Mamuju, Sulawesi Barat, Teridentifikasi Memiliki Tingkat Radiasi Alam Sembilan Kali Lipat di Atas Rata-Rata Global
Mamuju, Sulawesi Barat, kini menjadi sorotan dunia ilmiah setelah sebuah laporan terbaru mengungkapkan tingkat paparan radiasi alam di wilayah tersebut hampir sembilan kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Temuan ini tercantum dalam UNSCEAR 2024 Report–Annex B, bagian dari publikasi terbaru Komite Ilmiah PBB tentang Efek Radiasi Atom (United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation – UNSCEAR), yang dirilis pada 12 Februari 2026. Laporan ini secara komprehensif mengevaluasi paparan radiasi pengion terhadap masyarakat di seluruh penjuru dunia.
Klasifikasi Mamuju sebagai Wilayah Radiasi Latar Belakang Tinggi
Nur Rahmah Hidayati, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang juga merupakan perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR, menjelaskan bahwa Mamuju diklasifikasikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA), atau wilayah dengan radiasi latar belakang yang tinggi. Estimasi dosis efektif tahunan dari sumber radiasi alam di Mamuju mencapai angka mencengangkan, yaitu sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun.
Sebagai perbandingan, rata-rata dosis efektif tahunan dari radiasi alam secara global diperkirakan hanya berkisar pada angka 3,0 mSv per tahun. “Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia,” ujar Nur Rahmah dalam keterangan tertulisnya pada Selasa, 3 Maret 2026.
Penyebab Tingginya Tingkat Radiasi di Mamuju
Nur Rahmah merinci bahwa tingginya paparan radiasi di Mamuju utamanya disebabkan oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat tinggi di dalam tanah. Di beberapa lokasi di Mamuju, konsentrasi isotop Uranium-238 (²³⁸U) dan Thorium-232 (²³²Th) dilaporkan berada pada kisaran ratusan hingga lebih dari 1.000 Bq/kg. Angka ini jauh melampaui rata-rata global yang masing-masing berkisar sekitar 33 Bq/kg untuk ²³⁸U dan 45 Bq/kg untuk ²³²Th.
Selain itu, konsentrasi gas radon di luar ruangan di Mamuju juga tergolong sangat tinggi, berkisar antara 22 hingga 760 Bq/m³, dengan rata-rata sekitar 290 Bq/m³. “Angka ini tergolong sangat tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap dosis radiasi yang diterima masyarakat setempat,” tegas Nur Rahmah.
Meskipun demikian, ia menambahkan bahwa gaya bangunan dan kebiasaan hidup masyarakat lokal secara tidak langsung membantu mencegah akumulasi radon yang lebih tinggi di dalam rumah. Faktor seperti ventilasi alami yang baik dan struktur bangunan tradisional diyakini menjadi alasan mengapa konsentrasi radon di dalam ruangan tidak meningkat secara drastis dibandingkan dengan lingkungan luar.
Signifikansi Ilmiah Wilayah Radiasi Alami Tinggi
Keberadaan wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju memiliki nilai ilmiah yang penting. Nur Rahmah menjelaskan bahwa wilayah ini dapat menjadi lokasi penelitian yang ideal untuk memahami dampak paparan radiasi rendah dalam jangka panjang terhadap kesehatan manusia. Studi di area seperti ini dapat memberikan wawasan berharga mengenai mekanisme adaptasi tubuh manusia terhadap paparan radiasi kronis.
Sumber Radiasi Alami: Kontributor Terbesar Paparan Publik
Laporan UNSCEAR menegaskan kembali bahwa secara global, sumber radiasi alami tetap menjadi kontributor utama terhadap paparan radiasi yang diterima oleh publik. Paparan dari sumber buatan, di sisi lain, umumnya jauh lebih rendah, kecuali dalam situasi luar biasa seperti kecelakaan radiologi berskala besar.
Heru Prasetio, Kepala Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir BRIN, menekankan bahwa variasi radiasi alam di berbagai belahan dunia adalah fenomena geologis alami yang unik. Rata-rata paparan radiasi alam global, sekitar 3 mSv per tahun, sebagian besar berasal dari inhalasi gas radon dan partikel hasil peluruhannya.
“Temuan ini memperlihatkan bahwa Indonesia, melalui BRIN, turut berkontribusi dalam pemutakhiran basis data global mengenai paparan radiasi alam melalui studi di Mamuju. Hal ini sekaligus memperkaya pemahaman internasional tentang variasi radiasi latar belakang di dunia,” ujar Heru.
Peran UNSCEAR dan BRIN dalam Kajian Radiasi Global
UNSCEAR, sebagai komite ilmiah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang telah berdiri sejak 1955, memiliki mandat untuk menilai tingkat dan dampak paparan radiasi pengion terhadap kesehatan manusia dan lingkungan secara global.
Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) yang berada di bawah Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, memiliki tugas dan fungsi krusial dalam melakukan riset terkait keselamatan dan kajian efek radiasi di Indonesia. Publikasi laporan ini menunjukkan peran aktif para peneliti Indonesia, khususnya dari PRTKMMN, yang hasil penelitiannya diakui secara internasional dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang proteksi radiasi.
Isi Lengkap UNSCEAR 2024 Report Volume II
UNSCEAR 2024 Report Volume II, khususnya Scientific Annex B: Evaluation of Public Exposure to Ionizing Radiation, merupakan lampiran ilmiah kedua yang menjadi landasan laporan UNSCEAR kepada Majelis Umum PBB. Annex B ini menyajikan penilaian global yang paling komprehensif hingga saat ini mengenai dosis radiasi yang diterima masyarakat dari berbagai sumber, baik alam maupun buatan.
Evaluasi ini disusun berdasarkan data survei global UNSCEAR serta tinjauan literatur ilmiah yang mencakup periode 2007–2022. Analisisnya meliputi:
Paparan dari Sumber Alami:
- Radon dan thoron beserta produk peluruhannya.
- Radionuklida terestrial yang terkandung dalam tanah dan material bangunan.
- Radiasi kosmik.
- Paparan dari industri yang menggunakan Naturally Occurring Radioactive Material (NORM).
Paparan dari Sumber Buatan:
- Lepasan radioaktif dari fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir dan siklus bahan bakarnya.
- Penggunaan radionuklida untuk aplikasi non-energi.
- Situs legasi militer maupun sipil yang terkontaminasi radioaktif.
- Dampak kecelakaan radiologi di masa lalu.
- Paparan radiasi selama transportasi bahan radioaktif.
Tim Peneliti di Balik Kontribusi Indonesia
Heru Prasetio menyampaikan apresiasinya kepada tim peneliti yang bertugas di lapangan di Mamuju. Tim ini terdiri dari Dr. Eka Djatnika Nugraha, S.Si (Peneliti Ahli Madya PRTKMMN dan National Contact Point Indonesia untuk UNSCEAR tentang Public Exposure), Ir. Untara, Dr. Dadong Iskandar, dan Wahyudi. Kontribusi mereka dalam pengumpulan data dan publikasi sangat krusial bagi laporan UNSCEAR.
Tim ini berperan aktif dalam melakukan pemetaan dosis radiasi, pengukuran konsentrasi radon, serta pengambilan sampel tanah di sejumlah titik HNBRA yang menjadi fokus evaluasi UNSCEAR. “Data riset dari Mamuju menjadi komponen penting dalam pemutakhiran basis data global paparan radiasi alam, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam kajian internasional tentang variasi radiasi latar belakang di berbagai belahan dunia,” pungkas Heru.





