya pada tawaran perjalanan yang tidak jelas asal-usulnya atau tidak memiliki reputasi yang baik.
  • Pertimbangkan Waktu yang Tepat: Untuk saat ini, mungkin belum menjadi waktu yang ideal untuk melakukan ziarah hingga eskalasi konflik mereda.

Pendeta Yoel menduga rombongannya bisa jadi merupakan salah satu kelompok terakhir yang berhasil berangkat sebelum situasi di kawasan tersebut memburuk secara signifikan.

Di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti, Pendeta Yoel dan seluruh anggota rombongan terus menjaga komunikasi dengan keluarga mereka di Indonesia. Ia meyakini bahwa mereka akan kembali ke Tanah Air dengan selamat.

“Kami percaya perlindungan Tuhan menyertai. Sampai detik ini kondisi kami baik, jasmani dan rohani,” pungkasnya dengan penuh keyakinan.

Doa terus dipanjatkan agar seluruh warga negara Indonesia yang masih berada di kawasan konflik dapat segera kembali ke Tanah Air dengan selamat.

Pos terkait