PSM Makassar Bertahan di Super League, Konsistensi Tim Masih Tercemar

PSM Makassar Bertahan di Liga 1, Tapi Performa Masih Jadi Pertanyaan

PSM Makassar berhasil bertahan di Liga 1 atau Super League musim ini. Meski begitu, situasi yang dialami oleh klub asal Makassar ini tidak bisa dikatakan memuaskan. Persis Solo, yang sebelumnya menjadi ancaman, dipastikan kalah head to head jika finish dengan poin sama. Dengan 34 poin, PSM berada di posisi ke-14 dan harus terus berjuang agar tidak terlempar dari kompetisi.

Performa Musim Ini yang Mengecewakan

Musim ini menjadi salah satu yang terburuk bagi PSM Makassar sejak meraih gelar juara Liga 1 pada musim 2022/2023. Di musim 2023/2024, PSM hanya mampu menempati posisi ke-11 dengan 44 poin. Sementara itu, di musim 2024/2025, PSM mampu naik ke posisi keenam dengan 53 poin. Namun, di musim ini, PSM masih berada di peringkat ke-14 dengan 34 poin, menyisakan dua laga lagi.

Ini menjadi pertanda bahwa PSM harus melakukan evaluasi mendalam untuk memperbaiki performa mereka. Meskipun tetap berada di Liga 1, PSM tidak boleh mengabaikan peningkatan kualitas tim. Mereka harus lebih baik dari sebelumnya, terutama dalam hal strategi dan pengelolaan pemain.

Perlu Evaluasi Serius

Pengamat sepak bola, Syamsuddin Umar, menilai bahwa PSM seharusnya tidak berada di posisi ini. Menurutnya, PSM lebih layak berada di papan atas dibanding saat ini.

“Dari dulu PSM itu tempatnya di papan atas, bersaing untuk juara, bukan berjuang agar selamat dari zona degradasi,” ujarnya.

Pemain dan Pelatih Asing Jadi Sorotan

Untuk memperbaiki performa, PSM perlu menghadirkan pemain yang sesuai dengan kebutuhan tim. Para legiun asing juga harus memberi dampak yang lebih signifikan. Pembelian pemain asing mesti dilakukan secara selektif, bukan sekadar memenuhi kuota. Pelatih dan manajemen harus memperhatikan kebutuhan tim agar PSM tidak hanya dihuni oleh pemain bintang, tapi juga pemain yang bisa memberi kontribusi positif.

“Bagaimana karakter PSM bisa terlihat di dalam lapangan, jadi bukan menghadirkan pemain yang cuma sekadar menggugurkan kewajiban,” jelasnya.

Masalah di Awal Musim

Sejak awal musim, PSM sudah menghadapi sanksi banned transfer pemain. Bahkan, pemain asing yang baru hanya bisa terlibat dalam pertandingan pada pekan keempat kompetisi. Hal ini memengaruhi performa tim sejak awal.

Selain itu, banned kembali terjadi di paruh musim. Akibatnya, pelatih mereka saat itu, Bernardo Tavares, harus mengundurkan diri karena persoalan gaji yang tidak dipenuhi. Ini dianggap sebagai sikap tidak konsisten dari manajemen terhadap komitmen yang sudah dibangun.

Manajemen kemudian mendatangkan Tomas Trucha. Ia sempat memberi harapan setelah menang beruntun pada tiga pertandingan awal, namun setelah itu performa mulai tidak konsisten. Akhirnya, Trucha menghilang entah ke mana, dan Ahmad Amiruddin ditunjuk sebagai karateker. Dialah yang bekerja keras menyelamatkan PSM dari zona degradasi.

Reaksi Suporter

Salah satu suporter PSM Makassar, Sulyadi Abbas, menyampaikan bahwa sudah waktunya PSM untuk berbenah. Bahkan dua laga terakhir pun patut diperjuangkan agar mereka bisa finish di peringkat yang lebih baik.

“Memang sudah harus berbenah, harus evaluasi, harus lebih baik. Semua yang kurang harus dibenahi, agar bisa menjadi lebih baik. Termasuk dua pertandingan terakhir nanti,” terangnya.

Anggota Komunitas VIP Utara (KVU) itu juga berharap, PSM musim depan menjadi jauh lebih agresif. Bahkan kembali bersaing di papan atas klasemen hingga akhir musim.

“Suporter tentu sangat mengharapkan PSM berbenah. Musim depan harus bisa bersaing dalam perebutan gelar juara, harus berjuang bisa mendapatkan jatah kompetisi Asia lagi, bukan berjuang agar tidak degradasi,” harapnya.

Pos terkait