PSM Makassar Bertekad Bangkit dari Ancaman Degradasi Pasca Kekalahan Mengejutkan
Makassar – Jantung sepak bola Indonesia, PSM Makassar, tengah menghadapi ujian terberatnya. Kekalahan telak 2-4 dari tamunya, Persita Tangerang, di Stadion BJ Habibie, Parepare, pada Senin malam (2/3/2026), telah menempatkan tim berjuluk Juku Eja ini dalam bayang-bayang degradasi yang mengerikan. Hasil ini tentu saja meninggalkan luka mendalam bagi para pendukung setia dan seluruh elemen tim yang memiliki ambisi besar di Liga Super 2025/2026.
Kekalahan ini terasa semakin pahit mengingat PSM Makassar sempat unggul dua gol terlebih dahulu. Gol pembuka dicetak melalui eksekusi penalti oleh Yuran Fernandes di menit kesembilan, disusul dengan sundulan mematikan dari Aloisio Neto Soares pada menit ke-26. Keunggulan dua gol tersebut seharusnya memberikan rasa aman, namun pertahanan tim asuhan Tomas Trucha tampaknya lengah.
Keajaiban Persita Tangerang terjadi begitu cepat. Dalam kurun waktu dua menit saja, tim tamu berhasil menyamakan kedudukan. Aleksa Andrejic menjadi momok pertahanan PSM dengan golnya dari titik putih pada menit ke-35, disusul oleh tendangan kaki kiri Pablo Ganet yang merobek jala gawang PSM pada menit ke-37. Skor imbang 1-1 sebelum babak pertama berakhir menjadi sinyal bahaya yang seharusnya diwaspadai.
Memasuki babak kedua, momentum berbalik sepenuhnya untuk Persita. Tim “Pendekar Cisadane” berhasil membalikkan keadaan di menit ke-75 melalui tendangan kaki kiri Royco Rodriguez yang tak mampu dibendung kiper PSM. Pukulan telak terakhir datang pada menit ke-88, ketika solo run ciamik dari Hokky Caraka berujung pada gol keempat Persita, mengunci kemenangan 4-2 bagi tim tamu.
Misi Berat Keluar dari Zona Merah
Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Hasil minor tersebut menyeret PSM Makassar ke dalam lingkaran enam tim terbawah klasemen sementara. Dengan 23 poin dari 24 pertandingan, PSM kini menduduki peringkat ke-13, terpaut lima poin dari PSBS Biak yang berada di puncak zona degradasi. Jarak yang masih bisa dikejar, namun membutuhkan perjuangan ekstra keras.
Manajemen, jajaran pelatih, dan para pemain telah menyadari urgensi situasi ini. Tekad untuk keluar dari ancaman degradasi digaungkan dengan kuat. Sisa 11 pertandingan menjadi ajang pembuktian dan kesempatan untuk mendulang poin demi poin. Setiap pertandingan ke depan harus dianggap sebagai laga final, momen krusial yang tidak boleh dilewatkan.
“Insya Allah kami akan berjuang, kami tinggal di sini (PSM Makassar) tidak mau juga sampai kami degradasi,” ujar Asisten Pelatih PSM Makassar, Ahmad Amiruddin, dalam konferensi pers pasca-pertandingan. “Itu akan tercatat di bukunya PSM Makassar, bahwa skuad ini yang bikin degradasi.”
Degradasi tentu menjadi mimpi buruk bagi klub sekelas PSM Makassar. Klub yang berdiri sejak 2 November 1915 ini memiliki sejarah panjang dan gemilang di sepak bola Indonesia. Selama bertahun-tahun, PSM Makassar tidak pernah merasakan turun kasta, justru seringkali mengangkat trofi juara. Tujuh gelar juara di kasta tertinggi sepak bola Indonesia menjadi bukti kejayaan mereka. Terakhir kali, tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini merengkuh gelar juara Liga 1 pada musim 2022/2023.
Ironisnya, sebagian besar pemain yang ada di skuad PSM Makassar saat ini adalah bagian dari tim juara tersebut. Ahmad Amiruddin sendiri, yang kini menjabat sebagai asisten pelatih, juga merupakan bagian dari sejarah kejayaan itu. Ia tak ingin catatan emas tersebut tercoreng oleh kenyataan pahit degradasi.
“Kami bukan berbangga diri, kami adalah juara. Jadi kami punya history satu, tapi jangan history itu hilang karena kami degradasi,” tegas Ahmad Amiruddin. “Kami akan berupaya semampu kami (keluar dari ancaman degradasi).”
Peran Krusial Dukungan Suporter
Menghadapi situasi genting ini, dukungan penuh dari seluruh elemen tim, terutama para suporter, menjadi sangat vital. Pengamat sepak bola, Imran Amirullah, menekankan pentingnya hal ini.
“Posisi PSM Makassar butuh dukungan dari semua elemen yang ada di Makassar, khususnya suporter,” kata Imran saat dihubungi pada Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, Yuran Fernandes dan rekan-rekannya tidak bisa dibiarkan berjuang sendirian dalam menghadapi ancaman degradasi. Suporter diharapkan memberikan suntikan semangat dan kepercayaan diri, bukan justru menambah tekanan dan beban mental kepada para pemain.
“Saat ini mental pemain harus diangkat lagi. PSM Makassar perlu di-support untuk mewujudkan tekad bangkitnya,” tutur mantan asisten pelatih PSM Makassar ini.
Dukungan moral dari tribun akan menjadi amunisi tambahan yang sangat berharga bagi para pemain di lapangan.
Evaluasi Menyeluruh: Pekerjaan Rumah PSM Makassar
Imran Amirullah juga menyoroti beberapa area yang perlu segera dibenahi oleh PSM Makassar untuk keluar dari krisis ini. Ia mengidentifikasi beberapa “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan oleh tim:
- Peningkatan Mentalitas Pemain: Jelas terlihat bahwa mentalitas pemain sedang menurun drastis. Kekalahan beruntun dan tekanan degradasi dapat menggerogoti kepercayaan diri. Perlu ada program khusus untuk membangkitkan kembali semangat juang dan mental baja para pemain.
- Perbaikan Kualitas Permainan: Imran mengamati adanya masalah signifikan dalam aspek menyerang, bertahan, dan transisi tim. Seringkali, bola terakhir yang menentukan justru berujung pada kesalahan. Organisasi pertahanan juga terlihat rapuh, kurangnya respons cepat untuk merebut bola dari lawan.
- “Ini saya lihat tidak ada, hanya mengikuti saja. Tidak ada pressure, sehingga lawan bisa masuk,” jelasnya.
- Penguatan Organisasi Pertahanan dan Komunikasi: Kurangnya koordinasi dan komunikasi antar pemain di lini pertahanan menjadi sorotan utama. Hal ini terlihat dari lambatnya reaksi saat diserang.
- “Di dalam ada problem, artinya ada komunikasi tidak jalan. Organisasi defence tidak jalan, komunikasi tidak berjalan. Mungkin karena faktor mental,” imbuh Imran.




Klasemen sementara Liga Super 2025/2026 menunjukkan betapa ketatnya persaingan di papan bawah. PSM Makassar harus segera menemukan formula yang tepat untuk bangkit dan mengamankan posisinya di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Dengan sisa pertandingan yang ada, serta dukungan penuh dari suporter dan elemen tim, keajaiban tentu masih mungkin terjadi bagi Juku Eja.





