Riset PwC 2025: Produktivitas AI Generatif Melonjak 96% di Indonesia

Peningkatan Produktivitas Signifikan Berkat AI Generatif di Indonesia, Perusahaan Dituntut Beradaptasi

Indonesia mencatat angka positif dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) generatif atau GenAI di dunia kerja. Berdasarkan laporan riset terbaru, mayoritas pengguna harian GenAI di tanah air melaporkan peningkatan produktivitas yang substansial. Riset yang bertajuk PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 ini juga mengungkap bahwa penggunaan GenAI sehari-hari tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memberikan rasa aman yang lebih besar bagi para pekerja, bahkan berdampak pada kenaikan gaji.

Temuan kunci dari survei ini menunjukkan bahwa 96% pengguna harian AI generatif di Indonesia menyatakan adanya peningkatan produktivitas. Angka ini mengindikasikan bahwa teknologi ini telah mampu diintegrasikan secara efektif ke dalam alur kerja sehari-hari, membantu karyawan menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan efisien. Lebih lanjut, 82% pengguna harian GenAI di Indonesia merasa pekerjaan mereka menjadi lebih aman berkat bantuan teknologi ini, sementara 72% lainnya melaporkan adanya kenaikan gaji sebagai imbalan atas peningkatan kinerja dan adopsi teknologi.

Strategi Kunci untuk Memaksimalkan Manfaat GenAI

Meskipun hasil yang dicapai sangat menjanjikan, para pemimpin industri menekankan bahwa perusahaan perlu melangkah lebih jauh dari sekadar menyediakan pelatihan dasar mengenai GenAI. Pete Brown, PwC Global Workforce Leader, menyoroti bahwa keberhasilan jangka panjang dalam memanfaatkan GenAI bergantung pada pembaruan fundamental dalam cara kerja dan definisi ulang kolaborasi antara manusia dan mesin.

“Untuk benar-benar memperluas manfaat GenAI ini, perusahaan perlu melakukan lebih dari sekadar memberi pelatihan,” ujar Pete Brown. “Cara kerja perlu diperbarui, serta cara manusia bekerja bersama mesin juga harus didefinisikan ulang. Keberhasilan langkah ini akan menentukan apakah GenAI bisa menjadi motor pertumbuhan dan inklusi, atau malah menjadi peluang yang hilang.”

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa adopsi teknologi saja tidak cukup. Perusahaan harus proaktif dalam merestrukturisasi proses bisnis, mendefinisikan ulang peran karyawan, dan membangun kerangka kerja yang memungkinkan sinergi optimal antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan.

Tingkat Adopsi AI dan Antisipasi Perubahan di Masa Depan

Survei yang melibatkan 812 responden dari Indonesia ini juga mengungkapkan tingkat adopsi AI yang cukup tinggi di kalangan pekerja. Sebanyak 69% pekerja menyatakan telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka selama setahun terakhir. Namun, frekuensi penggunaan harian untuk GenAI sendiri menunjukkan angka yang lebih moderat, dengan hanya 16% pekerja yang menggunakannya setiap hari, dan 8% yang secara rutin memanfaatkan agentic AI (AI agen).

Di sisi lain, para pekerja Indonesia juga sangat menyadari dampak perubahan regulasi dan teknologi terhadap masa depan dunia kerja. Lita Dewi, PwC Indonesia Workforce Transformation Leader, menambahkan bahwa hampir separuh dari pekerja yang disurvei (49%) memperkirakan perubahan regulasi akan memiliki dampak besar. Sementara itu, 45% memprediksi transformasi teknologi akan sangat memengaruhi pekerjaan mereka, dengan angka ini melonjak hingga 74% di kalangan pengguna harian GenAI.

  • Prediksi Dampak Perubahan:
    • Perubahan Regulasi: 49% pekerja memprediksi dampak besar.
    • Transformasi Teknologi: 45% pekerja memprediksi dampak besar.
    • Transformasi Teknologi (Pengguna Harian GenAI): 74% memprediksi dampak besar.

“Ini menunjukkan bahwa mereka yang sudah mengadopsi AI cenderung lebih siap menghadapi perubahan ke depan,” papar Lita Dewi. “Sementara itu, 44% pekerja juga percaya bahwa konflik geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan akan memengaruhi pekerjaan mereka dalam tiga tahun mendatang.”

Investasi dalam Peningkatan Keterampilan dan Membangun Budaya Kerja Inklusif

Menanggapi dinamika ini, banyak perusahaan di Indonesia mulai berinvestasi dalam meningkatkan keterampilan karyawannya. Data survei menunjukkan bahwa 64% pekerja non-manajer memiliki akses terhadap sumber daya pembelajaran yang dibutuhkan. Angka ini meningkat signifikan di kalangan manajer (78%) dan eksekutif senior (89%).

Lita Dewi menekankan bahwa para pemimpin perusahaan saat ini memiliki peluang emas untuk membentuk organisasi yang tidak hanya memenuhi, tetapi melampaui ekspektasi tenaga kerja. Hal ini dapat dicapai dengan memaksimalkan potensi transformasi AI untuk mempersiapkan masa depan.

“Perjalanan ini dimulai dengan menutup kesenjangan kekuatan AI. Ini membutuhkan strategi tenaga kerja yang jelas, kemampuan yang tepat, dan pembaruan mendasar pada struktur organisasi serta cara kerja,” jelasnya.

Perusahaan juga didorong untuk memperluas mobilitas karier. Hal ini dapat diwujudkan dengan membangun jalur karier yang lebih transparan dan dinamis, memfasilitasi perpindahan antar peran, tingkatan, maupun lokasi kerja. Selain itu, menanamkan budaya belajar jangka panjang pada pekerja menjadi krusial.

Lebih lanjut, menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis adalah kunci. Dengan membangun budaya kerja yang inklusif dan suportif, organisasi dapat membuka potensi penuh dari para pekerjanya, mendorong inovasi berkelanjutan, dan memastikan kesiapan dalam menghadapi era AI yang terus berkembang.

Pos terkait