Rahasia Eri Cahyadi: Kelola 1.800 Ton Sampah Surabaya, Raih Pujian Menteri LHK

Surabaya: Kota Percontohan Pengelolaan Lingkungan yang Diakui Tingkat Nasional

Pemerintah Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional berkat komitmennya yang kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pengelolaan sampah yang efektif dan efisien di Kota Pahlawan ini bahkan mendapatkan apresiasi langsung dari Menteri Lingkungan Hidup (LH) dan Kepala BPLH RI, Hanif Faisol Nurofiq. Ia secara tegas memuji bahwa standar pengelolaan sampah di Surabaya sudah setara dengan kota-kota metropolitan terkemuka di dunia.

Pujian ini disampaikan langsung oleh Hanif Faisol Nurofiq saat ia turut serta dalam kegiatan kerja bakti massal yang diselenggarakan di sepanjang Sungai Kalimas, bersama ribuan warga Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, ia menggarisbawahi keberhasilan kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi dalam menanamkan budaya bersih yang bukan sekadar retorika, melainkan telah menjelma menjadi tindakan nyata yang mengakar di masyarakat.

“Wali Kota Surabaya, Bapak Eri Cahyadi, adalah salah satu kepala daerah yang menunjukkan kinerja luar biasa dalam urusan lingkungan. Kami sangat mengapresiasi upaya yang telah dilakukan,” ujar Hanif Faisol Nurofiq di sela-sela kunjungannya di Surabaya pada Jumat, 6 Maret 2026.

Pengelolaan 1.800 Ton Sampah Harian dengan Sistem Terpadu

Setiap harinya, Kota Surabaya menghasilkan timbulan sampah yang cukup signifikan, yaitu sekitar 1.800 ton. Namun, Hanif Faisol Nurofiq menyatakan kekagumannya atas bagaimana Surabaya berhasil mengelola volume sampah tersebut. Sebagian besar sampah tidak langsung dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), melainkan diolah melalui sistem yang terintegrasi dari tahap awal hingga akhir.

Salah satu pilar utama kesuksesan ini adalah program pemilahan sampah yang dimulai sejak dari tingkat rumah tangga. Menurut pandangan Hanif Faisol Nurofiq, Surabaya telah berhasil mentransformasi pola pikir masyarakat. Sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan telah diubah menjadi sumber daya berharga yang dapat dimanfaatkan untuk ekonomi dan energi.

“Surabaya menunjukkan konsistensi yang patut dicontoh dalam menjalankan program pengolahan sampah menjadi listrik, seperti yang dilakukan di Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo. Ini adalah wujud nyata dari konsep keberlanjutan,” tambahnya. Lebih lanjut, pemerintah pusat dikabarkan berencana memberikan dukungan untuk pembangunan fasilitas tambahan. Tujuannya adalah untuk memproses sisa 800 ton sampah yang belum tertangani sepenuhnya menjadi sumber energi listrik kedua, sehingga pengelolaan sampah di Surabaya semakin optimal.

Langit Tetap Biru di Tengah Geliat Aktivitas Ekonomi

Selain isu pengelolaan sampah, kualitas udara di Surabaya juga menjadi perhatian khusus Menteri Lingkungan Hidup. Meskipun Surabaya merupakan kota industri yang padat aktivitas dan salah satu pusat ekonomi nasional, kota ini dinilai berhasil dalam mengendalikan emisi gas buang.

“Kita masih bisa menyaksikan langit biru yang cerah membentang di Surabaya. Ini adalah bukti nyata bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat tidak harus berbanding lurus dengan kerusakan lingkungan, asalkan ada upaya pengendalian emisi yang baik,” tegas Hanif Faisol Nurofiq. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Gerakan Massal Warga Surabaya: Kunci Keberhasilan yang Sesungguhnya

Menanggapi pujian dan apresiasi yang diberikan, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menekankan bahwa prestasi ini merupakan buah kerja keras dan partisipasi aktif seluruh warga Surabaya. Sebagai contoh nyata, dalam kegiatan kerja bakti di sepanjang Sungai Kalimas, tercatat sebanyak 7.269 partisipan yang terlibat. Mereka bergerak bersama mulai dari kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) hingga Kampung Gemblongan, menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa.

Eri Cahyadi, yang akrab disapa Cak Eri, berkomitmen untuk terus mempertahankan momentum positif ini. Ia berencana untuk mengadakan gerakan kerja bakti secara rutin setiap hari Jumat di berbagai penjuru kota. Tujuannya adalah untuk terus membudayakan kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan di kalangan masyarakat.

“Kami bertekad untuk mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar ‘kumpul–angkut–buang’ menjadi fokus pada pengurangan sampah dari sumbernya. Jika ada warga yang masih membandel dan membuang sampah sembarangan, akan ada sanksi sosial yang diterapkan. Kota ini adalah milik kita bersama, dan sudah sepatutnya kita menjaganya sendiri,” pungkas Eri Cahyadi, menegaskan kembali komitmennya dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan Kota Surabaya.

Pos terkait