Reza Pahlavi: Iran di Ambang Kehancuran

Akhir Rezim Republik Islam Iran: Seruan Putra Mahkota Terakhir

Kabar mengenai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah memicu gelombang reaksi dan pernyataan dari berbagai pihak, tak terkecuali dari kalangan oposisi. Salah satu suara yang paling vokal datang dari Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran, yang mengeluarkan pernyataan tegas dan penuh keyakinan mengenai masa depan negaranya. Dalam pesannya, Pahlavi menyatakan bahwa Republik Islam Iran tengah berada di ambang keruntuhan dan menyerukan agar para pejabat yang tersisa segera menyerah kepada rakyat Iran.

Metafora Tiran dan Ambisi Penggulingan Rezim

Pahlavi memulai pernyataannya dengan menggunakan metafora yang kuat, menyamakan Ali Khamenei dengan ‘Zahhak di zaman kita’. Zahhak adalah figur tiran dalam mitologi Persia yang digambarkan memiliki dua ular di pundaknya, melambangkan kejahatan dan kekuasaan yang menindas. “Ali Khamenei, Zahhak di zaman kita, makhluk jahat yang beberapa minggu lalu memerintahkan pembantaian puluhan ribu anak terbaik Iran, telah tiada,” tulis Pahlavi, merujuk pada generasi muda yang memimpin gelombang protes ‘Woman, Life, Freedom’ dan demonstrasi lainnya yang dilaporkan dihadapi dengan represif oleh aparat negara.

Lebih lanjut, Pahlavi menegaskan bahwa dengan ‘kematian memalukan’ Khamenei, ditambah dengan kepergian sejumlah pejabat dan afiliasinya, sistem yang telah berdiri sejak Revolusi 1979 itu kini berada di titik nadir. Ia yakin bahwa pemerintahan ini akan segera tersingkir dari sejarah. “Pemerintahan ini akan dikirim ke tempat sampah sejarah oleh kehendak dan keberanian rakyat Iran,” ujarnya dengan tegas. Tujuan utama gerakan yang dipimpinnya pun diungkapkan secara gamblang: penggulingan total Republik Islam. “Bangsa besar Iran menginginkan kejatuhan total Republik Islam. Dan kita akan menggulingkan rezim jahat ini,” tegasnya.

Seruan kepada Pejabat dan Struktur Kekuasaan

Pesan Pahlavi tidak hanya ditujukan kepada Khamenei, tetapi juga kepada para pejabat yang masih bertahan dalam struktur kekuasaan Republik Islam. Ia mendesak mereka untuk segera beralih pihak. “Setiap upaya sisa-sisa rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei akan gagal sejak awal. Siapa pun yang mereka dudukkan di posisinya bukan hanya tidak memiliki legitimasi, tetapi juga menjadi mitra dalam kejahatan rezim ini,” katanya.

Ia menyerukan agar para pejabat tersebut menyatakan kesetiaan pada program dan sistem transisi yang ia usulkan, yang disebut sebagai Samaneh-ye Gozar, dan menyerahkan pemerintahan secara damai tanpa pertumpahan darah lebih lanjut. Sistem transisi ini digambarkan sebagai sebuah peta jalan menuju pemerintahan yang demokratis dan sekuler, sebagai alternatif dari teokrasi yang berkuasa saat ini.

Pernyataan Pahlavi juga secara implisit menantang peran Majelis Ahli, sebuah lembaga konstitusional yang memiliki wewenang untuk memilih pemimpin tertinggi baru. Ia mengisyaratkan bahwa era konsep Wilayat al-Faqih atau ‘Kepemimpinan Ulama’ telah berakhir dan tidak akan lagi diakui, baik oleh oposisi maupun komunitas internasional.

Pesan untuk Militer dan Aparat Keamanan

Selain elite politik, Pahlavi juga menyampaikan pesan kepada unsur militer, penegak hukum, dan aparat keamanan. Ia mengingatkan mereka tentang tanggung jawab mereka kepada bangsa. “Senjata kalian harus untuk membela bangsa besar Iran, bukan untuk Republik Kejahatan dan para preman anti-Iran,” tegasnya.

Ia mengajak mereka untuk bergabung dengan rakyat dan mendukung apa yang disebutnya sebagai ‘Revolusi Singa dan Matahari’, serta menggunakan senjata mereka untuk melindungi warga sipil dari ‘tentara bayaran rezim Republik Islam’. Ajakan ini bertujuan untuk memecah belah loyalitas aparat dan mengalihkan dukungan mereka kepada gerakan rakyat.

Kemenangan yang Ditunggu dan Peran Diaspora

Pahlavi memandang kematian Khamenei sebagai sebuah “penghibur bagi hati keluarga para korban”. Ia mengakui bahwa kematian tersebut tidak dapat mengembalikan nyawa yang telah hilang, namun dapat memberikan ketenangan bagi keluarga mereka yang telah berkorban demi perubahan. “Kematian kriminal Khamenei, meski tidak mengembalikan darah yang tertumpah, dapat memberi ketenangan bagi keluarga bangga mereka yang mengorbankan nyawa demi Revolusi Singa dan Matahari Iran,” ucapnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa momen ini bukanlah akhir dari perjuangan. “Kematian Zahhak di zaman kita, meski menjadi awal perayaan nasional besar kita, bukanlah akhir jalan. Waspadalah. Bersiaplah,” serunya, sembari menekankan bahwa waktu untuk aksi besar dan menentukan di jalanan semakin dekat.

Dalam bagian akhir pesannya, Pahlavi tidak lupa mengimbau diaspora Iran di seluruh dunia untuk meningkatkan upaya mereka. Ia meminta mereka untuk terus menyuarakan dukungan rakyat Iran terhadap intervensi kemanusiaan dan tuntutan kejatuhan total rezim. Pesan Pahlavi ditutup dengan optimisme dan keyakinan yang kuat terhadap masa depan Iran. “Hari-hari kritis ada di depan kita. Bersama, kita akan menapaki jalan menuju kemenangan. Dan kita akan menggulingkan sistem Republik Islam,” pungkasnya.

Pos terkait