Navigasi Indonesia di Tengah Gejolak Global: Prabowo Gelar Pertemuan Strategis
Situasi global yang penuh ketegangan, terutama pasca serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk menggelar pertemuan strategis di Istana Negara pada Selasa, 3 Maret 2026. Pertemuan ini menghadirkan para mantan presiden, wakil presiden, serta ketua umum partai politik, menandakan pentingnya konsensus nasional dalam menghadapi tantangan internasional.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo memberikan pembaruan terkini mengenai perkembangan dunia, dengan fokus utama pada konflik yang melanda Timur Tengah. Mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, yang turut hadir, menjelaskan bahwa Presiden tengah memetakan arah navigasi Indonesia di tengah lanskap geopolitik yang kian kompleks ini.
Analisis Perkembangan Global dan Implikasinya bagi Indonesia
Hassan Wirajuda mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo menggambarkan tantangan Indonesia dalam menavigasi situasi internasional yang penuh dengan “bukan hanya dua karang, tapi sekarang beberapa karang,” sebuah metafora yang menggambarkan kerumitan dan banyaknya potensi ancaman.
“Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menavigasi hidup kita di antara bukan hanya dua karang, tapi sekarang beberapa karang dan itu tidak mudah,” ujar Hassan Wirajuda, mengutip tayangan YouTube Sekretariat Presiden.
Presiden Prabowo memaparkan perkembangan terkini di dunia, khususnya terkait dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran. Perkembangan ini menjadi perhatian utama banyak pihak, mengingat potensi dampaknya yang luas terhadap stabilitas regional dan global.
Pertemuan tersebut tidak hanya berhenti pada pemaparan perkembangan, tetapi juga mendiskusikan implikasi serangan tersebut terhadap Indonesia dan tatanan global secara keseluruhan. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah melemahnya peran dan kekuatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menindak negara-negara besar.
“Didiskusikan implikasinya apa terhadap kita, terhadap dunia? Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer untuk mengadu kepada siapa? Karena PBB sudah tidak berperan dan aturan atau rule based order hanya on paper dan memang tidak ada kekuatan pemaksa, apalagi kalau itu berkaitan dengan negara-negara besar,” jelas Hassan Wirajuda.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas lembaga-lembaga internasional dalam menjaga perdamaian dan ketertiban dunia.
Posisi Indonesia sebagai Mediator dan Tantangan “Board of Peace”
Menyinggung peran Indonesia sebagai mediator dalam berbagai konflik internasional, Hassan Wirajuda bersikap realistis. Ia menekankan bahwa diplomasi yang efektif memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak yang bertikai, suatu kondisi yang saat ini belum terlihat jelas dalam konflik yang tengah berlangsung.
Terkait dengan status Indonesia dalam kelompok Board of Peace (BoP), Hassan Wirajuda menyatakan bahwa pemerintah masih terus membahas posisi tersebut dalam konteks perkembangan konflik terkini. Perang yang berkecamuk dapat berdampak signifikan pada mandat dan kekuatan diplomasi negara-negara anggota BoP.
“Sampai sekarang kita bahas, tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan posisi dan mandat BoP kita,” tuturnya.
Ia mengakui bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menurunkan peluang keberhasilan BoP dalam menjalankan misinya. Misi BoP yang bertujuan untuk mencapai gencatan senjata, memberikan bantuan kemanusiaan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi, bisa terhambat oleh dinamika konflik yang semakin memanas.
“Apalagi dengan perang di Iran ini, bayangan bahwa BOP dan misi yang ditujukan untuk ceasefire, gencatan senjata, kemudian bantuan kemanusiaan, rehabilitasi, dan rekonstruksi bisa jadi potensinya, potensi berhasilnya berkurang,” papar Hassan.
Ada kesan kuat bahwa Presiden Prabowo memiliki pandangan serupa mengenai potensi keberhasilan BoP di tengah situasi yang kian rumit ini. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah siap untuk mengevaluasi kembali keanggotaan Indonesia di BoP, seiring dengan perkembangan eskalasi konflik global.
“Ada kesan begitu, dan dari komunikasi beliau dengan para kepala negara lain khususnya negara-negara OKI, kesan bahwa potensi BOP berhasil menurun dan menurunnya berapa, kita lihat saja dengan perkembangannya,” tandasnya.
Pertemuan strategis ini menjadi momen penting bagi Indonesia untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional di tengah gejolak dunia. Evaluasi terhadap peran dan efektivitas forum internasional juga menjadi sorotan utama, mengingat perubahan lanskap geopolitik yang dinamis.





