Penemuan Bagian Utama Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung: Upaya Evakuasi di Tengah Medan Sulit
Tim SAR gabungan telah berhasil mengidentifikasi dan menemukan bagian utama dari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak. Penemuan signifikan ini terjadi di lereng selatan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, memberikan titik terang dalam operasi pencarian yang kompleks.
Kronologi Penemuan dan Perkembangan Operasi
Menurut informasi terbaru, badan pesawat beserta ekornya berhasil diidentifikasi pada Minggu pagi, tepatnya sekitar pukul 07.49 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Lokasi penemuan berada di lereng bagian selatan puncak gunung, sebuah perkembangan krusial yang dikonfirmasi oleh Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan.
“Pada pukul 07.49 penemuan badan pesawat dan ekor pesawat di lereng bagian selatan, kalau dari puncak bagian utaranya,” ujar Andi Sultan kepada awak media di posko Balocci, Kabupaten Pangkep.
Menyusul penemuan ini, Basarnas segera mengambil langkah cepat dengan mengerahkan Tim AJU (Advanced Joint Unit) menuju lokasi untuk memulai proses evakuasi bagian-bagian pesawat yang ditemukan. Prioritas utama adalah mengamankan temuan terbesar ini.
“Serpihan terbesar, kami memberangkatkan dari tim AJU berangkat duluan untuk menuju ke badan pesawat tersebut,” jelas Andi Sultan lebih lanjut.
Tantangan Evakuasi: Medan Terjal dan Cuaca Berkabut
Perjalanan menuju lokasi penemuan ternyata tidaklah mudah. Medan di lereng Gunung Bulusaraung dikenal sangat terjal, menghadirkan tantangan tersendiri bagi tim SAR. Tim gabungan harus melakukan perhitungan matang terkait aspek keselamatan sebelum memutuskan strategi evakuasi.
“Akses untuk turun ke badan pesawat ini cukup terjal, maka dari itu kita harus menghitung safety-nya dulu. Tetapi sudah ada, dan kendala saat ini masih berkabut,” ungkap Andi Sultan, menggambarkan kompleksitas situasi di lapangan.
Kondisi cuaca yang berkabut menambah lapisan kesulitan dalam operasi ini, membatasi jarak pandang dan memperlambat pergerakan tim.
Bukti Tambahan dan Konfirmasi Lokasi Jatuh
Selain badan dan ekor pesawat, tim SAR juga menemukan serpihan-serpihan kecil lainnya di sekitar lokasi penemuan. Salah satu temuan yang cukup signifikan adalah serpihan jendela pesawat. Serpihan ini terdeteksi di titik koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur.
Keberadaan serpihan jendela ini semakin memperkuat dugaan bahwa lokasi utama jatuhnya pesawat ATR 42-500 memang berada di kawasan Gunung Bulusaraung. “Dari kru heli, telah terlihat serpihan window pesawat yang kecil,” kata Andi Sultan.
Strategi Jalur Evakuasi
Mengenai jalur evakuasi, tim SAR telah merencanakan pendekatan yang paling aman dan efektif. Meskipun terdapat jalur yang lebih dekat, namun tingkat kecuraman yang ekstrem membuat pilihan tersebut dinilai berisiko. Oleh karena itu, tim memutuskan untuk menggunakan jalur pendakian yang dinilai lebih memungkinkan.
“Kami merencanakan jalur evakuasinya tetap menggunakan jalur pendakian karena akarnya itu yang mudah dijalankan. Ada yang dekat tapi terjal, makanya kita mengambil safety,” jelas Andi Sultan.
Dalam upaya evakuasi ini, sekitar 500 personel dari tim SAR gabungan dikerahkan untuk membantu kelancaran proses. Kolaborasi berbagai elemen ini menjadi kunci keberhasilan operasi pencarian dan evakuasi di medan yang sangat menantang ini. Perkembangan lebih lanjut dari operasi ini akan terus dipantau.






