Menggapai Surga Melalui Pengendalian Diri: Pelajaran dari Kitab Nashaihul Ibad
Dalam perjalanan spiritual untuk mencapai keridaan Ilahi dan menggapai surga, pengendalian diri menjadi kunci utama. Kitab Nashaihul Ibad, sebuah karya klasik yang sarat akan hikmah, melalui Maqalah ke-28 dari Bab Ruba’i (Empat), memberikan panduan berharga mengenai empat hal yang perlu ditinggalkan demi meraih empat tujuan mulia. Kajian mendalam atas bagian ini, yang disampaikan oleh Prof. Sholihan, memfokuskan perhatian pada aspek krusial: meninggalkan syahwat demi kehidupan abadi di surga.
Maqalah ke-28 ini merupakan kutipan dari perkataan bijak Hatim al-Asham, seorang tokoh sufi terkemuka, yang menyatakan sebuah prinsip fundamental: “Barang siapa yang meninggalkan empat hal demi meraih empat hal yang lain, maka ia akan mendapatkan surga.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa setiap pencapaian besar memerlukan pengorbanan dan perubahan pola pikir serta perilaku. Keempat pilar utama yang diuraikan dalam maqalah ini adalah:
- Meninggalkan tidur menuju kubur (memperbanyak amal ibadah): Tidur yang berlebihan seringkali menjadi penyebab kelalaian dan hilangnya kesempatan untuk berbuat kebaikan. Menggantinya dengan kesadaran untuk memperbanyak amal saleh adalah langkah awal menuju bekal kehidupan akhirat.
- Meninggalkan kebanggaan diri menuju penimbangan amal (Mizan): Kesombongan dan rasa bangga diri adalah racun yang dapat menghalangi seseorang dari kebaikan. Menyadari bahwa setiap amal perbuatan akan ditimbang dengan adil di akhirat akan menumbuhkan kerendahan hati.
- Meninggalkan ketenangan dan istirahat menuju jembatan Shirath: Kehidupan dunia seringkali diwarnai dengan kenyamanan dan kemudahan. Namun, jalan menuju surga seringkali dihiasi dengan ujian dan kesulitan yang memerlukan kesabaran dan keteguhan hati.
- Meninggalkan syahwat menuju surga: Ini adalah pilar yang menjadi fokus utama dalam kajian ini, menekankan pentingnya mengendalikan keinginan duniawi untuk meraih kebahagiaan abadi.
Mengurai Makna “Meninggalkan Syahwat”
Dalam penjelasan Prof. Sholihan, merujuk pada tafsir Syekh Nawawi al-Bantani, poin keempat ini diuraikan secara komprehensif. Syahwat, pada dasarnya, adalah dorongan atau kecenderungan jiwa yang kuat terhadap hal-hal yang dianggap menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari kenikmatan inderawi seperti makanan dan minuman lezat, hingga keinginan untuk memiliki harta kekayaan, meraih kedudukan atau jabatan, serta ketertarikan pada lawan jenis.
Al-Qur’an, dalam Surah Ali Imran ayat 14, secara gamblang menyebutkan bahwa manusia dihiasi dengan kecintaan terhadap hal-hal duniawi, seperti perempuan, anak-anak, tumpukan emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan ladang. Ini menegaskan bahwa memiliki syahwat adalah fitrah manusia. Oleh karena itu, Islam tidak menuntut umatnya untuk menghilangkan atau mematikan syahwat sama sekali, karena hal tersebut adalah bagian integral dari naluri manusiawi yang diciptakan oleh Allah SWT.
Maksud dari “meninggalkan syahwat” dalam konteks ini bukanlah memusnahkannya, melainkan mengendalikan dan menguasainya. Ini berarti menjaga agar dorongan-dorongan tersebut tidak melampaui batas-batas yang telah digariskan oleh syariat Islam. Syahwat yang tidak terkendali dapat menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kenistaan dan dosa, yang berujung pada murka Allah dan siksa neraka. Sebaliknya, ketika syahwat dikendalikan dan diarahkan sesuai dengan tuntunan agama, ia justru dapat menjadi sarana untuk meraih pahala dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Mari kita bedah beberapa aspek syahwat dan bagaimana cara mengendalikannya:
1. Harta Kekayaan
Keinginan untuk memiliki harta adalah naluri yang wajar. Menjadi kaya tidak dilarang dalam Islam, asalkan diperoleh melalui cara-cara yang halal dan diridai oleh Allah. Pendapatan yang bersih, dari usaha yang jujur, adalah fondasi penting. Lebih dari itu, cara menggunakan harta juga harus benar. Islam mengajarkan pentingnya mengeluarkan zakat bagi yang mampu, bersedekah untuk membantu sesama, dan menunaikan wasiat jika ada. Harta yang diperoleh dan dibelanjakan di jalan Allah akan menjadi berkah dan mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.
2. Ketertarikan pada Lawan Jenis
Kecintaan dan ketertarikan antara laki-laki dan perempuan adalah fitrah. Namun, penyalurannya haruslah sesuai dengan koridor syariat. Pernikahan yang sah adalah satu-satunya jalan yang diizinkan oleh Islam untuk memenuhi kebutuhan naluri ini. Di luar pernikahan, segala bentuk hubungan yang tidak direstui oleh agama adalah dosa besar yang harus dihindari.
3. Jabatan dan Kekuasaan
Keinginan untuk memiliki pengaruh, kedudukan, atau kekuasaan juga merupakan dorongan yang seringkali muncul dalam diri manusia. Memiliki jabatan atau kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk, asalkan diperoleh dengan cara yang baik, tanpa menipu, menindas, atau melanggar hak orang lain. Yang terpenting, kekuasaan tersebut harus digunakan untuk kemaslahatan umat, untuk menegakkan keadilan, dan untuk melayani masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
Menuju Kepayahan Ibadah: Jalan yang Tidak Disukai Nafsu
Jalan menuju surga digambarkan sebagai jalan yang penuh dengan “hal-hal yang tidak disukai oleh nafsu” (khuffat al-jannah bi al-makarih). Ini berarti bahwa untuk mencapai tujuan mulia tersebut, kita harus siap menghadapi berbagai tantangan dan melakukan hal-hal yang mungkin terasa berat bagi syahwat kita. Ibadah-ibadah pokok seperti puasa di siang hari yang panas, bangun malam untuk salat tahajud, menunaikan salat Subuh berjamaah di kala kantuk masih menyelimuti, atau mengeluarkan sebagian harta untuk zakat, seringkali terasa berat bagi hawa nafsu yang cenderung menginginkan kemudahan dan kenikmatan.
Namun, justru dengan menundukkan ego, melawan rasa malas, dan memaksakan diri untuk taat kepada Allah dalam menjalankan ibadah-ibadah tersebut, seseorang akan semakin mendekatkan diri kepada surga. Setiap kali kita berhasil mengalahkan godaan syahwat demi ketaatan, kita telah meniti satu anak tangga menuju keridaan-Nya.
Kesimpulan: Pilihan Ada di Tangan Kita
Pada akhirnya, pilihan antara surga dan neraka sangat bergantung pada bagaimana kita memperlakukan syahwat kita. Jika kita membiarkan syahwat menguasai diri tanpa kendali, menuruti segala keinginannya tanpa batas, maka ujungnya adalah jurang neraka yang penuh dengan penyesalan. Namun, jika kita mampu menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan mengorbankan kenikmatan sesaat demi ketaatan yang tulus kepada Allah SWT, maka surga yang penuh dengan kenikmatan abadi adalah tempat kembali yang dijanjikan. Pengendalian diri adalah harga yang harus dibayar untuk meraih kebahagiaan sejati.





