Rupiah Anjlok ke 17.000, BI Turun Tangan

Menghadapi ketegangan geopolitik global yang berpotensi memicu gejolak di pasar keuangan internasional, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Pelemahan Rupiah yang sempat terjadi mendekati angka 17.000 per Dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi hari ini, Rabu (4/3), menjadi perhatian serius otoritas moneter.

Strategi BI dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam sebuah pernyataan resmi pada Rabu (4/3), memaparkan serangkaian langkah strategis yang akan terus dilakukan oleh Bank Indonesia. “Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan,” ujar Destry, menjelaskan bahwa intervensi ini akan mencakup berbagai instrumen.

  • Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di Pasar Offshore: Langkah ini bertujuan untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar di pasar internasional, di mana transaksi derivatif mata uang dilakukan.
  • Transaksi Spot di Pasar Domestik: BI akan aktif di pasar spot domestik untuk melakukan pembelian atau penjualan Dolar AS guna menstabilkan nilai tukar Rupiah.
  • Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF): Instrumen ini juga akan digunakan di pasar domestik untuk memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan nilai tukar.
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di Pasar Sekunder: Selain intervensi langsung pada pasar valuta asing, BI juga akan melakukan pembelian SBN di pasar sekunder. Tindakan ini dapat membantu menyerap likuiditas dan memberikan sinyal positif kepada pasar mengenai kesehatan ekonomi domestik.

Destry Damayanti memastikan bahwa Bank Indonesia akan senantiasa hadir di pasar keuangan. Keberadaan BI secara konsisten diharapkan dapat memastikan bahwa nilai tukar Rupiah tetap terjaga dan tidak bergerak terlalu jauh dari fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

Dinamika Pergerakan Rupiah

Pada pembukaan perdagangan hari ini, Rupiah tercatat melemah sebanyak 59 poin, dibuka pada level 16.931 per Dolar AS. Namun, seiring berjalannya waktu, Rupiah menunjukkan tren penguatan yang perlahan. Hingga pukul 10.00 WIB, Rupiah berhasil bergerak menguat dari posisi pembukaannya ke level 16.899 per Dolar AS.

Pergerakan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, Rupiah ditutup pada level Rp 16.872 per Dolar Amerika Serikat. Pelemahan pada hari sebelumnya tercatat tipis, hanya sebesar 0,02% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 16.868 per Dolar AS. Pembukaan perdagangan hari ini yang melemah kemudian menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap perkembangan global.

Analisis Pelemahan dan Ketahanan Ekonomi

Meskipun terjadi pelemahan, Destry Damayanti menilai bahwa performa Rupiah sejauh ini masih tergolong baik jika dibandingkan dengan pergerakan mata uang regional lainnya. Sepanjang bulan ini, mata uang regional tercatat mengalami pelemahan rata-rata sebesar 0,51%. Hal ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih kuat dalam menghadapi tekanan global.

Lebih lanjut, Destry juga menyoroti ketahanan perekonomian Indonesia yang tercermin dari posisi cadangan devisa. Hingga akhir Januari 2026, cadangan devisa Indonesia dilaporkan tetap terjaga pada level yang sehat, yaitu sebesar US$ 154,6 miliar. Angka ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Selain itu, arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik selama tahun 2026 juga menunjukkan tren positif, tercatat mencapai Rp 25,7 triliun. Arus masuk modal asing ini merupakan indikator kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan berkontribusi dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Dengan berbagai instrumen yang disiapkan dan fundamental ekonomi yang kuat, Bank Indonesia optimis dapat menavigasi gejolak pasar keuangan global dan menjaga stabilitas Rupiah demi kesehatan ekonomi nasional.

Pos terkait